Nasional

Jasad Bayi Ditemukan di Semarang, Netty Soroti Pembinaan Remaja dan Ketahanan Keluarga

12
×

Jasad Bayi Ditemukan di Semarang, Netty Soroti Pembinaan Remaja dan Ketahanan Keluarga

Share this article
Jasad Bayi Ditemukan di Semarang, Netty Soroti Pembinaan Remaja dan Ketahanan Keluarga
Anggota Komisi IX DPR RI, Netty Prasetiyani Aher menyoroti kasus penemuan jasad bayi di Kabupaten Semarang dan mendorong penguatan pembinaan remaja serta ketahanan keluarga.(Sudutkota.id/Dok. DPR RI)

JAKARTA, Sudutkota.id – Kasus penemuan jasad bayi perempuan di area perkebunan Dusun Kropoh, Desa Duren, Kecamatan Bandungan, Kabupaten Semarang, menjadi perhatian Anggota Komisi IX DPR RI, Netty Prasetiyani Aher. Terlebih, polisi mengamankan dua orang yang diduga berkaitan dengan kasus tersebut, salah satunya masih berusia 17 tahun.

Netty menilai keterlibatan anak dalam perkara serius semacam ini tidak hanya perlu dilihat dari sisi penegakan hukum, tetapi juga menjadi peringatan mengenai pentingnya pembinaan remaja dan ketahanan keluarga.

“Ini adalah tragedi yang sangat memprihatinkan. Seorang bayi kehilangan kesempatan untuk hidup dan tumbuh. Apabila terdapat pelanggaran hukum dan unsur kekerasan, proses hukum harus berjalan secara tegas,” ujar Netty pada, Rabu (9/9/2026).

Menurutnya, aparat penegak hukum tetap harus mengusut perkara tersebut berdasarkan fakta dan ketentuan hukum yang berlaku. Namun, di saat yang sama, pemerintah dan masyarakat perlu melihat faktor pencegahan agar persoalan serupa tidak kembali terjadi, terutama ketika melibatkan remaja.

Netty menilai salah satu langkah yang perlu diperkuat adalah pemberian edukasi kesehatan reproduksi yang sesuai dengan usia. Informasi yang benar diperlukan agar remaja memahami konsekuensi dari keputusan maupun perilaku yang dapat membahayakan dirinya dan orang lain.

“Remaja membutuhkan informasi yang benar mengenai kesehatan reproduksi dan risiko dari perilaku yang membahayakan masa depan mereka. Jangan sampai mereka mencari informasi dari sumber yang keliru tanpa pendampingan yang baik,” tegasnya.

Selain sekolah, keluarga dinilai memiliki peran penting dalam memberikan pendampingan kepada remaja. Menurut Netty, komunikasi yang terbuka antara orang tua dan anak dapat membantu remaja menyampaikan persoalan yang dihadapi sebelum berkembang menjadi masalah yang lebih serius.

Karena itu, ia mendorong pemerintah daerah, sekolah, tokoh agama, serta tenaga kesehatan membangun pola pembinaan yang lebih terintegrasi. Upaya tersebut diperlukan agar edukasi kepada remaja tidak berjalan sendiri-sendiri dan keluarga mendapatkan dukungan ketika menghadapi persoalan anak.

“Pencegahan harus dimulai dari keluarga, diperkuat melalui sekolah dan masyarakat, serta didukung program pemerintah,” kata Netty.

Ia berharap kasus di Semarang menjadi momentum untuk memperkuat perlindungan dan pendampingan terhadap remaja. Menurutnya, penanganan kasus harus berjalan, tetapi upaya pencegahan juga tidak boleh menunggu sampai muncul korban berikutnya.

“Tragedi ini harus menjadi alarm bagi kita semua untuk lebih serius menjaga masa depan anak-anak Indonesia,” pungkasnya.


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *