Daerah

TPA Supiturang Masih Menyimpan Ancaman Api, Anggaran Rp3 Miliar Lebih Disiapkan

5
×

TPA Supiturang Masih Menyimpan Ancaman Api, Anggaran Rp3 Miliar Lebih Disiapkan

Share this article
TPA Supiturang Masih Menyimpan Ancaman Api, Anggaran Rp3 Miliar Lebih Disiapkan
Kepala DLH Kota Malang, Drs. Gamaliel Raymond Hatigoran M., M.AP., berjabat tangan dengan Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa saat berada di lokasi penanganan kebakaran TPA Supit Urang, Kota Malang.(Sudutkota.id/Agus Demit)

KOTA MALANG, Sudutkota.id – Kebakaran di Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Supiturang, Kota Malang, masih menyisakan pekerjaan besar. Proses pendinginan belum menjangkau seluruh area terdampak, sementara upaya menutup material terbakar menggunakan tanah terus dikebut untuk menekan risiko munculnya kembali titik api.

Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Malang menyiapkan anggaran sekitar Rp3 miliar lebih untuk mendukung penanganan. Di tengah kondisi darurat tersebut, pengerahan alat berat, pemenuhan kebutuhan air, hingga perlindungan petugas menjadi bagian penting dalam upaya mengendalikan dampak kebakaran.

Kepala DLH Kota Malang, Drs. Gamaliel Raymond Hatigoran M., M.AP., mengatakan petugas menggunakan alat berat untuk meratakan dan menguruk tanah di area terdampak. Pekerjaan tersebut berlangsung sejak siang hingga sore, pada Minggu (25/10/2026).

“Setelah pukul satu sampai pukul lima tadi, teman-teman menggunakan alat berat untuk mendorong dan meratakan tanah, kemudian menguruk serta menutup area TPA yang terbakar. Ini sebenarnya langkah darurat karena lahan di sekitar Kota Malang terbatas,” ujar Raymond, Minggu (25/10/2026) sore.

Menurutnya, proses pendinginan telah dilakukan, tetapi belum seluruh titik dapat dijangkau. Kondisi tersebut membuat penanganan harus dilakukan secara bertahap, dengan memprioritaskan area yang membutuhkan penanganan segera.

“Pendinginan hari ini sudah dilakukan, meskipun memang belum semuanya terjangkau. Kami berupaya agar penanganan bisa dipercepat sehingga titik-titik yang masih berpotensi menyimpan panas dapat segera ditangani,” jelasnya.

Untuk mempercepat penanganan kebakaran, DLH menyiapkan anggaran sekitar Rp3 miliar lebih. Dukungan anggaran tersebut diharapkan membantu memenuhi kebutuhan pekerjaan di lapangan, termasuk pengurukan tanah dan penanganan dampak lingkungan.

Raymond menyebut kemungkinan dukungan dari Dinas Pekerjaan Umum (DPU) juga menjadi bagian dari pembahasan. Selain pekerjaan fisik, terdapat pula pembahasan mengenai kompensasi tambahan bagi masyarakat yang terdampak kondisi lingkungan di sekitar TPA.

“Salah satunya, selain pengurukan tanah, juga ada pembahasan mengenai pembiayaan kompensasi tambahan bagi masyarakat sekitar yang terdampak lingkungan. Ini perlu dikoordinasikan lebih lanjut,” ungkapnya.

Besaran kebutuhan untuk setiap komponen pekerjaan masih perlu diperinci berdasarkan kondisi lapangan dan hasil koordinasi antarorganisasi perangkat daerah (OPD).

Pengurukan tanah menjadi salah satu langkah darurat untuk menutup material terdampak kebakaran. Namun, upaya tersebut harus berjalan beriringan dengan pendinginan agar titik-titik yang masih menyimpan panas dapat ditangani dan risiko api kembali muncul bisa ditekan.

Selain pengurukan tanah, ketersediaan air juga menjadi faktor penting dalam proses pendinginan. Jarak pengambilan air yang cukup jauh membuat pengaturan armada perlu dilakukan secara cermat agar kebutuhan di lokasi kebakaran tetap terpenuhi.

“Pengambilan air tadi cukup jauh. Untuk pengisian pertama dilakukan di satu lokasi, kemudian pengambilan kedua di sekitar GOR Ken Arok,” terang Raymond.

Tantangan tersebut semakin terasa karena masih ada area yang belum terjangkau pendinginan. Karena itu, kelanjutan pengerahan armada dan personel masih menunggu koordinasi lebih lanjut.

Raymond menjelaskan, petugas yang sebelumnya menangani kebakaran di kawasan Gunung Arjuno baru digeser ke TPA Supiturang setelah tugas di lokasi sebelumnya selesai.

“Setelah selesai di Gunung Arjuno, sekitar pukul sembilan sampai pukul sepuluh tadi, mereka kemudian digeser ke sini. Untuk kepastian apakah besok dilanjutkan atau menunggu kondisi di Arjuno, kami masih menunggu hasil koordinasi,” katanya.

Dengan demikian, kelanjutan dukungan personel dan armada, pada Senin (26/10/2026), masih menunggu keputusan berdasarkan kebutuhan penanganan di kedua lokasi.

Ancaman kebakaran tidak hanya menyangkut area pembuangan sampah, tetapi juga keselamatan petugas. Paparan asap tebal selama proses penanganan menyebabkan sekitar tiga petugas membutuhkan bantuan oksigen.

“Hari ini ada kurang lebih tiga orang yang membutuhkan oksigen karena kemungkinan terdampak asap yang cukup tebal,” ungkap Raymond.

Ia menjelaskan, petugas yang terdampak telah mendapatkan penanganan dari tim Dinas Kesehatan untuk membantu pemulihan kondisi.

“Setelah diberikan oksigen, pemulihannya ditangani teman-teman Dinas Kesehatan. Seperti kemarin, setelah mendapatkan penanganan, mereka langsung menjalani pemulihan,” pungkasnya.


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *