Daerah

Ginanjar Desak UB Tak Sekadar Jadi Menara Gading, Kampung Lingkar Kampus Harus Diberdayakan

14
×

Ginanjar Desak UB Tak Sekadar Jadi Menara Gading, Kampung Lingkar Kampus Harus Diberdayakan

Share this article
Ginanjar Desak UB Tak Sekadar Jadi Menara Gading, Kampung Lingkar Kampus Harus Diberdayakan
Anggota Komisi D DPRD Kota Malang, Ginanjar Yoni Wardoyo saat menghadiri kegiatan kolaborasi pelestarian budaya lokal di Gedung FISIP Universitas Brawijaya, Sabtu (7/11/2026).(Sudutkota.id/Agus Demit)

KOTA MALANG, Sudutkota.id – Keberadaan perguruan tinggi tidak semestinya hanya menjadi pusat pendidikan dan pengembangan ilmu pengetahuan. Kampus juga dituntut memiliki tanggung jawab sosial dengan memberikan kontribusi nyata bagi masyarakat di sekitarnya, termasuk menjaga budaya lokal dan mendorong pemberdayaan ekonomi warga.

Persoalan tersebut menjadi perhatian Anggota Komisi D DPRD Kota Malang, Ginanjar Yoni Wardoyo, S.T., M.T., dalam kegiatan bertema pelestarian budaya lokal yang digelar di Gedung Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Brawijaya (UB), lantai 7, Sabtu (7/11/2026).

Kegiatan tersebut melibatkan tiga Kapolres wilayah Malang Raya, mahasiswa, budayawan, warga sekitar kampus, staf ahli Pemerintah Kota Malang, serta berbagai elemen masyarakat.

Ginanjar yang juga menjabat Ketua Kwartir Cabang (Kwarcab) Pramuka Kota Malang itu menegaskan, pelestarian budaya harus menjadi bagian dari gerakan bersama. Menurutnya, budaya bukan sekadar warisan masa lalu, melainkan fondasi penting dalam membangun peradaban dan meningkatkan kualitas kehidupan masyarakat.

“Peradaban hanya bisa lahir dari masyarakat yang berbudaya. Masyarakat berbudaya itu bisa diciptakan karena ada komunikasi, dan komunikasi tersebut dibangun melalui bahasa serta nilai-nilai kearifan lokal,” tegas Ginanjar.

Ia menjelaskan, perguruan tinggi memiliki posisi strategis untuk menjembatani nilai-nilai kearifan lokal dengan kebutuhan pembangunan masyarakat. Karena itu, keterlibatan kampus tidak boleh terbatas pada aktivitas akademik, penelitian, maupun kegiatan di lingkungan internal perguruan tinggi.

Menurutnya, kampus harus mampu merangkul dan menggandeng berbagai elemen masyarakat agar tercipta kolaborasi yang inklusif dan berkelanjutan.

“Bahasa kearifan lokal ini yang ingin diterjemahkan oleh kampus UB, yakni dengan merangkul dan menggandeng elemen masyarakat. Harapannya, dari komunikasi dan kolaborasi tersebut bisa tercipta peradaban, termasuk bagaimana taraf kehidupan masyarakat sekitar kampus dapat meningkat,” ujarnya.

Ginanjar secara khusus mendorong penguatan program Kampung Lingkar Kampus sebagai salah satu bentuk konkret kontribusi perguruan tinggi terhadap masyarakat.

Program tersebut diharapkan tidak berhenti pada kegiatan seremonial atau pertemuan antarlembaga, tetapi diwujudkan melalui pemberdayaan usaha kecil menengah (UKM), pengembangan potensi wilayah, serta peningkatan kesejahteraan masyarakat sekitar kampus.

“Ke depan, saya pikir perlu ada penguatan lagi melalui program Kampung Lingkar Kampus. Di sana harus ada pemberdayaan UKM dan pemberdayaan pembangunan wilayah sekitar,” ungkapnya.

Ia menilai, hubungan antara perguruan tinggi dan masyarakat sekitar selama ini merupakan hubungan timbal balik. Kampus tumbuh dan berkembang dengan dukungan pemerintah serta lingkungan sosial di sekitarnya.

Karena itu, sudah semestinya keberhasilan perguruan tinggi juga memberikan dampak positif bagi masyarakat yang selama ini menjadi bagian dari lingkungan pertumbuhannya.

“Para alumni dan pelaku UB dulu telah diberikan banyak hal oleh kampus, diberikan banyak hal oleh pemerintah kota, dan diberikan banyak hal oleh kampung-kampung di sekitar wilayah kampus. Maka sudah saatnya sekarang UB memberikan sesuatu kepada lingkungan sekitar, termasuk secara lokal untuk Kota Malang,” tandasnya.

Lebih jauh, Ginanjar mengingatkan bahwa tanggung jawab sosial Universitas Brawijaya tidak hanya terbatas pada Kota Malang. Sebagai salah satu perguruan tinggi besar yang berada di kawasan Malang Raya, UB dinilai memiliki ruang kontribusi yang lebih luas, mencakup Kota Malang, Kabupaten Malang, hingga Kota Batu.

Menurutnya, sinergi lintas wilayah tersebut perlu diperkuat agar keberadaan perguruan tinggi mampu memberikan manfaat yang lebih luas, baik bagi masyarakat regional maupun nasional.

“Memang kalau bicara kegiatan ini lingkupnya nasional. Namun, di sini kita juga berbicara Malang Raya. Ketika UB ada di Malang Raya, sudah menjadi kewajiban untuk memberikan peran lebih jauh kepada Malang Raya, bahkan kepada bangsa Indonesia,” jelasnya.

Ia kembali menekankan pentingnya pendampingan terhadap masyarakat melalui program Kampung Lingkar Kampus. Kolaborasi tersebut harus memiliki arah dan keberlanjutan sehingga masyarakat tidak hanya menjadi objek kegiatan, tetapi ikut terlibat sebagai subjek pembangunan.

“Program Kampung Lingkar Kampus ini harus kita dorong. Kita mencoba mendampingi teman-teman agar program tersebut bisa lebih kuat lagi,” imbuhnya.

Selain pemberdayaan masyarakat, kegiatan tersebut juga menyoroti pentingnya menjaga identitas budaya lokal Malang di tengah perkembangan zaman.

Komitmen pelestarian budaya mencakup penghormatan terhadap tradisi, adat istiadat, bahasa, kesenian, serta berbagai bentuk kearifan lokal yang menjadi identitas masyarakat Malang.

Upaya tersebut tidak cukup hanya dengan mengenalkan budaya kepada generasi muda. Budaya harus dipelajari, dipraktikkan, dikembangkan, dan diwariskan agar tidak terputus oleh perubahan zaman.

Pemanfaatan teknologi, media digital, pendidikan, serta ruang kreativitas juga menjadi bagian penting dalam pengembangan budaya lokal secara kreatif dan inovatif.

Di sisi lain, masyarakat didorong tetap terbuka terhadap perkembangan zaman tanpa kehilangan jati diri dan kebanggaan terhadap budaya daerahnya sendiri.

Ginanjar menilai, pelestarian budaya dan pemberdayaan masyarakat harus berjalan beriringan. Sebab, budaya yang tetap hidup membutuhkan masyarakat yang memiliki ruang untuk berkembang, berkreasi, serta meningkatkan kesejahteraannya.

Karena itu, kolaborasi UB, pemerintah daerah, aparat keamanan, budayawan, mahasiswa, dan warga diharapkan tidak berhenti pada forum diskusi, tetapi diterjemahkan menjadi program nyata yang menyentuh kehidupan masyarakat.

“Budaya lokal Malang adalah identitas, warisan sekaligus masa depan. Mari rawat budaya Malang, jaga identitasnya, dan wariskan kepada generasi berikutnya,” pungkasnya.


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *