Daerah

Jombang Fest Habiskan Anggaran Miliaran dari APBD, Nasib Seniman dan Krisis Air Bersih Jadi Sorotan

16
×

Jombang Fest Habiskan Anggaran Miliaran dari APBD, Nasib Seniman dan Krisis Air Bersih Jadi Sorotan

Share this article
Jombang Fest Habiskan Anggaran Miliaran dari APBD, Nasib Seniman dan Krisis Air Bersih Jadi Sorotan
Penutupan Jombang Fest 2026 di Alun-Alun Jombang.(Sudutkota.id/Elok Apriyanto)

JOMBANG, Sudutkota.id – Gelaran Jombang Fest 2026 di Kabupaten Jombang, Jawa Timur, resmi berakhir pada Sabtu (24/10/2026).

Namun, di balik kemeriahan acara yang berlangsung hampir sebulan tersebut, muncul kritik dari kalangan seniman dan sorotan terhadap kondisi ratusan warga yang masih mengalami krisis air bersih di Kecamatan Plandaan.

Jombang Fest 2026 yang digelar sejak 2 Oktober itu menghadirkan berbagai kegiatan seni, budaya, olahraga, religi, hingga pameran usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Kegiatan tahunan tersebut juga menggunakan anggaran dari APBD Kabupaten Jombang yang nilainya mencapai miliaran rupiah.

Di tengah kemeriahan acara, sejumlah pelukis yang tergabung dalam Komunitas Pelukis Jombang (KOPIJO) justru memilih membongkar pameran mereka lebih awal. Keputusan itu diambil sebagai bentuk protes terhadap penataan lokasi pameran lukisan bertajuk Lorong Waktu yang dinilai tidak sesuai dengan kesepakatan awal.

Sementara itu, sekitar 150 kepala keluarga atau kurang lebih 700 jiwa di Dusun Brangkal, Desa Jiporapah, Kecamatan Plandaan, masih kesulitan mendapatkan air bersih.

Sejak awal Oktober 2026, sumur warga mengering, sedangkan fasilitas Penyediaan Air Minum dan Sanitasi Berbasis Masyarakat (Pamsimas) yang dibangun pada 2025 belum dapat dimanfaatkan karena airnya terasa asin.

Pameran lukisan Lorong Waktu semula dijadwalkan berlangsung selama lima hari, mulai 20 hingga 24 Oktober 2026, sebagai bagian dari rangkaian Jombang Fest 2026.

Namun, pada Selasa (20/10/2026), sejumlah anggota KOPIJO memutuskan membongkar dan mengemas kembali karya mereka. Para pelukis kecewa karena lokasi pameran dinilai tidak representatif dan penataan karya justru berada di belakang deretan pedagang kaki lima (PKL).

Anas, salah satu anggota KOPIJO, mengatakan para seniman telah mempersiapkan karya terbaik mereka jauh-jauh hari. Mereka mengikuti pameran setelah mendapat informasi bahwa panitia akan menyediakan tempat khusus yang layak untuk memajang lukisan.

“Tempat yang awalnya dijanjikan aman dan diberi penutup, tiba-tiba didirikan di tengah Alun-Alun secara mendadak. Hal itu sebenarnya sudah kami maklumi, yang penting karya lukisan teman-teman masih bisa terpajang,” ungkap Anas, Rabu (21/10/2026).

Kekecewaan bertambah ketika papan pameran ditempatkan di belakang deretan PKL. Kondisi tersebut dinilai mengurangi visibilitas karya dan membuat lukisan para seniman kurang mendapat perhatian pengunjung.

“Kami merasa usaha dan kerja keras para pelukis selama ini seolah diabaikan dan tidak dihargai sama sekali, karena tiba-tiba posisi papan pameran berada di belakang pedagang kaki lima,” tegasnya.

Menurut Anas, pihak penyelenggara atau event organizer (EO) beberapa kali menjanjikan perbaikan tata letak. Namun, hingga pameran berlangsung, perubahan yang diharapkan tidak kunjung terealisasi.

“Pihak EO selalu berjanji akan membenahi keadaannya, namun kenyataannya tetap tidak sesuai harapan,” pungkasnya.

Di tengah pelaksanaan kegiatan seremonial tersebut, persoalan kebutuhan dasar masyarakat masih dihadapi warga Dusun Brangkal, Desa Jiporapah, Kecamatan Plandaan.

Sekitar 700 jiwa yang tersebar di RT 01, RT 02, dan RT 04 terdampak kekeringan setelah sumur-sumur warga mulai mengering sejak awal Oktober 2026.

Sebagian warga terpaksa mencari air di lubang-lubang pada dasar sungai yang mengering untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Air tersebut digunakan untuk mandi, mencuci pakaian, hingga memasak.

Suko (57), warga Dusun Brangkal, mengatakan dirinya harus berjalan sekitar 300 meter menuju sungai untuk mendapatkan air. Sementara itu, kebutuhan air minum dipenuhi dengan membeli air isi ulang seharga Rp 6.000 per galon.

“Sejak satu bulan lalu air sumur sudah mulai kering. Pamsimas airnya asin, jadi tidak bisa digunakan sejak awal,” ungkap Suko, Minggu (25/10/2026).

Kepala Dusun Brangkal, Suwoto, membenarkan warga mulai mengalami kesulitan air bersih sejak awal Oktober. Sebelum bantuan pemerintah datang, masyarakat mengandalkan sumber air dari sungai untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga.

Menurut Suwoto, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Jombang telah menyalurkan bantuan sebanyak 20.000 liter air bersih untuk warga Dusun Brangkal dan Dusun Jiporapah.

Bantuan tersebut diharapkan dapat meringankan beban warga selama musim kemarau. Namun, distribusi air bersih masih menjadi penanganan jangka pendek selama sumur warga mengering.

Persoalan lain yang belum terselesaikan adalah kualitas air Pamsimas yang terasa asin. Padahal, fasilitas yang dibangun pada 2025 tersebut diharapkan menjadi salah satu sumber pemenuhan kebutuhan air bersih masyarakat.

Perlu diketahui Jombang Fest 2026 mengusung tema “Jombang Berbudaya, Bersama Berkarya, Jombang Berdaya”. Berbagai kegiatan digelar untuk memperingati Hari Jadi ke-116 Kabupaten Jombang sekaligus memperkenalkan potensi daerah.

Rangkaian acara meliputi kompetisi olahraga, Jombang Marching Competition, Ludruk Remaja, Festival Literasi, Jombang Bersholawat bersama Gus Iqdam, pertunjukan wayang kulit, Kirab Santri, Parade Tari Anak, Festival Lansia, Symphony Batik Jombang, Tobacco Agropreneur Day, hingga Gebyar Pajak 2026.

Pada 20–24 Oktober 2026, Jombang Fest juga menggelar UMKM Expo yang menghadirkan 80 tenant produk unggulan UMKM dan 20 tenant kuliner di area PASARASA.

Selain itu, kegiatan sosial berupa khitanan massal diikuti 210 anak dari 21 kecamatan, sedangkan operasi katarak gratis melayani 116 pasien.

Puncak Jombang Fest berlangsung di Alun-Alun Jombang, pada Sabtu (24/10/2026) malam dengan penampilan grup musik D’MASIV.

Bupati Jombang, Warsubi mengatakan Jombang Fest diharapkan menjadi ruang bersama untuk merawat kebudayaan, mendorong kreativitas, serta membuka peluang ekonomi bagi masyarakat.

“Harapan kami, manfaat Jombang Fest tidak berhenti ketika acaranya selesai. UMKM harus punya peluang untuk berkembang, seniman dan perajin perlu mendapat ruang untuk terus berkarya, dan generasi muda harus semakin berani menunjukkan kreativitasnya,” tuturnya.

Warsubi juga menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang terlibat dan menyebut kritik serta masukan masyarakat akan menjadi bahan evaluasi penyelenggaraan berikutnya.

“Kami terbuka terhadap setiap masukan. Harapannya, ke depan Jombang Fest bisa terselenggara dengan lebih baik, lebih nyaman, lebih tertata, dan semakin banyak memberikan manfaat bagi masyarakat,” imbuhnya.

Berakhirnya Jombang Fest 2026 menyisakan pekerjaan rumah bagi pemerintah daerah, mulai dari evaluasi penyelenggaraan dan pemberian ruang yang layak bagi seniman hingga penanganan krisis air bersih yang masih dialami warga.

Dampak kegiatan terhadap masyarakat diharapkan tidak berhenti pada kemeriahan acara, tetapi juga diwujudkan melalui dukungan berkelanjutan terhadap pelaku seni, pengembangan UMKM, dan pemenuhan kebutuhan dasar warga.


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *