JOMBANG, Sudutkota.id – Krisis air bersih melanda Dusun Brangkal, Desa Jiporapah, Kecamatan Plandaan, Kabupaten Jombang, Jawa Timur.
Sejak awal Oktober 2026, sumur-sumur warga mengering. Sementara itu, fasilitas Penyediaan Air Minum dan Sanitasi Berbasis Masyarakat (Pamsimas) yang dibangun pada 2025 belum bisa dimanfaatkan karena airnya terasa asin.
Akibat kondisi tersebut, sekitar 150 kepala keluarga (KK) atau kurang lebih 700 jiwa di RT 01, RT 02, dan RT 04 Dusun Brangkal terpaksa mencari sumber air alternatif untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Sebagian warga bahkan harus mengambil air dari lubang-lubang di dasar sungai yang mengering. Kondisi itu berlangsung sebelum Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Jombang menyalurkan bantuan air bersih.
Suko (57), warga Dusun Brangkal, mengatakan sumur di rumahnya mulai mengering sejak sebulan terakhir. Untuk mendapatkan air, ia harus berjalan sekitar 300 meter menuju sungai.
Air yang diambil dari lubang-lubang di dasar sungai tersebut digunakan untuk mandi, mencuci pakaian, hingga memasak. Sementara untuk kebutuhan minum, Suko terpaksa membeli air mineral isi ulang seharga Rp 6.000 per galon.
“Sejak satu bulan lalu air sumur sudah mulai kering. Pamsimas airnya asin, jadi tidak bisa digunakan sejak awal,” ungkap Suko, Minggu (25/10/2026).
Kepala Dusun Brangkal, Suwoto, membenarkan kekeringan mulai dirasakan warga sejak awal Oktober. Sumur-sumur di wilayahnya mengering sehingga masyarakat kesulitan mendapatkan air untuk kebutuhan rumah tangga.
“Sebelum bantuan air bersih datang, warga mengandalkan air dari sungai untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari,” tuturnya.
Ia menyebut BPBD Kabupaten Jombang telah menyalurkan bantuan sebanyak 20.000 liter air bersih untuk warga Dusun Brangkal dan Dusun Jiporapah. “Bantuan tersebut diberikan untuk meringankan beban masyarakat yang terdampak kekeringan,” ucapnya.
Meski demikian, distribusi air bersih menjadi penanganan jangka pendek bagi warga yang kehilangan sumber air dari sumur. Di sisi lain, persoalan kualitas air Pamsimas yang terasa asin juga belum teratasi sehingga fasilitas tersebut belum bisa diandalkan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat.
Pamsimas yang dibangun pada 2025 itu diharapkan menjadi salah satu sumber pemenuhan kebutuhan air warga. Namun, berdasarkan keterangan warga, air yang dihasilkan belum dapat digunakan.
Kondisi tersebut menyisakan dua persoalan yang perlu mendapat penanganan, yakni pemenuhan kebutuhan air bersih selama musim kemarau dan pemeriksaan kualitas air Pamsimas agar fasilitas tersebut bisa dimanfaatkan sesuai peruntukannya.





















