KOTA MALANG, Sudutkota.Id – Wakil Wali Kota Malang, Ali Muthohirin mengajak para santri dan seluruh masyarakat untuk meneruskan semangat perjuangan para kiai dan ulama melalui pengabdian kepada bangsa, peningkatan kapasitas diri, serta kepedulian terhadap lingkungan.
Pesan tersebut disampaikan Ali Muthohirin dalam momentum peringatan Hari Santri Nasional, Kamis (22/10/2026). Menurutnya, Hari Santri bukan sekadar peringatan tahunan, melainkan momentum untuk kembali mengingat komitmen moral dan sejarah perjuangan para kiai, ulama, guru, serta santri dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia.
Ia menegaskan, perjuangan generasi terdahulu harus diteruskan dengan menyesuaikan tantangan zaman. Nilai-nilai perjuangan tersebut tidak boleh berhenti sebagai seremoni, tetapi perlu diwujudkan dalam tindakan nyata yang memberikan manfaat bagi masyarakat.
“Komitmen moral dan sejarah ini akan sia-sia kalau hanya diperingati setiap tahun tanpa ada keinginan kita melanjutkan perjuangan para kiai, para guru, dan para santri yang terlebih dahulu memperjuangkan bangsa ini,” ujar Ali.
Menurutnya, sejarah Hari Santri dan Resolusi Jihad menunjukkan bahwa peran santri tidak terbatas pada pendalaman ajaran agama di lingkungan pesantren. Santri juga memiliki tanggung jawab dalam menjaga persatuan bangsa, memperjuangkan kemanusiaan, serta berkontribusi terhadap kehidupan bernegara.
Ali menjelaskan, keislaman, kebangsaan, dan kemanusiaan merupakan nilai yang saling berkaitan dalam identitas santri Indonesia. Ketiganya perlu berjalan beriringan agar semangat keagamaan dapat diwujudkan melalui kontribusi nyata bagi kehidupan sosial.
“Santri tidak hanya diajari bagaimana memahami secara mendalam ajaran Islam di pesantren. Ada komitmen bahwa keislaman, kebangsaan, dan kemanusiaan itu adalah satu tarikan napas sebagai identitas santri di Indonesia,” jelasnya.
Ali juga menyoroti pentingnya peningkatan kapasitas santri dalam menghadapi tantangan masa depan. Menurutnya, perjuangan santri pada masa penjajahan memiliki konteks yang berbeda dengan perjuangan generasi saat ini.
Jika dahulu para kiai dan santri berjuang melawan penjajah demi merebut kemerdekaan, kini generasi santri memiliki tanggung jawab mengisi kemerdekaan melalui penguasaan ilmu pengetahuan, teknologi, dan peningkatan kualitas sumber daya manusia.
Ia menilai, penguatan nilai-nilai keislaman harus berjalan seiring dengan kemampuan menjawab perkembangan zaman. Dengan demikian, santri dapat mengambil peran strategis dalam pembangunan nasional dan mewujudkan cita-cita Indonesia Emas.
“Untuk mengisi kemerdekaan itu, santri punya kewajiban meningkatkan kemampuan dan kapasitasnya. Tidak hanya menguatkan dan mempertahankan nilai-nilai keislaman, tetapi ilmu pengetahuan dan teknologi juga harus dimiliki oleh para santri,” tegasnya.
Menurut Ali, tema Hari Santri yang mengarah pada penguatan negeri menuju Indonesia Emas tidak semestinya berhenti sebagai slogan. Tema tersebut harus menjadi dorongan bagi santri untuk terus belajar, mengembangkan kompetensi, serta mengambil bagian dalam menyelesaikan berbagai persoalan masyarakat.
Ia berharap, semangat perjuangan para kiai, ulama, dan santri terdahulu dapat terus diwariskan melalui pengabdian yang relevan dengan kebutuhan bangsa saat ini
Selain menyoroti pendidikan dan pengembangan kapasitas sumber daya manusia, Ali menekankan bahwa kepedulian terhadap lingkungan juga merupakan bagian penting dari nilai keislaman dan tanggung jawab sosial.
Menurutnya, masyarakat tidak dapat memisahkan persoalan lingkungan dari kehidupan sehari-hari. Kerusakan alam yang terus terjadi berpotensi menimbulkan dampak serius bagi kehidupan manusia, sehingga diperlukan kesadaran bersama untuk menjaga keseimbangan lingkungan.
“Semakin dahsyat kita merusak lingkungan, semakin dahsyat pula balasan lingkungan kepada kita. Maka dari itu, kita harus menjaga dan mengharmonisasi lingkungan kita,” ungkapnya.
Ali mengingatkan bahwa berbagai persoalan lingkungan tidak semata-mata dapat dipandang sebagai akibat dari kondisi alam. Perilaku manusia yang mengabaikan kelestarian lingkungan juga perlu menjadi bahan evaluasi bersama.
Ia mengaitkan pesan tersebut dengan kandungan Al-Qur’an dalam Surah Ar-Rum ayat 41, yang menjelaskan bahwa kerusakan di darat dan di laut terjadi akibat perbuatan tangan manusia.
Menurutnya, pesan tersebut menjadi pengingat bahwa manusia memiliki tanggung jawab untuk menjaga bumi dan tidak melakukan tindakan yang merusak keseimbangan alam.
Karena itu, ia mengajak para santri untuk tidak hanya memperkuat pemahaman keagamaan, tetapi juga menerjemahkan nilai-nilai tersebut melalui perilaku yang menjaga kebersihan, kelestarian, dan keharmonisan lingkungan.
“Bagian dari menguatkan negeri ini adalah adanya kesadaran bersama para santri untuk mengajak seluruh masyarakat menjaga lingkungannya,” tuturnya.
Lebih lanjut, Ali menyebut peringatan Hari Santri menjadi momentum bagi Pemerintah Kota Malang dan seluruh elemen masyarakat untuk memperkuat semangat pengabdian.
Ia berharap nilai sejarah dan moral yang terkandung dalam perjuangan para kiai serta santri dapat terus menjadi landasan dalam menjalankan tugas dan tanggung jawab kepada masyarakat.
Menurutnya, pengabdian tidak cukup diwujudkan melalui pernyataan atau peringatan simbolis. Semangat tersebut perlu diterjemahkan dalam kerja nyata yang memberikan manfaat bagi masyarakat luas.
Ali pun mengajak masyarakat Kota Malang untuk bersama-sama menjaga lingkungan, menghindari tindakan yang berpotensi menimbulkan kerusakan, serta membangun kehidupan sosial yang harmonis.
Ia menegaskan, cita-cita Indonesia Emas hanya dapat diwujudkan apabila seluruh elemen bangsa bersedia mengambil peran sesuai kapasitas masing-masing. Santri, pemerintah, dan masyarakat memiliki tanggung jawab bersama untuk memperkuat kualitas sumber daya manusia sekaligus menjaga keberlanjutan lingkungan.
“Semoga semangat para kiai, para santri, dan para guru kita dalam memahami Islam, menguatkan Islam, serta memperjuangkan negara terus kita tanamkan dan kobarkan dalam hati. Semoga menjadi api perjuangan dan pengabdian di masyarakat demi kemakmuran bangsa dan negara,” pungkasnya.





















