JAKARTA, Sudutkota.id – Persoalan sampah di Bali dinilai tidak cukup diselesaikan dengan pola kumpulkan, angkut, lalu buang. Ketua Dewan Perwakilan Daerah (DPD) RI, Sultan Baktiar Najamudin mendorong Bali menjadi pelopor gerakan memilah sampah dari sumber sekaligus contoh bagi daerah lain.
Sultan menilai Bali memiliki modal sosial yang kuat untuk membangun kebiasaan tersebut. Desa adat, banjar, gotong royong, awig-awig, dan pararem dinilai dapat menjadi fondasi untuk mengurangi, memilah, dan mengolah sampah sejak dari rumah tangga.
“Kalau Bali mulai memilah, Indonesia harus ikut berbenah. Pemilahan sampah harus menjadi budaya,” ujar Sultan dalam Dialog Kenegaraan DPD RI bertema Tata Kelola Sampah Terpadu Berbasis Ekosistem Masyarakat Daerah di Denpasar, Bali, Jumat (25/9/2026).
Dorongan itu juga berkaitan dengan cara melihat sampah sebagai persoalan ekonomi, bukan sekadar limbah yang harus dipindahkan. Sultan menilai sampah dapat diolah menjadi energi, sumber daya, dan lapangan kerja jika ditopang sistem pengelolaan yang tepat.
“Sampah tidak harus berakhir menjadi beban. Dengan sistem yang tepat, sampah dapat menjadi nilai, energi, dan lapangan kerja,” tuturnya.
Persoalan tersebut menjadi lebih kompleks bagi Indonesia sebagai negara kepulauan karena sampah dari daratan dapat bermuara ke pesisir dan laut hingga berpindah antarpulau.
Karena itu, Sultan mendorong pendekatan pengelolaan yang menghubungkan wilayah darat dan laut, sejalan dengan gagasan pembangunan yang tidak meninggalkan beban ekologis bagi generasi berikutnya.
Di Bali, perubahan pola pengelolaan itu juga didorong pemerintah daerah melalui penguatan pengurangan dan pemilahan dari sumber.
Sekretaris Daerah Provinsi Bali, Dewa Made Indra mengatakan sampah harus diselesaikan sedekat mungkin dengan sumbernya, sementara Dinas Kehutanan dan Lingkungan Hidup Bali memperkuat pengelolaan melalui desa, desa adat, TPS3R, dan bank sampah.
“Prinsipnya sederhana, desaku lestari tanpa sampah plastik, desaku bersih tanpa mengotori desa lain. Sampah harus diselesaikan sedekat mungkin dari sumbernya,” kata Dewa Made Indra.





















