KOTA MALANG, Sudutkota.id – Keberagaman masyarakat dan derasnya arus pendatang menjadi tantangan tersendiri bagi Kota Malang. Di balik predikat kota pendidikan, pariwisata, dan industri, terdapat potensi persoalan sosial yang perlu diantisipasi, mulai dari intoleransi, penyebaran hoaks, penyalahgunaan narkoba hingga konflik di tengah masyarakat.
Pemerintah Kota (Pemkot) Malang pun memperkuat sinergi lintas sektor untuk mencegah persoalan tersebut berkembang menjadi konflik sosial yang mengganggu ketenteraman dan keharmonisan warga.
Hal ini disampaikan Kepala Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Bakesbangpol) Kota Malang, Noer Rahman Wijaya, dalam Rapat Koordinasi Sinergitas Mitra Kerja Satpol PP menuju Malang Mbois Berkelas, Senin (26/10/2026), di Hotel Lalianri, Kota Malang.
Kegiatan yang diikuti 83 peserta tersebut melibatkan unsur perangkat daerah, Polresta Malang Kota, Badan Narkotika Nasional (BNN) Kota Malang, serta sejumlah mitra strategis, di antaranya Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB), Forum Pembauran Kebangsaan (FPK), dan Forum Kewaspadaan Dini Masyarakat (FKDM).
Rahman menegaskan, keberagaman tidak cukup hanya dipandang sebagai identitas dan kebanggaan Kota Malang. Pemerintah bersama seluruh elemen masyarakat harus mampu memastikan perbedaan latar belakang suku, agama, ras, dan budaya tidak berkembang menjadi sumber gesekan sosial.
“Sebagai kota pendidikan, pariwisata, dan industri, Kota Malang dihuni masyarakat yang majemuk. Kemajemukan ini merupakan kekuatan, tetapi juga menyimpan potensi gangguan, seperti berita hoaks, ujaran kebencian, intoleransi, penyalahgunaan narkoba, dan konflik sosial,” demikian substansi yang disampaikan dalam laporan kegiatan tersebut.
Menurutnya, pemerintah tidak dapat bekerja sendiri dalam menjaga stabilitas daerah. Diperlukan keterlibatan mitra strategis yang memiliki kedekatan langsung dengan masyarakat, memahami dinamika di lapangan, sekaligus mampu menyampaikan informasi mengenai potensi persoalan sejak dini.
Karena itu, koordinasi lintas sektor perlu diperkuat melalui pertukaran informasi, pemetaan kerawanan, dan langkah pencegahan yang terukur. Tujuannya bukan sekadar merespons persoalan setelah terjadi, melainkan mengidentifikasi potensi gangguan sebelum berkembang menjadi konflik terbuka.
Salah satu tantangan yang mengemuka adalah besarnya mobilitas penduduk ke Kota Malang, terutama mahasiswa dari berbagai daerah yang datang untuk menempuh pendidikan.
Dalam pemaparannya, Kapolresta Malang Kota Kombes Pol. Danang Setiyo Pambudi menyoroti perlunya perhatian terhadap proses adaptasi mahasiswa dengan lingkungan tempat tinggalnya.
Ia menyebutkan, berdasarkan data yang disampaikan dalam forum tersebut, lebih dari 50 ribu mahasiswa baru masuk ke Malang Raya pada tahun ini. Angka itu menunjukkan besarnya mobilitas masyarakat yang perlu diimbangi dengan penguatan komunikasi antara perguruan tinggi, pemerintah, aparat keamanan, dan lingkungan tempat tinggal mahasiswa.
“Kalau ini tidak disinergikan, mereka tinggal di kos-kosan atau menyewa rumah, kemudian bersosialisasi dengan lingkungan sekitar. Kalau proses itu tidak berjalan dengan baik, bisa menjadi masalah. Ini perlu menjadi perhatian bersama agar potensi konflik tidak sampai terjadi,” tegasnya.
Menurut Danang, mahasiswa dan pendatang tidak boleh dipandang sebagai sumber masalah. Namun, pertumbuhan mobilitas penduduk harus diiringi upaya membangun hubungan sosial yang sehat, mencegah diskriminasi, dan memastikan setiap kelompok dapat beradaptasi dengan lingkungan secara baik.
Ia juga mengingatkan agar kasus penolakan terhadap mahasiswa dari daerah tertentu yang pernah mencuat beberapa tahun lalu tidak kembali terulang.
Selain persoalan adaptasi sosial, Danang menilai kebutuhan generasi muda terhadap ruang berekspresi juga perlu diperhatikan. Salah satunya berkaitan dengan kebiasaan balap liar yang masih menjadi persoalan di sejumlah ruas jalan.
Polresta Malang Kota, kata dia, tengah membuka kemungkinan kajian penyediaan lokasi yang layak untuk kegiatan otomotif, seperti road race atau drag race. Namun, rencana tersebut masih terkendala ketersediaan tempat dan persyaratan keselamatan.
Gagasan itu dinilai perlu dikaji secara matang agar penyaluran minat generasi muda dapat dilakukan melalui kegiatan yang lebih aman, tanpa mengabaikan ketertiban dan keselamatan pengguna jalan.
Di bidang pendidikan, Danang menjelaskan bahwa kepolisian menjalankan program Polisi Peduli Sekolah dengan mendatangi sekolah-sekolah untuk memberikan pembinaan, motivasi, serta penguatan karakter kepada pelajar.
Polresta Malang Kota juga membuka ruang koordinasi dengan Pemkot Malang untuk memetakan sekolah yang membutuhkan pendampingan lebih intensif.
“Kami tidak ingin mencampuri proses belajar mengajar. Kami ingin mendampingi dan mendorong agar anak-anak dalam meraih masa depannya tidak terpengaruh hal-hal negatif,” ujarnya.
Di lingkungan masyarakat, kepolisian turut mendorong penguatan keamanan berbasis wilayah melalui program satu kelurahan satu pos keamanan dan ketertiban masyarakat (kamtibmas), serta pendampingan pos keamanan lingkungan (poskamling) bersama unsur TNI, termasuk Bintara Pembina Desa (Babinsa).
Langkah tersebut diharapkan memperkuat komunikasi antara aparat dan warga sehingga indikasi gangguan keamanan dapat segera diketahui dan ditindaklanjuti.
Danang menegaskan, pencegahan harus menjadi tanggung jawab bersama. Masyarakat, aparat, dan pemerintah sama-sama memiliki kepentingan menjaga lingkungan agar tetap aman, sekaligus menghindari tindakan yang berpotensi merugikan diri sendiri maupun orang lain
Dalam kesempatan yang sama, Wali Kota Malang Wahyu Hidayat mengapresiasi kontribusi para mitra strategis, khususnya FKUB, FPK, dan FKDM, dalam menjaga kerukunan serta mendeteksi potensi gangguan sosial.
Wahyu menilai, keberagaman Kota Malang membutuhkan pendekatan kolaboratif karena setiap unsur memiliki peran berbeda yang saling melengkapi.
FKUB berperan menjaga kerukunan antarumat beragama, FPK memperkuat pembauran kebangsaan, sedangkan FKDM mendukung kewaspadaan dini terhadap potensi konflik di tengah masyarakat.
“Dalam menjalankan pemerintahan dan pembangunan, kami menyadari bahwa pemerintah tidak dapat bekerja sendiri. Dibutuhkan sinergi dan kolaborasi dengan seluruh elemen masyarakat,” tegas Wahyu.
Ia juga menyinggung dukungan lintas umat beragama ketika Kota Malang menjadi lokasi kegiatan yang dihadiri Presiden. Menurutnya, koordinasi dengan pengurus rumah ibadah di sekitar stadion membantu menjaga kelancaran kegiatan sekaligus memberikan ruang bagi jemaat untuk tetap menjalankan ibadah.
Wahyu turut mengapresiasi peran FKDM yang memiliki jaringan hingga tingkat kelurahan. Keberadaan jaringan tersebut dinilai penting untuk menyampaikan informasi awal mengenai kejadian atau indikasi gangguan di lingkungan masyarakat.
Ia mencontohkan, informasi mengenai dugaan pembakaran di Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Supit Urang turut menjadi bagian dari laporan awal yang diterimanya. Penanganan perkara tersebut selanjutnya berada di tangan kepolisian.
Meski demikian, informasi awal dan indikasi yang ditemukan dalam penyelidikan perlu dibedakan dari penetapan kesalahan seseorang. Penentuan pelaku tetap menjadi kewenangan aparat penegak hukum berdasarkan hasil penyelidikan dan penyidikan.
Penguatan sinergi tersebut diharapkan tidak berhenti pada pertemuan formal. Tantangan yang dihadapi Kota Malang membutuhkan mekanisme komunikasi yang berjalan secara konsisten, kejelasan pembagian tugas, serta tindak lanjut terhadap informasi yang diterima dari masyarakat.
Bakesbangpol bersama perangkat daerah dan mitra strategis diharapkan mampu membangun pola deteksi dini yang responsif, termasuk terhadap potensi intoleransi, penyalahgunaan narkoba, konflik antarkelompok, dan persoalan sosial di lingkungan pendidikan maupun permukiman.
Sebab, keberagaman tidak otomatis melahirkan kerukunan. Diperlukan kebijakan yang adil, komunikasi yang terbuka, serta tindakan pencegahan yang tidak menstigmatisasi kelompok tertentu.
Melalui kolaborasi tersebut, Pemkot Malang menargetkan terciptanya kehidupan masyarakat yang harmonis, saling menghormati, dan tetap kondusif di tengah dinamika kota yang terus berkembang.





















