Daerah

Dari Langit Gadang, Pemkot Malang Ingin Layang-Layang Jadi Mesin Ekonomi Kreatif

17
×

Dari Langit Gadang, Pemkot Malang Ingin Layang-Layang Jadi Mesin Ekonomi Kreatif

Share this article
Dari Langit Gadang, Pemkot Malang Ingin Layang-Layang Jadi Mesin Ekonomi Kreatif
Wakil Wali Kota Malang, Ali Muthohirin bersama Kapolresta Malang Kota, Kombes Pol Danang Setiyo Pambudi Sukarno, panitia, serta jajaran OPD Pemkot Malang saat menghadiri Malang Solidarity Sky Fest (MSSF) 2026 di Lapangan Layang-Layang Gadang 12B, Kecamatan Sukun, Kota Malang.(foto:sudutkota.id/Andik Agus Demit)

Sudutkota.id – Malang Solidarity Sky Fest (MSSF) 2026 resmi ditutup, Minggu (9/8/2026) sore. Digelar selama dua hari di Lapangan Layang-Layang Gadang 12B, Kecamatan Sukun, Kota Malang, festival ini mulai diarahkan bukan sekadar sebagai ajang hiburan dan kompetisi, tetapi sebagai ruang untuk mengembangkan kreativitas, komunitas, UMKM hingga potensi pariwisata Kota Malang.

Wakil Wali Kota Malang, Ali Muthohirin mengatakan, keberadaan MSSF sejalan dengan program Pemerintah Kota (Pemkot) Malang dalam mendorong kreativitas masyarakat. Menurutnya, pembangunan kota tidak cukup hanya berorientasi pada pembangunan fisik, tetapi juga harus memberi ruang bagi tumbuhnya berbagai kreativitas yang berkembang di tengah masyarakat.

“Bagian dari Malang Solidarity Sky Fest ini menunjang program kami, Dasa Bakti kami, Malang Tahes dan Kreativitas. Tidak hanya soal pembangunan fisik, tetapi juga bagaimana kita menjaga semua kreativitas yang muncul dan berkembang di Kota Malang,” ujar Ali saat penutupan MSSF 2026, Minggu (9/8/2026).

Ali menilai komunitas layang-layang memiliki potensi yang cukup besar untuk dikembangkan. Tidak hanya sebagai aktivitas rekreasi dan pelestarian permainan tradisional, tetapi juga dapat menjadi bagian dari kekuatan ekonomi kreatif sekaligus daya tarik Kota Malang.

Karena itu, ia mendorong agar pelaksanaan MSSF pada tahun-tahun mendatang tidak berhenti pada skala yang sama. Pemerintah, kata Ali, perlu memberikan ruang lebih besar agar komunitas kreatif semakin berkembang dan keterlibatan generasi muda semakin luas.

“Kita bangga dan bahagia, karena ini bisa meningkatkan daya jual Kota Malang. UMKM yang ada dalam acara juga bisa diperbesar, bisa diperbanyak lagi. Generasi muda juga bisa kita tumbuhkembangkan,” katanya.

Ali bahkan berharap MSSF dapat terus bertumbuh, baik dari sisi kualitas maupun skala penyelenggaraan. Ia melihat produk-produk kreatif berbasis layang-layang memiliki peluang untuk berkembang hingga pasar yang lebih luas.

“Semoga acara ini bisa bertumbuh kembang, acaranya dan skalanya diperbesar. Informasi yang beredar di dunia, produknya sudah diekspor. Semoga komunitas layangan dan kreativitasnya semakin bertumbuh dan semakin berkembang,” tuturnya.

MSSF 2026 mengusung tema “Bersatu di Langit, Melayangkan Kreativitas” dan menjadi bagian dari rangkaian peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia di Kota Malang.

Pada hari pertama, Sabtu (8/8/2026), sebanyak 64 tim dari sekitar 20 komunitas se-Malang Raya mengikuti lomba sambit. Peserta datang dari berbagai wilayah, di antaranya Gondanglegi, Singosari, Kota Malang hingga Kota Batu.

Ketua Pelangi Kota Malang Mohammad Saiful Hamzah sebelumnya menyampaikan, kegiatan tersebut juga menjadi bagian dari upaya regenerasi pegiat layang-layang. Menurutnya, permainan tradisional tersebut masih memiliki potensi untuk dikembangkan sebagai aktivitas positif bagi generasi muda sekaligus menjaga keberlangsungan budaya permainan tradisional.

Sementara itu, Ketua Pelaksana MSSF 2026, Deny Rahmawan menegaskan, festival tersebut sejak awal tidak hanya dirancang sebagai ajang kompetisi.

“Agenda ini selain menjadi pembibitan dan ajang kompetisi, juga menjadi kesempatan silaturahmi,” tandasnya.

MSSF 2026 juga diisi bazar UMKM, pameran layangan hias, eksebisi bermain layang-layang, lomba video konten serta sejumlah kegiatan pendukung lainnya.

Kehadiran UMKM dalam festival tersebut menjadi salah satu bagian yang ingin diperkuat Pemkot Malang. Sebab, jika event berbasis komunitas ingin dijadikan bagian dari strategi pariwisata, maka aktivitas ekonomi masyarakat di sekitar event harus menjadi salah satu indikator keberhasilannya.

MSSF 2026 sekaligus menjadi salah satu bagian dari upaya Pemkot Malang mendorong program 1.000 event serta Dasa Bakti, termasuk Ngalam Tahes dan Ngalam Asik.

Konsep tersebut diarahkan untuk memperkuat Kota Malang sebagai destinasi wisata berbasis event yang kreatif, inklusif dan berkelanjutan.

Namun, semakin banyak event yang digelar, tantangan pemerintah juga semakin besar. Event tidak cukup hanya ramai selama pelaksanaan, tetapi harus mampu meninggalkan dampak yang terukur bagi komunitas, pelaku UMKM, generasi muda dan sektor pariwisata.

MSSF memiliki modal berupa komunitas yang aktif, kreativitas layang-layang, potensi ekonomi kreatif serta daya tarik visual yang cukup kuat. Jika dikelola secara konsisten, festival tersebut berpeluang berkembang menjadi agenda khas Kota Malang.

Dengan demikian, layang-layang yang diterbangkan dari kawasan Gadang bukan hanya menjadi tontonan dua hari. Potensinya diharapkan benar-benar bisa menjadi bagian dari ekosistem ekonomi kreatif Kota Malang.

Penutupan MSSF 2026 turut dihadiri Kapolresta Malang Kota Kombes Pol Danang Setiyo Pambudi Sukarno, Kapolsek Sukun Kompol Ryan Wahyuningtyas, Kepala Diskominfo Kota Malang M Nur Widiyanto, anggota DPRD Kota Malang H. Rokhmad dan Kristina, Ketua KORMI Kota Malang Sofyan Edi Jarwoko, Sekretaris KONI Joko Purwosusanto, Kabid Olahraga Diaparapar Bagus, jajaran Kecamatan Sukun, Kelurahan Gadang serta unsur terkait lainnya.


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *