Daerah

Dua Pejabat Larut dalam Nostalgia, Ali Kikuk Tarik Benang, Danang 20 Tahun Tak Main Layangan

19
×

Dua Pejabat Larut dalam Nostalgia, Ali Kikuk Tarik Benang, Danang 20 Tahun Tak Main Layangan

Share this article
Dua Pejabat Larut dalam Nostalgia, Ali Kikuk Tarik Benang, Danang 20 Tahun Tak Main Layangan
Wakil Wali Kota Malang, Ali Muthohirin saat menikmati permainan layang-layang dalam ajang Malang Solidarity Sky Fest (MSSF) 2026 di Lapangan Layang-Layang Gadang Gang 12B, Kelurahan Gadang, Kecamatan Sukun, Kota Malang. Ali tampak antusias kembali mencoba permainan masa kecilnya.(foto:sudutkota.id/Andik Agus Demit)

Sudutkota.id – Ada pemandangan tak biasa di tengah kesibukan Malang Solidarity Sky Fest (MSSF) 2026. Dua pejabat Kota Malang, Wakil Wali Kota Malang, Ali Muthohirin dan Kapolresta Malang Kota Kombes Pol Danang Setiyo Pambudi Sukarno, sejenak meninggalkan rutinitasnya dan kembali menikmati permainan masa kecil: layang-layang.

Momen itu berlangsung di Lapangan Layang-Layang Gadang Gang 12B, Kelurahan Gadang, Kecamatan Sukun, Kota Malang, Minggu (9/8/2026). Bukan rapat, bukan seremoni pemerintahan, keduanya justru terlihat memegang benang layangan dan menikmati suasana festival.

Ali tampak paling menikmati momen tersebut. Sambil tertawa riang, ia mencoba menerbangkan layang-layang. Namun, setelah lama tidak memainkan permainan itu, gerakannya sempat terlihat kikuk ketika menarik dan mengatur benang.

Permainan sederhana tersebut rupanya membawa Ali kembali ke masa sekolah dasar. Ia mengaku sudah lama tidak bermain layang-layang dan baru kembali merasakan sensasi permainan tersebut setelah dirinya menjabat sebagai Wakil Wali Kota Malang.

Dua Pejabat Larut dalam Nostalgia, Ali Kikuk Tarik Benang, Danang 20 Tahun Tak Main Layangan
Wakil Wali Kota Malang, Ali Muthohirin bersama Kapolresta Malang Kota Kombes Pol Danang Setiyo Pambudi Sukarno saat bermain layang-layang dalam ajang Malang Solidarity Sky Fest (MSSF) 2026 di Lapangan Layang-Layang Gadang Gang 12B, Kelurahan Gadang, Kecamatan Sukun, Kota Malang.(foto:sudutkota.id/Andik Agus Demit)

Di tengah tawa dan suasana santai itu, Ali melihat MSSF bukan hanya sebagai festival permainan tradisional. Menurutnya, kegiatan tersebut memperlihatkan bahwa Kota Malang memiliki komunitas yang kreatif dan membutuhkan ruang untuk berekspresi.

“Bagus dan komplet. Malang asyik. Malang menjadi rumah kreativitas, terutama komunitas yang ada di Kota Malang. Kami sangat berterima kasih dan mendukung acara-acara kreatif seperti ini,” ujar Ali.

Menurut Ali, kegiatan kreatif berbasis komunitas seperti MSSF perlu terus diberikan dukungan. Bukan hanya untuk menjaga permainan tradisional, tetapi juga membuka ruang bagi generasi muda untuk berkegiatan secara positif.

MSSF 2026 akhirnya tidak hanya mempertemukan para pegiat layang-layang. Festival tersebut juga mempertemukan pejabat, komunitas, masyarakat dan generasi muda dalam suasana yang jauh lebih cair.

Ali yang sehari-hari berkutat dengan agenda pemerintahan, kembali merasakan permainan masa SD. Danang yang mengaku lebih dari dua dekade tidak bermain layang-layang, kembali menikmati permainan tersebut.

Di situlah kekuatan MSSF. Layang-layang bukan sekadar benda yang diterbangkan ke langit, tetapi menjadi medium untuk mempertemukan orang, menghidupkan komunitas dan mengingatkan bahwa kreativitas tidak mengenal batas usia.

Dari Lapangan Gadang, pesan yang muncul justru sederhana: di tengah kota yang terus bergerak maju, permainan masa kecil tetap bisa menjadi ruang untuk tertawa, bersilaturahmi dan membangun kreativitas.

Kini tantangannya tinggal bagaimana MSSF tidak berhenti sebagai nostalgia dua hari. Festival tersebut perlu terus dikembangkan agar mampu menjadi agenda kreatif khas Kota Malang yang memiliki dampak lebih luas bagi komunitas, generasi muda, UMKM dan pariwisata.

Kapolresta Malang Kota Kombes Pol Danang Setiyo Pambudi Sukarno mengungkapkan bahwa dirinya sudah lebih dari 20 tahun tidak bermain layang-layang.
MSSF 2026 pun menjadi semacam mesin waktu yang membawanya kembali ke masa kecil.

“Yang jelas mari kita hidup bahagia. Salah satunya dengan merefleksikan lagi, flashback lagi masa kecil dengan bermain layang-layang. Kayaknya sudah lebih dari 20 tahun,” ujar Danang.

Menurutnya, di tengah rutinitas dan kesibukan, kegiatan sederhana seperti bermain layang-layang bisa menjadi cara untuk kembali menikmati kebahagiaan yang pernah dirasakan saat kecil.

Danang pun memberikan apresiasi kepada panitia MSSF 2026. Ia berharap festival tersebut tidak berhenti pada satu penyelenggaraan, tetapi terus berkembang dan semakin ramai.

“Hari ini mengucapkan selamat kepada seluruh panitia, mudah-mudahan nanti di event-event berikutnya semakin baik, semakin sukses, semakin ramai, dan Kota Malang semakin mbois,” katanya.

Danang juga melihat MSSF memiliki peluang untuk dikembangkan lebih jauh. Menurutnya, festival layang-layang tidak harus hanya menonjolkan pertandingan dan ukuran layangan.

Kategori layang-layang hias, kata dia, dapat menjadi daya tarik tersendiri karena menggabungkan unsur seni, estetika dan kreativitas.

“Masih ada sebetulnya untuk layang-layang hias. Ini menarik sekali kalau dari segi estetika, dari segi seni dan kreativitasnya akan kelihatan,” ujarnya.

Ia menilai pelaksanaan tahun ini dapat menjadi pijakan awal. Ke depan, unsur kompetisi dan seni layang-layang bisa dikembangkan secara berimbang.

“Kalau hari ini kan lebih banyak besarnya. Ke depan, untuk ditingkatkan lagi. Saya kira ini awal, adu-aduannya ada, layang-layang hiasnya ada,” kata Danang.


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *