Daerah

Ancaman Bencana Mengintai, Wawali Malang Dorong 4.000 Siswa Kuasai Evakuasi

3
×

Ancaman Bencana Mengintai, Wawali Malang Dorong 4.000 Siswa Kuasai Evakuasi

Share this article
Ancaman Bencana Mengintai, Wawali Malang Dorong 4.000 Siswa Kuasai Evakuasi
Wakil Wali Kota Malang, Ali Muthohirin saat bertemu dan mengikuti kegiatan Sosialisasi serta Simulasi Satuan Pendidikan Aman Bencana (SPAB) bersama siswa SMP Negeri 17 Kota Malang.(Foto:sudutkota.id/Andik Agus Demit)

KOTA MALANG, Sudutkota.id – Ancaman bencana tidak mengenal waktu dan tempat. Sekolah yang menjadi ruang belajar sekaligus tempat berkumpulnya ribuan anak setiap hari dituntut tidak boleh gagap ketika kondisi darurat benar-benar terjadi.

Karena itu, Pemerintah Kota Malang mulai memperkuat kesiapsiagaan bencana di lingkungan satuan pendidikan melalui program Satuan Pendidikan Aman Bencana (SPAB).

Wakil Wali (Wawali) Kota Malang, Ali Muthohirin, terjun langsung bertemu para siswa SMP Negeri 17 Kota Malang dalam kegiatan Sosialisasi dan Simulasi SPAB, Kamis (3/9/2026).

Tak berhenti pada penyampaian materi, para siswa mengikuti simulasi bersama BPBD Kota Malang. Mereka diperkenalkan dengan langkah evakuasi, titik kumpul, hingga tindakan yang harus dilakukan ketika menghadapi kondisi darurat.

Ali menegaskan, pembelajaran kebencanaan harus mampu membentuk siswa yang benar-benar memahami tindakan penyelamatan, bukan sekadar mengetahui teori.

“Hari ini bagian dari sosialisasi pembelajaran kebencanaan yang dilaksanakan oleh BPBD Kota Malang,” ujar Ali.

Menurutnya, kegiatan tersebut merupakan bagian dari hasil musyawarah perencanaan pembangunan yang menjadi salah satu dasar pelaksanaan program pembelajaran kebencanaan di Kota Malang.

Pemkot Malang menargetkan program SPAB menyasar 43 satuan pendidikan, dengan sekitar 4.000 kader atau siswa yang akan mendapatkan pelatihan.

“Targetnya 43 satuan pembelajaran, nanti rencana sekitar 4.000 kader atau siswa yang diajak pelatihan sampai 4.000 siswa,” jelasnya.

Target tersebut bukan perkara kecil. Sebab, kesiapsiagaan bencana tidak cukup hanya mengandalkan BPBD, pemadam kebakaran, kepolisian maupun unsur penyelamat lainnya. Ketika bencana terjadi di sekolah, kemampuan warga sekolah mengambil keputusan cepat dalam hitungan detik dapat menentukan keselamatan.

Ali berharap pembelajaran kebencanaan nantinya dapat menjangkau seluruh tingkatan pendidikan di Kota Malang. Dengan begitu, siswa sejak dini telah memiliki pengetahuan dan keberanian untuk menghadapi situasi darurat.

“Harapannya semua tingkatan di pendidikan Kota Malang sudah siap dan waspada terhadap bencana,” tegasnya.

Ia menilai, anak-anak Kota Malang harus dibekali pemahaman yang konkret mengenai apa yang harus dilakukan ketika bencana terjadi.

“Ini penting karena adik-adik, anak-anak kami Kota Malang, terutama di tingkat pendidikan ini sudah waspada dan sudah paham apa yang harus dilakukan ketika menghadapi bencana,” tandas Ali.

Program SPAB pun tidak semestinya berhenti pada kegiatan seremonial. Keberhasilannya harus diukur dari seberapa siap sekolah melakukan evakuasi, seberapa jelas jalur penyelamatan, apakah titik kumpul benar-benar tersedia dan mudah dijangkau, serta apakah siswa dan guru mampu bertindak cepat tanpa panik.

Sebab, ketika bencana benar-benar terjadi, tidak ada ruang untuk coba-coba. Pengetahuan yang hanya tersimpan di ruang kelas tanpa pernah dilatih berisiko tidak banyak membantu ketika keadaan berubah menjadi darurat.


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *