Lingkungan Hidup

Delegasi Korea Selatan Pelajari Model Konservasi Berbasis Masyarakat di Malang, Buka Peluang Kolaborasi Indonesia-Korea

46
×

Delegasi Korea Selatan Pelajari Model Konservasi Berbasis Masyarakat di Malang, Buka Peluang Kolaborasi Indonesia-Korea

Share this article
Delegasi Korea Selatan Pelajari Model Konservasi Berbasis Masyarakat di Malang, Buka Peluang Kolaborasi Indonesia-Korea
Ethical Site Initiation Unitri, NUAA, ACLA, ICF, Trash Center dan Sahabat Alam Indonesia.(foto:sudutkota.id/istimewa)

Sudutkota.id – Model pendampingan konservasi yang mengintegrasikan pemberdayaan masyarakat menarik perhatian delegasi Korea Selatan.

Kunjungan lapangan yang dilakukan Trash Center Korea, International Cultural Foundation (ICF) Korea, Nanjing University of Aeronautics and Astronautics (NUAA) dan Asian Cultural Landscape Association (ACLA) bersama Universitas Tribhuwana Tunggadewi (UNITRI) menjadi momentum memperkuat kerja sama internasional di bidang pelestarian lingkungan dan pengembangan masyarakat.

Kegiatan tersebut merupakan bagian dari rangkaian proses Ethical Site Initiation yang digelar di Universitas Tribhuwana Tunggadewi. Dalam agenda tersebut, delegasi internasional tidak hanya mengikuti diskusi akademik, tetapi juga turun langsung mengunjungi lokasi-lokasi pendampingan yang dikelola Sahabat Alam Indonesia di wilayah pesisir Kabupaten Malang.

Presiden Trash Center Korea Selatan, Lee Dong Hak, mengawali kunjungannya di kawasan Pantai Sendang Biru, Desa Tambakrejo, Kabupaten Malang. Di lokasi tersebut, ia berdialog dengan masyarakat nelayan mengenai kondisi sosial ekonomi, tantangan pengelolaan sampah, hingga persoalan sampah laut yang semakin kompleks.

Delegasi juga meninjau tanggul penahan abrasi yang dibangun secara swadaya oleh masyarakat serta mengelilingi kawasan Cagar Alam Sempu yang menjadi salah satu benteng penting konservasi pesisir di selatan Pulau Jawa.

Perjalanan kemudian dilanjutkan ke Pantai Kondang Merak, Desa Sumberbening, Kecamatan Bantur. Di kawasan ini, Sahabat Alam Indonesia memperkenalkan berbagai program pendampingan yang mencakup perlindungan kawasan laut dan hutan lindung, penguatan kapasitas nelayan, pengelolaan sampah di destinasi wisata, hingga pemanfaatan energi terbarukan melalui panel surya.

Delegasi juga melihat secara langsung bagaimana masyarakat mengembangkan kuliner hasil laut sebagai alternatif mata pencaharian yang dinilai mampu memperkuat ketahanan ekonomi sekaligus mendukung upaya konservasi.

Founder Sahabat Alam Indonesia, Andik Syaifudin, menegaskan bahwa keberhasilan konservasi tidak hanya bergantung pada perlindungan kawasan, tetapi juga pada penguatan masyarakat yang hidup di sekitarnya.

“Kami terus mendorong sinergi hexahelix dalam mengurai akar persoalan sosial dan lingkungan. Berbagi pengalaman pendampingan bersama Trash Center, ICF, serta akademisi dari Universitas Tribhuwana Tunggadewi diharapkan semakin memperkuat kolaborasi Indonesia dan Korea Selatan. Pada akhirnya, kita berbicara tentang ruang hidup yang sama, yaitu bumi dan kemanusiaan,” ujarnya.

Menurut Andik, upaya menjaga kelestarian hutan dan laut akan sulit berjalan optimal apabila tidak disertai pendampingan sosial secara menyeluruh, mulai dari penguatan ekonomi masyarakat, akses kesehatan, hingga pendidikan.

Sementara itu, Lee Dong Hak mengaku terkesan dengan pendekatan konservasi yang diterapkan di Indonesia. Selain menikmati keindahan alam pesisir Malang, ia juga merasakan langsung keramahan masyarakat setempat.

“Ini pertama kalinya saya datang ke Indonesia. Terima kasih kepada Universitas Tribhuwana Tunggadewi dan Sahabat Alam Indonesia yang telah mendampingi kami. Saya melihat masyarakat yang sangat ramah, laut yang indah, serta makanan yang luar biasa. Ini pertama kalinya saya mencoba ikan bakar dan sate tuna. Di Korea, ikan tuna lebih banyak diolah menjadi sushi atau makanan kalengan,” katanya.

Lee menambahkan bahwa persoalan sampah plastik dan sampah laut merupakan isu global yang tidak dapat diselesaikan oleh satu negara saja. Menurutnya, limbah plastik yang diproduksi di berbagai negara, termasuk Korea Selatan, dapat bermuara ke laut dan mencemari wilayah negara lain.

Karena itu, ia menilai pertukaran pengalaman mengenai pola pendampingan konservasi dan pemberdayaan masyarakat menjadi langkah penting untuk menghasilkan solusi yang dapat diadaptasi di berbagai negara.

Hal senada disampaikan Project Manager International Cultural Foundation (ICF) Korea, Kwag Min Ju. Ia berharap hubungan yang terjalin selama kunjungan tersebut menjadi awal kerja sama yang lebih luas di berbagai sektor.

“Keramahan masyarakat Indonesia semakin mempererat persahabatan kami, baik secara pribadi maupun antar-institusi. Kami berharap ke depan dapat membangun kolaborasi lintas sektor, mulai dari penelitian hingga program bersama dalam konservasi lingkungan dan pemberdayaan masyarakat untuk menciptakan ruang hidup yang aman, sehat, dan sejahtera,” ujarnya.

Kunjungan delegasi Korea Selatan ini menjadi bukti bahwa pendekatan konservasi berbasis masyarakat yang dikembangkan di pesisir selatan Malang mulai mendapat perhatian di tingkat internasional.

Model kolaborasi yang memadukan pelestarian lingkungan, penguatan ekonomi lokal, pendidikan, dan kesehatan dinilai memiliki potensi untuk direplikasi sebagai bagian dari solusi menghadapi tantangan perubahan iklim dan pencemaran laut secara global.


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *