Nasional

Pertumbuhan Ekonomi 5,45 Persen, DPR Ingatkan Jangan Sampai Rakyat Hanya Jadi Penonton

11
×

Pertumbuhan Ekonomi 5,45 Persen, DPR Ingatkan Jangan Sampai Rakyat Hanya Jadi Penonton

Share this article
Pertumbuhan Ekonomi 5,45 Persen, DPR Ingatkan Jangan Sampai Rakyat Hanya Jadi Penonton
Anggota Komisi XI DPR RI, Anis Byarwati, di sela-sela Sidang Tahunan MPR RI, Sidang Bersama DPR RI dan DPD RI, serta Rapat Paripurna DPR RI di Gedung Nusantara, Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta.(Foto:sudutkota.id/dok. DPR RI)

JAKARTA, Sudutkota.id – Pertumbuhan ekonomi Indonesia pada semester I 2026 mencapai 5,45 persen, sekaligus menjadi pertumbuhan semester I tertinggi dalam 13 tahun terakhir. Namun, angka tersebut dinilai belum cukup menjadi alasan bagi pemerintah untuk berpuas diri.

Anggota Komisi XI DPR RI, Anis Byarwati mengingatkan pemerintah agar pertumbuhan ekonomi tidak berhenti sebagai capaian statistik, melainkan benar-benar terasa dalam kehidupan masyarakat. Salah satu pekerjaan rumah terbesar ialah menjaga daya beli di tengah kebutuhan pokok yang harus tetap terjangkau.

“Selama ini pertumbuhan ekonomi itu ditopang oleh konsumsi rumah tangga. Konsumsi rumah tangga itu berarti terkait dengan daya beli masyarakat,” ujar Anis saat ditemui di sela-sela Sidang Tahunan MPR RI, Sidang Bersama DPR RI dan DPD RI, serta Rapat Paripurna DPR RI di Gedung Nusantara, Senayan, Jakarta, Jumat (14/8/2026).

Menurut Anis, konsumsi rumah tangga sebagai salah satu penopang pertumbuhan membuat kondisi daya beli masyarakat tidak bisa dipandang sebelah mata. Jika kemampuan masyarakat untuk berbelanja melemah, pertumbuhan ekonomi berisiko kehilangan salah satu mesin utamanya.

Karena itu, pemerintah diminta memastikan kebutuhan dasar masyarakat tetap dapat dijangkau. Pengendalian harga bahan pokok menjadi salah satu instrumen penting agar pertumbuhan ekonomi tidak menciptakan paradoks: angka makro meningkat, tetapi kemampuan masyarakat memenuhi kebutuhan sehari-hari justru tertekan.

“Pemerintah harus terus mendorong tentang daya beli masyarakat, harga bahan pokoknya, kemudian bagaimana menjamin masyarakat bisa mendapatkan kebutuhannya, kebutuhan dasar terutama dengan harga terjangkau,” katanya.

Anis menjelaskan, daya beli yang terjaga tidak hanya berdampak pada konsumsi rumah tangga. Ketika masyarakat memiliki kemampuan belanja, permintaan barang dan jasa ikut bergerak. Kondisi itu kemudian dapat mendorong industri meningkatkan produksi.

“Dengan adanya daya beli yang cukup, sehingga masyarakat punya kemampuan untuk belanja terutama kebutuhan dasarnya, ini akan mendorong industri jadi lebih giat,” ujarnya.

Dari sana, efek berantainya diharapkan berlanjut. Meningkatnya aktivitas industri dapat membuka ruang investasi, memperbesar produksi, dan pada akhirnya memperkuat pertumbuhan ekonomi.

“Karena ada demand, karena ada supply. Dengan industri lebih giat, investasi juga akan masuk dan begitu seterusnya,” kata Anis.

Meski demikian, Anis tetap mengapresiasi pertumbuhan ekonomi sebesar 5,45 persen. Namun, ia menekankan capaian tersebut harus dibaca sebagai momentum untuk memperkuat fondasi ekonomi, bukan sekadar angka yang dipamerkan sebagai keberhasilan pemerintah.

“Kalau memang pertumbuhannya 5,45, saya kira itu memang pertumbuhan, karena kemarin saya kira pemerintah harus terus bekerja keras,” pungkas Anis.


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *