KOTA MALANG, Sudutkota.id – Ambisi Kota Malang mendongkrak prestasi olahraga Jawa Timur mulai dibidik sejak bangku sekolah. Pemerintah Kota Malang bersama Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Kota Malang menggelar Bimbingan Teknis (Bimtek) Pencarian Bibit Atlet Berprestasi Usia Dini bagi guru olahraga SD dan SMP se-Kota Malang.
Kegiatan tersebut digelar di Ruang Rapat Gedung Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Malang, Kamis (10/9/2026). Guru olahraga didorong menjadi ujung tombak untuk menemukan siswa yang memiliki potensi menjadi atlet berprestasi.
Wali Kota Malang, Wahyu Hidayat menegaskan, pencarian bibit atlet usia dini tersebut diarahkan untuk memperkuat kontingen Kota Malang menghadapi Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) Jawa Timur 2027.
“Targetnya sama seperti yang ditetapkan KONI. Nanti di Porprov kita punya siswa-siswi yang menjadi bibit dan mewakili Kota Malang di cabor-cabor tertentu,” ujar Wahyu.
Menurutnya, guru olahraga memiliki posisi strategis karena paling mengetahui kemampuan fisik maupun potensi olahraga para siswa. Karena itu, sekolah tidak hanya menjadi tempat pendidikan akademik, tetapi juga menjadi salah satu sumber utama regenerasi atlet Kota Malang.
Wahyu menyebut hampir seluruh cabang olahraga memiliki siswa yang berpotensi untuk dikembangkan. Tantangannya kini bukan sekadar mencari atlet, melainkan memastikan potensi tersebut benar-benar teridentifikasi, diseleksi dan dibina secara berkelanjutan.
“Guru-guru olahraga paling mengetahui kemampuan dari siswa-siswinya,” tegasnya.
Pemkot Malang juga membuka kemungkinan penguatan fasilitas olahraga di sekolah yang masih memiliki keterbatasan sarana dan prasarana.
Wahyu mengatakan, hasil Bimtek akan menjadi salah satu bahan untuk memetakan sekolah mana yang membutuhkan dukungan fasilitas. Data tersebut selanjutnya akan dikoordinasikan antara Dinas Pendidikan dan Kebudayaan, Disporapar serta KONI.
“Kalau ada sekolah yang kurang sarana prasarananya, nanti dikoordinasikan. Kira-kira anggaran untuk mendukung sarana prasarana bisa kita alokasikan,” jelasnya.
Target besar pun dipasang untuk Porprov 2027. Pemkot Malang bersama KONI membidik 222 medali emas.
“Target 222 ya. Memang target itu harus ada. Kita berupaya. KONI sudah dengan perhitungan yang matang berdasarkan kemampuan yang ada di Kota Malang. Mudah-mudahan 2027 ini kita bisa dapatkan,” kata Wahyu.
Sementara itu, Ketua Umum KONI Kota Malang, R. Djoni Sudjatmoko menegaskan bahwa Bimtek tersebut tidak semata-mata mengejar kebutuhan Porprov 2027.
Menurutnya, atlet untuk Porprov 2027 sudah masuk dalam tahapan Pra-Puslat. Saat ini KONI Kota Malang mencatat 1.128 atlet yang telah mengikuti Pra-Puslat untuk dipersiapkan menuju target 222 emas.
“Kalau yang 2027 sudah terkumpul. Atletnya sudah masuk Pra-Puslat,” ujar Djoni.
Karena itu, pencarian atlet usia dini dari SD dan SMP justru diarahkan untuk menyiapkan kekuatan jangka panjang menghadapi Porprov 2029 dan 2031.
Djoni mengakui, KONI membutuhkan data atlet potensial yang lebih kuat dari setiap cabang olahraga. Atlet usia sekolah yang ditemukan melalui guru olahraga akan terus dipantau, dilatih dan diseleksi hingga terlihat siapa yang benar-benar memiliki prospek menjadi atlet elite.
“Sebanyak-banyaknya atlet ini kita latih terus, kita lihat mana yang paling berpotensi. Kita bina terus,” katanya.
Targetnya bahkan jauh lebih besar. KONI Kota Malang ingin pada 2029 mulai mampu menekan dominasi Surabaya dan paling lambat 2031 menjadi nomor satu di Jawa Timur.
“Target maksimum 2031 kita sudah harus mampu mengalahkan Surabaya di luar Surabaya, di daerah netral. Kalau meleset 2029, 2031 sudah batas akhir kita harus mampu jadi nomor satu di Jawa Timur,” tegas Djoni.
Untuk Porprov 2027, Djoni menyebut komposisi atlet yang akan dibawa masih terus dipantau. KONI baru akan memiliki gambaran lebih pasti mengenai kekuatan masing-masing cabang olahraga setelah proses Pra-Puslat berjalan.
“Desember insyaallah kita sudah punya data pastinya,” ujarnya.
Djoni juga menekankan pembinaan atlet tidak bisa hanya mengandalkan KONI maupun pemerintah. Peran pengurus cabang olahraga, sekolah, orang tua dan masyarakat dibutuhkan agar proses pembinaan berjalan panjang.
Menurutnya, sejumlah cabang olahraga bahkan melakukan pembinaan dengan dukungan mandiri dari orang tua atlet maupun komunitas.
Sementara untuk kebutuhan pemberangkatan kontingen Porprov 2027, Djoni menyebut dukungan Pemerintah Kota Malang tetap diperlukan.
Dengan demikian, pencarian bibit atlet dari sekolah menjadi investasi jangka panjang. Bukan hanya untuk mengejar 222 emas pada 2027, tetapi juga membangun regenerasi agar ambisi Malang menjadi kekuatan olahraga nomor satu di Jawa Timur tidak berhenti sebagai target di atas kertas.





















