Daerah

Hadapi Cuaca Ekstrem dan Ekonomi Tak Menentu, Amithya Tantang Warga Mandiri Pangan

2
×

Hadapi Cuaca Ekstrem dan Ekonomi Tak Menentu, Amithya Tantang Warga Mandiri Pangan

Share this article
Hadapi Cuaca Ekstrem dan Ekonomi Tak Menentu, Amitya Tantang Warga Mandiri Pangan
Amithya Ratnanggani Sirraduhita saat menyampaikan materi tentang pentingnya membangun ekosistem kemandirian pangan dalam kegiatan reses di Balai RW 10 Dirgantara, Kelurahan Lesanpuro, Kecamatan Kedungkandang, Rabu (4/11/2026).(Sudutkota.id/Agus Demit)

KOTA MALANG, Sudutkota.id – Menghadapi ancaman cuaca ekstrem dan kondisi perekonomian yang fluktuatif, masyarakat dituntut tidak hanya bergantung pada pasokan pangan di pasar.

Kemandirian pangan dari lingkungan rumah tangga dinilai menjadi salah satu solusi untuk memperkuat ketahanan ekonomi keluarga.

Pesan tersebut ditegaskan Ketua DPRD Kota Malang sekaligus Ketua DPC PDI Perjuangan Kota Malang, Amithya Ratnanggani Sirraduhita, SS, saat menggelar kegiatan reses di Balai RW 10 Dirgantara, Kelurahan Lesanpuro, Kecamatan Kedungkandang, Rabu (4/11/2026).

Kegiatan yang mengusung tema “Membangun Ekosistem Kemandirian Pangan” tersebut dihadiri sekitar 200 simpatisan dan masyarakat. Dalam kesempatan itu, Amithya mengajak warga mulai memanfaatkan lahan kosong maupun pekarangan rumah sebagai sumber produksi pangan produktif.

Menurutnya, situasi cuaca yang semakin ekstrem dan kondisi ekonomi yang tidak selalu stabil harus diantisipasi dengan membangun kemampuan masyarakat memenuhi kebutuhan dasarnya secara mandiri.

“Sekarang ini kita sedang menghadapi cuaca yang cukup ekstrem. Kemudian kondisi perekonomian juga luar biasa fluktuatif. Karena itu, saya berharap masyarakat bisa menemukan swadaya untuk diri mereka sendiri. Berdikari dengan berbagai macam cara, salah satunya melalui kemandirian pangan,” tegas Amithya.

Ia menilai, keterbatasan lahan bukan alasan bagi masyarakat untuk tidak mulai memproduksi bahan pangan sendiri. Berbagai tanaman dapat dikembangkan dengan metode sederhana, termasuk menggunakan polybag di pekarangan rumah.

Beberapa komoditas yang dinilai potensial antara lain cabai, kacang panjang, kacang rambat, kedelai, serta berbagai jenis tanaman pangan lainnya.

“Memanfaatkan lahan-lahan yang masih ada di wilayah rumah tinggal masing-masing untuk dikelola, sehingga lahan tersebut bisa menghasilkan sesuatu bagi keluarga. Tidak hanya untuk dikonsumsi sendiri, tetapi kalau hasilnya berlebih juga bisa memberikan manfaat ekonomi,” jelasnya.

Amithya bahkan melihat gerakan tersebut memiliki peluang lebih besar apabila dilakukan secara kolektif di lingkungan permukiman. Hasil produksi yang melimpah dapat dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan beberapa rumah tangga sekaligus.

“Contohnya cabai, itu bisa ditanam menggunakan polybag kecil. Kemudian kacang panjang, kacang rambat, kedelai, dan berbagai varian tanaman lainnya. Paling tidak bisa memenuhi kebutuhan sendiri, bahkan kalau surplus bisa membantu beberapa rumah tangga di lingkungan tersebut,” ungkapnya.

Lebih jauh, Amithya mengingatkan bahwa kemandirian pangan tidak boleh hanya berhenti pada kegiatan menanam dan memanen. Masyarakat perlu mendapatkan edukasi agar mampu mengolah hasil produksi menjadi komoditas lanjutan yang memiliki nilai jual.

Menurutnya, pengembangan pangan berbasis lingkungan harus dibangun dari hulu hingga hilir. Dengan begitu, masyarakat tidak hanya menjadi produsen bahan mentah, tetapi juga berpeluang menciptakan produk olahan yang dapat dipasarkan.

“Kalau ada edukasi dan pengetahuan yang tepat, komoditas pangan yang dihasilkan dari lahan tersebut bisa diolah menjadi produk berikutnya. Jadi, intinya dari hulu ke hilir,” paparnya.

Ia juga mengaitkan kemandirian pangan dengan pemenuhan kebutuhan gizi keluarga. Ketersediaan bahan pangan di lingkungan rumah diharapkan memudahkan orang tua menyediakan makanan bergizi bagi anak-anak.

Bahkan, pola tersebut dapat menjadi salah satu langkah pendukung dalam upaya pencegahan stunting.

“Orang tua juga harus kreatif dalam menakar porsi makanan dan memahami komponen-komponen bergizi yang dibutuhkan anak-anak di dalam piring mereka,” terangnya.

Amithya secara khusus menyoroti potensi Kecamatan Kedungkandang yang memiliki wilayah luas dan masih menyimpan sejumlah lahan yang dapat dikembangkan menjadi kawasan produktif.

Ia berharap model pengembangan pangan berbasis masyarakat yang sudah berjalan di sejumlah wilayah Kota Malang bisa direplikasi secara lebih luas, terutama di Kedungkandang.

Salah satu contohnya adalah pengembangan greenhouse, tanaman buah dalam pot (tabulampot), dan hidroponik di kawasan Sawojajar yang mulai memberikan manfaat bagi masyarakat sekitar.

“Di beberapa wilayah sebenarnya sudah ada contoh baik. Di Sawojajar sudah mulai banyak greenhouse, Tabulampot, hidroponik, dan sebagainya yang kemudian bisa dinikmati masyarakat sekitar. Harapan saya, hal seperti ini bisa diduplikasi di seluruh wilayah Kedungkandang,” tandasnya.

Selain itu, ia mencontohkan Kampung Semar sebagai salah satu kawasan yang berhasil mengembangkan potensi lingkungan menjadi sumber produksi pangan. Berbagai komoditas seperti buah-buahan dan sayuran telah dikembangkan melalui keterlibatan masyarakat.

Menurutnya, keberhasilan tersebut membuktikan bahwa lingkungan permukiman dapat menjadi kekuatan ekonomi apabila dikelola secara serius dan berkelanjutan.

Untuk memperluas gerakan tersebut, Amitya menegaskan pentingnya dukungan pemerintah daerah melalui perangkat daerah yang membidangi ketahanan pangan.

DPRD Kota Malang, kata dia, akan mendorong agar pengembangan kemandirian pangan tidak sekadar menjadi imbauan, tetapi disertai edukasi dan pendampingan yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat.

Namun, ia juga mengingatkan bahwa masyarakat tidak harus menunggu program besar untuk memulai. Langkah sederhana dengan memanfaatkan potensi yang tersedia di lingkungan masing-masing justru harus menjadi gerakan awal.

“Jadi, tidak hanya kemudian kita memikirkan hal-hal yang muluk-muluk. Tetapi, apa yang sederhana dan bisa dilakukan oleh masyarakat setempat, itu yang harus kita galakkan lagi,” pungkas Amithya.


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *