Sudutkota.id– Peran ibu rumah tangga dalam membentuk karakter dan kualitas generasi penerus bangsa dinilai tidak bisa dipandang sebelah mata.
Pekerjaan pengasuhan yang berlangsung setiap hari di lingkungan keluarga dianggap memiliki kontribusi besar terhadap pembangunan sumber daya manusia (SDM) Indonesia.
Anggota DPR RI Fraksi NasDem dari daerah pemilihan Nusa Tenggara Timur II (NTT II), Viktor Bungtilu Laiskodat, menilai sudah saatnya negara memberikan perhatian lebih besar kepada para ibu yang menjalankan fungsi pengasuhan di dalam keluarga.
Menurut Viktor, pengasuhan bukan sekadar aktivitas domestik. Di balik peran tersebut terdapat proses panjang dalam membentuk karakter, nilai, serta cara pandang anak terhadap kehidupan dan lingkungan sosialnya.
“Para ibu rela mengorbankan segala yang mereka miliki, waktu, tenaga, perhatian, kesempatan, bahkan kenyamanan diri untuk memastikan anak-anak tumbuh dengan baik,” kata Viktor dalam keterangan tertulisnya, Kamis (13/8/2026).
Ia menjelaskan, keluarga merupakan lingkungan pendidikan pertama bagi seorang anak. Sebelum mengenal sekolah dan lingkungan sosial yang lebih luas, anak terlebih dahulu belajar dari kebiasaan, sikap, serta nilai-nilai yang diterapkan di rumah.
Dalam konteks tersebut, ibu memiliki posisi strategis karena berinteraksi secara intensif dengan anak dalam proses tumbuh kembangnya.
“Di tangan seorang ibu, nilai-nilai kehidupan paling banyak ditanamkan. Keberanian, tanggung jawab, kepedulian, dan cinta Tanah Air mulai dibentuk dari rumah,” ujarnya.
Viktor menegaskan, pendidikan karakter tidak semata-mata ditentukan oleh proses pembelajaran formal di sekolah. Pendidikan di keluarga justru menjadi fondasi yang ikut menentukan bagaimana seorang anak mengenali dirinya, memperlakukan orang lain, serta merespons persoalan di lingkungan sekitarnya.
Hal serupa, kata dia, berlaku dalam pembentukan sikap nasionalisme. Kecintaan terhadap Indonesia dapat ditanamkan sejak anak berada di lingkungan keluarga melalui berbagai kebiasaan sederhana.
“Nasionalisme pun tumbuh dari rumah. Dari cerita seorang ibu tentang Indonesia, dari ajaran untuk menghargai perbedaan, menjaga persatuan, menghormati sesama, dan berani melakukan sesuatu yang baik bagi bangsa,” katanya.
Atas dasar itu, Viktor mendorong agar pemerintah memasukkan penguatan peran keluarga dan perlindungan terhadap ibu rumah tangga sebagai bagian dari kebijakan pembangunan manusia.
Ia menyoroti kondisi banyak ibu rumah tangga yang menjalankan tanggung jawab pengasuhan dengan dukungan terbatas. Padahal, pekerjaan tersebut berlangsung tanpa mengenal batas waktu dan menuntut perhatian secara terus-menerus.
“Sudah saatnya Indonesia memberikan perhatian yang lebih nyata kepada para ibu rumah tangga yang menjalankan peran pengasuhan dengan dukungan yang terbatas. Perhatian lebih berupa insentif dan kebijakan perlindungan bagi mereka perlu menjadi bagian dari agenda pembangunan manusia,” tutur Viktor.
Menurut dia, pemberian dukungan kepada ibu yang menjalankan fungsi pengasuhan seharusnya tidak dipandang sebagai beban negara. Sebaliknya, kebijakan tersebut merupakan investasi jangka panjang untuk meningkatkan kualitas generasi Indonesia.
Viktor meyakini, keluarga yang kuat akan berkontribusi terhadap lahirnya generasi yang memiliki karakter, tanggung jawab sosial, kepedulian terhadap sesama, serta kecintaan terhadap bangsa dan negara.
“Bagi saya, ibu adalah sekolah pertama bagi seorang anak. Apa yang ditanamkan seorang ibu di rumah akan ikut menentukan manusia seperti apa yang tumbuh dan kelak membangun bangsa ini,” ungkapnya.
Ia menambahkan, nilai-nilai yang ditanamkan orang tua sejak dini dapat menjadi fondasi bagi perjalanan hidup seorang anak. Karena itu, menurut Viktor, dukungan terhadap ibu dalam menjalankan peran pengasuhan memiliki dampak yang jauh lebih luas daripada sekadar persoalan keluarga.
“Ketika seorang ibu mengajarkan anaknya untuk berani, bertanggung jawab, peduli kepada sesama, dan mencintai Indonesia, sesungguhnya ia sedang menanam benih masa depan bangsa,” pungkasnya.




















