Daerah

Hampir Dua Pekan Dilalap Api, TPA Supiturang 98 Persen Terkendali, Asap Masih Mengepul di Tebing

12
×

Hampir Dua Pekan Dilalap Api, TPA Supiturang 98 Persen Terkendali, Asap Masih Mengepul di Tebing

Share this article
Hampir Dua Pekan Dilalap Api, TPA Supiturang 98 Persen Terkendali, Asap Masih Mengepul di Tebing
Kepala DLH Kota Malang, Drs. Gamaliel Raymond Hatigoran Matondang, M.AP., saat memberikan keterangan kepada awak media terkait perkembangan terkini penanganan kebakaran TPA Supiturang yang telah mencapai 98 persen terkendali, di sela kegiatan GASS 2026, Minggu (8/11/2026).(Sudutkota.id/Agus Demit)

KOTA MALANG, Sudutkota.id – Kebakaran di Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Supiturang, Kota Malang, yang berlangsung hampir dua pekan akhirnya menunjukkan perkembangan signifikan.

Sebanyak 98 persen dari total area terdampak kebakaran seluas sekitar 13 hektare dilaporkan telah terkendali. Namun, ancaman belum sepenuhnya berakhir karena masih ditemukan satu hingga dua titik kepulan asap di kawasan tebing sisi selatan TPA.

Kondisi tersebut terungkap dari hasil pemantauan terakhir Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Malang, pada Minggu (8/11/2026), sekitar pukul 05.00 WIB.

Kepala DLH Kota Malang, Drs. Gamaliel Raymond Hatigoran Matondang, M.AP., mengatakan petugas gabungan dari DLH, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), dan Dinas Pemadam Kebakaran (Damkar) masih melakukan pemantauan serta pembasahan untuk memastikan tidak ada lagi titik api yang tersisa.

“Pantauan tadi pukul lima pagi, kondisi sudah 98 persen terkendali dari total area terbakar sebelumnya sekitar 13 hektare. Teman-teman dari Damkar, DLH, dan BPBD masih melakukan pembasahan. Harapannya bisa segera mencapai 100 persen,” ungkap Raymond, Minggu (8/11/2026).

Meski sebagian besar area telah terkendali, masih adanya kepulan asap menjadi pekerjaan yang belum bisa diabaikan. Terlebih, titik tersebut berada di kawasan tebing yang sulit dijangkau petugas.

Raymond menjelaskan, lokasi sisa asap berada di sisi selatan TPA yang berbatasan langsung dengan Desa Jedong. Area tersebut bukan bagian dari hot landfill, tetapi memiliki kondisi geografis cukup terjal sehingga membutuhkan penanganan khusus.

Persoalan semakin kompleks karena tumpukan sampah di TPA Supiturang memiliki kedalaman sekitar 30 hingga 35 meter. Kondisi itu memungkinkan bara api menjalar dan bertahan di bagian dalam timbunan meskipun permukaan terlihat sudah tidak terbakar.

“Selama ini teman-teman dari BPBD maupun Damkar menggunakan sistem injeksi untuk menyemprot ke bagian dalam. Karena posisi tumpukan sampah di TPA itu sudah 30 sampai kurang lebih 35 meter, sehingga memungkinkan penjalaran api turun sampai ke dalam. Makanya sampai hari ini masih ada satu dua titik asap,” jelasnya.

DLH menargetkan pembasahan lanjutan dapat dilakukan, pada Senin (9/11/2026). Langkah tersebut diharapkan mampu menuntaskan sisa titik asap sekaligus memastikan seluruh area benar-benar aman dari potensi kebakaran susulan.

“Harapannya nanti Senin sesuai target bisa dilakukan pembasahan sampai 100 persen. Teman-teman sudah hampir dua minggu full time di lokasi, sehingga hari ini dilakukan pemantauan dan istirahat sejenak,” terangnya.

Tidak hanya fokus pada pemadaman, DLH juga mulai menyiapkan langkah pemulihan lingkungan di kawasan tebing sisi selatan TPA yang berbatasan dengan Desa Jedong.

Raymond mengungkapkan, pihaknya merencanakan penanaman pohon di area tersebut. Selama ini, kawasan tebing lebih banyak ditumbuhi rumput. Selain penghijauan, DLH juga akan membuat cekungan untuk menampung air hujan sebagai bagian dari upaya menjaga kondisi lingkungan.

Namun, pelaksanaannya tidak mudah. Ketinggian tebing yang mencapai sekitar 60 hingga 70 meter membuat akses untuk penyiraman maupun pemeliharaan tanaman cukup sulit.

“Kami rencanakan nanti ada penanaman pohon di sana. Karena selama ini hanya ada rumput. Kita buatkan cekungan untuk air, minimal bisa menadah air pada waktu musim hujan. Posisi untuk penyiraman juga cukup sulit karena tebingnya memiliki ketinggian sekitar 60 sampai 70 meter,” paparnya.

Sementara itu, terkait dukungan pemadaman melalui water bombing, Raymond menyebut operasi tersebut sudah tidak dilakukan selama sekitar satu pekan terakhir.

Meski demikian, ia menyampaikan apresiasi kepada Pemerintah Provinsi Jawa Timur melalui BPBD Provinsi atas bantuan water bombing yang sebelumnya dikerahkan untuk menjangkau titik kebakaran yang sulit ditangani dari darat.

“Water bombing sudah satu minggu tidak dilaksanakan. Kami mengucapkan terima kasih sebesar-besarnya kepada pemerintah provinsi melalui BPBD Provinsi atas bantuan yang diberikan. Kemarin area yang dibasahi merupakan lokasi yang sulit dijangkau teman-teman karena berada di kawasan tebing,” pungkasnya.


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *