Daerah

Banjir Mengintai Permukiman, BPBD Kota Malang Minta Warga Tak Abaikan Sampah Sungai

10
×

Banjir Mengintai Permukiman, BPBD Kota Malang Minta Warga Tak Abaikan Sampah Sungai

Share this article
Banjir Mengintai Permukiman, BPBD Kota Malang Minta Warga Tak Abaikan Sampah Sungai
Syarif Hidayat, saat memberikan keterangan kepada awak media terkait upaya mitigasi dan kesiapsiagaan menghadapi ancaman banjir melalui kegiatan GASS 2026 di wilayah Balearjosari dan Arjosari, Kota Malang.(Sudutkota.id/Agus Demit)

KOTA MALANG, Sudutkota.id – Ancaman banjir di Kota Malang kembali menjadi perhatian menjelang musim penghujan. Tumpukan sampah yang terbawa arus hingga kondisi bantaran sungai yang rawan tergerus air menjadi persoalan yang harus diantisipasi sejak dini, terutama di kawasan permukiman yang berada di sekitar aliran sungai.

Untuk menekan risiko tersebut, BPBD Kota Malang mengajak masyarakat tidak mengabaikan kebersihan sungai dan saluran air. Kesiapsiagaan menghadapi bencana, menurut BPBD, harus dimulai dari kesadaran warga menjaga lingkungan masing-masing, bukan baru bergerak setelah banjir terjadi.

Hal itu disampaikan Kepala Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD Kota Malang, Syarif Hidayat, dalam kegiatan GASS (Gerakan Angkat Sampah dan Sedimen) Tahun 2026 di wilayah Kelurahan Balearjosari dan Kelurahan Arjosari, Kecamatan Blimbing, Minggu (8/11/2026).

Kegiatan tersebut menyasar tiga titik, yakni Sungai RW 06 Kelurahan Balearjosari, Kali Mewek RT 04 RW 03 Kelurahan Balearjosari, serta Kali Mewek RT 04 RW 02 Kelurahan Arjosari. Kegiatan ini melibatkan tim terkait dan Telkom sebagai bagian dari gerakan bersama mengurangi risiko bencana hidrometeorologi.

Syarif menegaskan, masyarakat harus memiliki kesadaran bahwa pencegahan bencana tidak bisa dilakukan secara mendadak. Terlebih, memasuki musim penghujan, sampah yang terbawa arus berpotensi menumpuk dan menghambat aliran sungai.

“Ini merupakan langkah konkret dari upaya pencegahan dan kesiapsiagaan kami dalam menghadapi musim penghujan. BPBD sangat berperan aktif dalam mitigasi dan pengurangan risiko bencana. Masyarakat juga harus sadar, jangan menunggu bencana datang,” tegas Syarif

Ia menyoroti kondisi bantaran Sungai Balearjosari yang masih terdapat sejumlah pohon dan rumpun bambu atau dalam istilah masyarakat Jawa dikenal sebagai barongan. Ketika debit air meningkat, bagian bantaran yang tergerus berpotensi menyebabkan pohon maupun bambu tumbang dan terbawa arus.

Menurutnya, persoalan tersebut membutuhkan perhatian bersama. Sebab, selain tumpukan sampah, material pohon dan bambu yang tumbang juga berpotensi mengganggu kelancaran aliran air.

“Di Balearjosari ini salah satu persoalannya adalah sampah yang terbawa arus. Karena itu, kerja bakti harus rutin dilakukan. Di bantaran sungai juga terdapat pohon-pohon atau bambu yang sewaktu-waktu bisa tergerus air dan tumbang,” ungkapnya.

Syarif menilai keterlibatan BPBD dan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) sangat penting untuk memastikan upaya pengurangan risiko berjalan secara berkelanjutan. Kehadiran pemerintah di tengah masyarakat diharapkan tidak hanya sebatas kegiatan pembersihan, tetapi juga membangun kebiasaan menjaga lingkungan.

“Keterlibatan DLH dan BPBD sangat penting untuk berada di tengah-tengah masyarakat, sehingga risiko-risiko yang selama ini berpotensi menimbulkan banjir, khususnya di wilayah bantaran sungai, bisa dikurangi,” jelasnya.

Ia berharap kegiatan GASS tidak berhenti sebagai gerakan sesaat. Kesadaran membersihkan sungai, mengangkat sampah, mengurangi sedimentasi, serta menjaga kawasan bantaran harus menjadi kegiatan rutin masyarakat.

Dengan demikian, ancaman banjir tidak hanya ditangani ketika air sudah meluap dan memasuki permukiman. Sebaliknya, langkah pencegahan dilakukan lebih awal melalui keterlibatan pemerintah dan masyarakat dalam menjaga fungsi sungai serta lingkungan sekitarnya.


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *