JAKARTA, Sudutkota.id – Tragedi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di kawasan Bromo, Jawa Timur, menjadi perhatian anggota Komisi IV DPR RI, Daniel Johan.
Ia meminta pemerintah mengevaluasi prosedur pemadaman agar petugas dan relawan tidak menghadapi risiko kebakaran tanpa perlindungan serta jalur penyelamatan yang memadai.
“Kami menyampaikan duka cita sedalam-dalamnya atas meninggalnya lima orang dalam upaya pemadaman karhutla di Bromo. Mereka telah berjuang menjalankan tugas kemanusiaan untuk menyelamatkan kawasan hutan dan lingkungan. Pengorbanan ini menjadi pengingat bahwa keselamatan petugas dan relawan tidak boleh diabaikan. Mereka yang berada di garda terdepan harus mendapatkan perlindungan yang memadai,” ujar Daniel Johan di Jakarta, Senin (26/10/2026).
Dalam kejadian di lereng Pusung Lingker, Desa Ngadirejo, Kecamatan Sukapura, Kabupaten Probolinggo, api dilaporkan membesar akibat tiupan angin ketika tim berupaya melakukan pemadaman, pada Kamis (15/10/2026). Kondisi tersebut menunjukkan pentingnya memperhitungkan perubahan arah angin, pergerakan api, medan, dan akses evakuasi sebelum operasi dilakukan.
“Peristiwa ini memerlukan pemeriksaan yang cermat untuk mengungkap keadaan saat tim terjebak serta menentukan penguatan keselamatan operasi yang perlu segera dilakukan,” kata Daniel
Evaluasi, menurut Daniel, perlu mencakup keputusan penempatan personel di wilayah berisiko, kesiapan komunikasi antartim, serta kemampuan untuk menarik petugas ketika situasi berubah. Langkah tersebut penting agar operasi pemadaman tidak justru menambah korban jiwa.
“Setiap keputusan mengirim tim ke lokasi harus disertai kepastian mengenai risiko, jalur keluar, dan dukungan pertolongan. Ketika keadaan berubah, pimpinan operasi perlu memiliki informasi serta kewenangan untuk segera menyesuaikan penugasan,” ujarnya.
Selain prosedur operasi, Daniel meminta pemerintah memastikan ketersediaan alat pelindung diri, perlengkapan pertolongan pertama, alat komunikasi, dan sarana evakuasi. Petugas serta relawan juga perlu dibekali pelatihan untuk mengenali tanda bahaya dan menghadapi perubahan kondisi kebakaran.
Ia turut menyoroti dukungan logistik bagi personel yang bertugas di lokasi terpencil, termasuk ketersediaan makanan, minuman, dan bantuan medis. Hasil evaluasi kejadian di Bromo diharapkan menjadi dasar perbaikan sistem penanganan karhutla serta memastikan keluarga korban memperoleh perhatian sesuai ketentuan.





















