Sudutkota.id – Momentum peringatan Hari Bumi 2026 dimanfaatkan sejumlah organisasi mahasiswa pecinta alam untuk memperkuat aksi nyata berbasis kolaborasi dengan menggelar “Eart Day Festival”.
Berbeda dari perayaan seremonial, kegiatan yang digelar pada 22 April ini, menitikberatkan pada praktik langsung pelestarian lingkungan, mulai dari rehabilitasi pesisir hingga edukasi ekosistem laut.
Kegiatan yang digelar di kawasan pantai Malang Selatan ini, diinisiasi oleh IMPALA Universitas Brawijaya Malang bersama Mapala ACS Unira Malang, KSR Brawijaya, serta Sahabat Alam Indonesia.
Mereka menggelar serangkaian program seperti pembibitan dan penanaman mangrove, transplantasi terumbu karang, hingga pelatihan monitoring dan perawatan ekosistem.
Ketua Umum IMPALA UB, Azumardi Azra Oganda, menegaskan bahwa kegiatan ini merupakan bagian dari perjalanan panjang organisasi dalam menjaga keberlanjutan lingkungan.
Menurutnya, menjelang usia organisasi yang hampir mencapai setengah abad, kontribusi nyata menjadi fokus utama.
“Ini adalah bagian dari gerakan kami untuk terus berproses dan memberi dampak, sekecil apa pun, bagi pelestarian lingkungan,” ujarnya.
Lebih jauh, ia menekankan bahwa tantangan perubahan iklim tidak dapat dihadapi secara parsial.
Kolaborasi lintas organisasi dan disiplin ilmu menjadi kunci dalam merespons kompleksitas isu lingkungan saat ini.
Hal senada disampaikan Ahmad Fajrul Falah dari Divisi Konservasi Mapala ACS Unira. Ia menyoroti masih rendahnya minat generasi muda terhadap isu konservasi dibandingkan aktivitas olahraga alam bebas.
“Kami berupaya menyeimbangkan antara aktivitas petualangan dan tanggung jawab konservasi. Tidak hanya belajar teori, tetapi juga mengimplementasikannya secara langsung di lapangan,” jelasnya.
Inisiatif ini sekaligus menjadi refleksi peran strategis generasi muda dalam menghadapi dinamika pembangunan.
Mahasiswa pecinta alam didorong untuk adaptif terhadap perkembangan zaman, sehingga mampu menjaga keseimbangan antara eksploitasi sumber daya dan prinsip pembangunan berkelanjutan.
Melalui pendekatan kolaboratif dan berbasis aksi, peringatan Hari Bumi tahun ini menunjukkan bahwa gerakan lingkungan tidak hanya soal kampanye, tetapi juga kerja nyata yang terukur dan berkelanjutan.




















