Sudutkota.id – Peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia, pada 5 Juni 2026, menjadi momentum penting untuk memperkuat komitmen terhadap pembangunan berkelanjutan.
Mengusung tema “Saatnya Bekerja untuk Iklim” (#NowForClimate), berbagai pihak diajak untuk meningkatkan upaya mitigasi dan adaptasi terhadap krisis iklim, polusi lingkungan, serta ancaman hilangnya keanekaragaman hayati (biodiversity loss).
Dalam momentum tersebut, Sahabat Alam Indonesia menyoroti sejumlah isu lingkungan strategis di Malang Raya yang dinilai memerlukan perhatian serius agar pembangunan tidak mengorbankan fungsi ekologis dan kesejahteraan masyarakat.
Salah satu isu yang menjadi perhatian adalah rencana pengembangan panas bumi (geothermal) di kawasan Arjuno-Welirang dan Songgoriti. Kedua wilayah kerja panas bumi tersebut mencakup area seluas lebih dari 40 ribu hektare yang membentang lintas kabupaten di Jawa Timur dan berada di kawasan yang berdekatan dengan permukiman padat penduduk.
Sahabat Alam Indonesia menilai pengembangan energi terbarukan tetap harus memperhatikan aspek lingkungan secara menyeluruh. Kawasan Arjuno-Welirang dan Songgoriti merupakan daerah tangkapan air yang berperan penting sebagai penyangga kehidupan masyarakat Malang Raya.
“Pembangunan infrastruktur geothermal dikhawatirkan berpotensi mengubah bentang alam, mengganggu ekosistem pegunungan, serta memengaruhi kualitas dan ketersediaan air tanah apabila tidak dikelola dengan prinsip kehati-hatian dan kajian lingkungan yang komprehensif,” ujar Andik Syaifudin, Founder Sahabat Alam Indonesia, Jumat (5/6/2026).
Isu lain yang mendapat perhatian adalah pelaksanaan survei seismik 2D di perairan selatan Jawa yang dilakukan pada periode Agustus hingga Desember 2025. Kegiatan eksplorasi migas tersebut mencakup wilayah perairan di Kabupaten Lumajang, Malang, Blitar, Tulungagung, Trenggalek, hingga Pacitan.
Metode survei menggunakan gelombang suara berintensitas tinggi melalui perangkat airgun dinilai berpotensi mengganggu kehidupan biota laut. Mamalia laut dan berbagai jenis ikan yang menjadi sumber penghidupan nelayan disebut dapat menjauh dari area survei akibat paparan suara dan getaran.
Selain dampak ekologis, proses pembersihan area survei dari rumpon atau alat bantu pengumpul ikan juga dikhawatirkan memengaruhi aktivitas ribuan nelayan di enam kabupaten pesisir selatan Jawa Timur.
“Kondisi tersebut berpotensi menimbulkan kerugian ekonomi bagi masyarakat yang menggantungkan hidup pada sektor perikanan tangkap,” kata Andik.
Sahabat Alam Indonesia juga menyoroti ancaman alih fungsi kawasan hutan menjadi lahan pertanian, perkebunan, maupun destinasi wisata yang berpotensi mempercepat degradasi lingkungan.
Pembangunan infrastruktur seperti Jalur Koridor Tengah Gondanglegi–Malang Selatan dan Jalur Lintas Selatan (JLS) dinilai membuka peluang pertumbuhan ekonomi baru. Namun, pembangunan tersebut juga perlu diimbangi dengan perlindungan kawasan hutan lindung yang tersisa di Malang Selatan.
“Fragmentasi habitat akibat pembukaan lahan dan pembangunan jalan dapat membatasi ruang gerak satwa liar dalam mencari makan, berkembang biak, dan bermigrasi. Selain meningkatkan risiko konflik satwa dengan manusia, kondisi tersebut juga memperbesar ancaman perburuan liar,” ungkapnya.
Sahabat Alam Indonesia mengingatkan munculnya fenomena “silent forest” atau hutan yang secara fisik masih terlihat utuh, namun kehilangan sebagian besar populasi satwa liarnya akibat perburuan, jerat, maupun perdagangan ilegal satwa.
Pengawasan terhadap aktivitas perkebunan sawit, pertanian tebu, serta pengembangan wisata baru di kawasan pesisir dan pegunungan seperti Gunung Kawi, Gunung Panderman, Gunung Arjuno, dan Gunung Semeru dinilai perlu diperkuat agar tidak memperluas kerusakan kawasan hutan.
Perubahan pola iklim akibat fenomena El Nino dan La Nina juga menjadi tantangan yang harus dihadapi masyarakat dan pemerintah daerah.
Dampak yang mulai dirasakan antara lain pemutihan terumbu karang (coral bleaching), banjir rob, banjir bandang, tanah longsor, cuaca ekstrem, hingga kekeringan di sejumlah wilayah pedesaan.
“Langkah mitigasi dan adaptasi perubahan iklim perlu diperkuat melalui peningkatan kesiapsiagaan masyarakat, perlindungan ekosistem alami, serta pembangunan yang lebih tangguh terhadap risiko bencana,” tegas Andik.
Di tengah berbagai tantangan lingkungan, Sahabat Alam Indonesia mendorong pengembangan alternatif mata pencaharian berbasis konservasi dan pemanfaatan sumber daya alam secara berkelanjutan.
Potensi tersebut antara lain perikanan tangkap ramah lingkungan, UMKM berbasis pesisir, wisata kuliner, hingga pengembangan ekowisata dan eduwisata.
Kawasan hutan lindung tersisa di Malang Selatan yang membentang sekitar 1.989 hektare di Kecamatan Bantur dan Donomulyo dinilai memiliki potensi besar sebagai laboratorium alam, pusat penelitian, serta destinasi wisata edukasi berbasis lingkungan.
“Selain itu, kawasan konservasi penyu di Bajulmati, Kecamatan Gedangan, serta kawasan konservasi mangrove Clungup Mangrove Conservation (CMC) Tiga Warna di Sumbermanjing Wetan menjadi contoh destinasi yang mampu menggabungkan aspek konservasi dan pemberdayaan ekonomi masyarakat,” ujar Andik.
Sahabat Alam Indonesia berharap pemerintah dapat berperan sebagai penghubung berbagai pemangku kepentingan melalui pendekatan hexahelix, yang melibatkan pemerintah, akademisi, sektor swasta, masyarakat, organisasi lingkungan, dan media.
Kolaborasi tersebut dinilai penting untuk memastikan setiap kebijakan pembangunan mampu menciptakan keseimbangan antara pertumbuhan ekonomi, perlindungan lingkungan, dan peningkatan kesejahteraan masyarakat.
“Pembangunan yang berkelanjutan bukan hanya soal pertumbuhan ekonomi, tetapi juga memastikan lingkungan tetap terjaga untuk generasi mendatang,” pungkasnya.




















