JAKARTA, Sudutkota.id – Pemerintah masih menghadapi pekerjaan besar menjelang penutupan tahun anggaran 2026.
Di tengah meningkatnya aktivitas manufaktur, negara harus mengejar penerimaan lebih dari Rp600 triliun dalam dua bulan terakhir, sementara belanja pemerintah juga perlu dipercepat tanpa mengabaikan efisiensi.
Menteri Keuangan, Suahasil Nazara menyampaikan perkembangan tersebut setelah mengikuti rapat terbatas bersama Presiden Prabowo Subianto di Istana Merdeka, Jakarta, Selasa (3/11/2026).
Ia melaporkan sejumlah indikator ekonomi, termasuk inflasi Oktober yang tercatat 3,23 persen dan masih berada dalam rentang sasaran pemerintah sebesar 1,5 hingga 3,5 persen.
“Kita tadi menyampaikan kepada Bapak Presiden mengenai perkembangan ekonomi terkini. Kemarin kan keluar data rilis dari BPS mengenai inflasi 3,23 persen itu di dalam range yang memang menjadi sasaran target dari inflasi Indonesia. Jadi ini on track inflasinya,” ujar Suahasil.
Di sektor industri, aktivitas manufaktur menunjukkan penguatan. Indeks Manajer Pembelian (Purchasing Managers’ Index/PMI) meningkat dari kisaran 52 menjadi 54 pada Oktober 2026. Kenaikan ini mencerminkan ekspektasi pelaku usaha terhadap permintaan yang diperkirakan meningkat.
“Jadi meningkat, ini menunjukkan bahwa para pengusaha kita membayangkan bahwa akan ada peningkatan permintaan karena itu pengusaha mulai siap-siap untuk meningkatkan produksi dengan membeli input lebih banyak,” jelasnya.
Namun, penguatan aktivitas industri berjalan beriringan dengan target penerimaan negara yang masih harus dikejar. Suahasil menyebut pemerintah membutuhkan lebih dari Rp600 triliun dari pendapatan negara selama November dan Desember. Sementara itu, anggaran belanja yang masih harus direalisasikan diperkirakan mencapai sekitar Rp990 triliun.
“Kemudian saya juga tadi sempat melaporkan APBN untuk tutup bulan Oktober dimana semuanya on track untuk pendapatan dan belanja. Dan kira-kira untuk pendapatan negara kami harus mengumpulkan lagi November-Desember ini sekitar 600 triliun lebih dan untuk belanja negara masih sekitar 990 triliun akan dibelanjakan,” kata Suahasil.
Besarnya anggaran yang harus direalisasikan pada penghujung tahun membuat pemerintah perlu menjaga keseimbangan antara percepatan belanja dan kualitas penggunaannya. Presiden Prabowo meminta kementerian dan lembaga tidak mengabaikan efisiensi, tata kelola, serta sasaran program meskipun penyerapan anggaran meningkat menjelang akhir tahun.
“Dua bulan terakhir seperti biasa namanya operasi APBN itu kalau di akhir tahun biasanya itu ngegas lebih cepat, lebih besar itu silahkan tetapi harus tetap efisien. Harus tetap dalam tata kelola yang baik dan tentu harus dilakukan sesuai dengan target output yang dicanangkan ketika meminta anggaran tersebut,” tegasnya.





















