Daerah

GASS di Balearjosari-Arjosari, Raymond Soroti 787 Ton Sampah Harian di Kota Malang: Ancaman Banjir hingga TPA Overload

10
×

GASS di Balearjosari-Arjosari, Raymond Soroti 787 Ton Sampah Harian di Kota Malang: Ancaman Banjir hingga TPA Overload

Share this article
GASS di Balearjosari-Arjosari, Raymond Soroti 787 Ton Sampah Harian di Kota Malang: Ancaman Banjir hingga TPA Overload
Kepala DLH Kota Malang, Drs. Gamaliel Raymond Hatigoran Matondang, M.AP., saat berbaur bersama warga melakukan kegiatan bersih-bersih dan pengangkatan sampah di tepi aliran Kali Mewek, dalam program GASS 2026.(Sudutkota.id/Agus Demit)

KOTA MALANG, Sudutkota.id – Persoalan sampah di Kota Malang menjadi perhatian serius Dinas Lingkungan Hidup (DLH). Produksi sampah yang disebut mencapai 787 ton per hari dinilai menjadi tantangan besar, bukan hanya bagi kapasitas tempat pemrosesan akhir (TPA), tetapi juga terhadap kondisi lingkungan dan potensi banjir akibat tersumbatnya aliran sungai maupun drainase.

Bahkan, tanpa pembenahan pengelolaan sampah sejak dari sumbernya, Kota Malang diperingatkan berpotensi menghadapi persoalan kelebihan kapasitas TPA dalam tiga tahun mendatang.

Peringatan tersebut disampaikan Kepala DLH Kota Malang, Drs. Gamaliel Raymond Hatigoran Matondang, M.AP., saat memberikan pengarahan dalam kegiatan Gerakan Angkat Sampah dan Sedimen (GASS) 2026 di wilayah Kelurahan Balearjosari dan Arjosari, Kecamatan Blimbing, Minggu (8/11/2026).

Kegiatan GASS kali ini menyasar tiga lokasi, yakni sungai RW 06 Kelurahan Balearjosari, Kali Mewek RT 04 RW 03 Kelurahan Balearjosari, serta Kali Mewek RT 04 RW 02 Kelurahan Arjosari.

Dalam arahannya, Raymond mengungkapkan bahwa produksi sampah Kota Malang berdasarkan data yang disampaikannya mencapai sekitar 787 ton setiap hari. Menurutnya, kondisi tersebut membutuhkan perubahan mendasar dalam pola pengelolaan sampah, terutama dengan melibatkan masyarakat sejak dari lingkungan rumah tangga.

Ia mengingatkan, apabila persoalan sampah terus dibiarkan tanpa pengurangan dari hulu, beban TPA akan semakin berat dan berpotensi tidak mampu menampung sampah yang dihasilkan masyarakat.

“Kalau tidak ada pengelolaan sampah di hulu, mulai dari rumah tangga, bisa dipastikan tiga tahun lagi Kota Malang sudah tidak bisa membuang sampah di TPA karena sudah overload,” tegas Raymond.

Ia menekankan, penanganan sampah tidak cukup hanya mengandalkan pengangkutan menuju tempat pemrosesan akhir. Kesadaran masyarakat untuk mengurangi, memilah, dan mengelola sampah dari rumah menjadi bagian penting dalam menyelesaikan persoalan tersebut.

Raymond juga mengaitkan persoalan sampah dengan potensi banjir di sejumlah kawasan Kota Malang. Menurutnya, tumpukan sampah yang menyumbat sungai, saluran drainase hingga gorong-gorong dapat menghambat aliran air, sehingga memperburuk kondisi ketika hujan turun.

“Salah satu penyebab banjir di Kota Malang adalah mampetnya saluran sungai, drainase maupun gorong-gorong karena sampah. Jadi bukan semata-mata karena kondisi wilayah, tetapi banyaknya sampah di saluran air juga menjadi persoalan,” jelasnya.

Karena itu, ia mengapresiasi keterlibatan masyarakat dalam kegiatan GASS yang dilaksanakan di 57 kelurahan pada lima kecamatan di Kota Malang.

Raymond menyebut, gerakan kebersihan dan pengelolaan sampah yang dijalankan Pemkot Malang sebelumnya juga memperoleh penghargaan tingkat pertama untuk wilayah Jawa dan Bali dalam kategori pengelolaan sampah dan Indonesia Asri. Penghargaan tersebut disertai bantuan pembinaan sebesar Rp2 miliar dari pemerintah pusat.

“Penghargaan ini harus menjadi motivasi untuk terus memperbaiki pengelolaan sampah. Jangan sampai hanya berhenti pada kegiatan seremonial, tetapi harus menjadi kebiasaan masyarakat dalam menjaga lingkungannya,” ujarnya.

Ia juga mengingatkan masyarakat agar meningkatkan kepedulian terhadap kebersihan lingkungan dalam menghadapi potensi dampak El Nino. Warga diminta tidak membiarkan sampah menumpuk di sekitar permukiman maupun aliran sungai.

“Harapan kami, melalui gerakan ini Kota Malang bisa berbenah, terutama dalam mengurangi persoalan sampah dan banjir. Kami mengajak seluruh warga untuk bertanggung jawab terhadap sampah masing-masing,” tandasnya.

Sementara itu, Camat Blimbing, Ketut Widi Eka Wirawan, S.Sos., M.M., mengatakan penanganan sampah dan sedimentasi di kawasan sungai membutuhkan keterlibatan banyak pihak. Sebab, kondisi geografis sejumlah sungai di wilayahnya cukup menantang, dengan kontur curam serta permukiman warga yang berada dekat sempadan sungai.

Kondisi tersebut membuat proses pembersihan tidak selalu bisa mengandalkan peralatan berat maupun dukungan sarana prasarana pemerintah. Keterbatasan akses jalan dan gang menuju sungai turut menjadi kendala tersendiri.

“Rata-rata sungai kita kondisinya curam, sementara di sisi lain permukimannya padat dan banyak warga tinggal di sempadan sungai. Kondisi ini membutuhkan sarana prasarana yang memadai. Namun, akses jalan, gang maupun kondisi sungainya cukup dalam dan curam,” ungkap Widi.

Menghadapi keterbatasan tersebut, pihak kecamatan mengoptimalkan potensi lokal melalui gerakan gotong royong yang melibatkan RT, RW, tokoh masyarakat, lembaga kemasyarakatan, PKK, Kelurahan Tangguh, Kecamatan Tangguh hingga SIBAT PMI.

Menurutnya, GASS menjadi salah satu upaya untuk mengangkat sampah dan sedimentasi yang selama ini menumpuk di dasar sungai. Material yang menghambat aliran air secara bertahap dibersihkan agar kondisi sungai lebih terjaga.

“Melalui GASS ini, sampah dan sedimentasi yang ada di bawah kita angkat ke atas. Memang tidak mudah, tetapi dengan sinergi dan gotong royong seluruh elemen masyarakat, kita berupaya mengurangi potensi persoalan di sepanjang aliran sungai,” terangnya.

Widi menambahkan, terdapat tiga kawasan yang selama ini menjadi perhatian karena rutin terdampak banjir,Kelurahan Purwodadi, Kelurahan Blimbimg , dan Kelurahan Purwantoro.

Selain GASS, pihak kecamatan juga menjalankan program RT Berkelas yang salah satunya diarahkan pada kegiatan kebersihan lingkungan, pembersihan serta pengaktifan kembali fungsi gorong-gorong di setiap RT.

“Wilayah yang rutin terdampak itu Purwodadi, Blimbing , dan Purwantoro. Kita antisipasi melalui GASS dan kegiatan kebersihan di tingkat RT, termasuk pembersihan serta pengaktifan gorong-gorong. Mudah-mudahan langkah ini bisa mengurangi risiko dan dampak ketika intensitas hujan meningkat,” pungkasnya.


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *