Daerah

Lawan Lonjakan Harga Cabai, Pemkot Malang Tanam 4.000 Bibit di Tengah Ancaman El Nino

18
×

Lawan Lonjakan Harga Cabai, Pemkot Malang Tanam 4.000 Bibit di Tengah Ancaman El Nino

Share this article
Lawan Lonjakan Harga Cabai, Pemkot Malang Tanam 4.000 Bibit di Tengah Ancaman El Nino
Pj Sekda Kota Malang, Dandung Djulharjanto, bersama kelompok tani dan jajaran terkait berfoto bersama usai melakukan penanaman bibit cabai di lahan Gapoktan Sumber Rejeki, Kelurahan Merjosari, Kota Malang.(Sudutkota.id/Agus Demit)

KOTA MALANG, Sudutkota.id – Pemerintah Kota (Pemkot) Malang mulai menggenjot produksi cabai lokal untuk menghadapi lonjakan harga dan menekan inflasi.

Sebanyak 4.000 bibit cabai ditanam di lahan Gapoktan Sumber Rejeki, Kelurahan Merjosari, Kota Malang, Rabu (21/10/2026), di tengah ancaman cuaca ekstrem dan prediksi El Nino yang berpotensi mengganggu produksi pertanian.

Langkah tersebut menjadi salah satu upaya memperkuat ketersediaan cabai di tingkat lokal. Pasalnya, harga cabai di pasaran saat ini telah menyentuh kisaran Rp50.000 per kilogram, sedangkan harga di tingkat petani sekitar Rp40.000 per kilogram.

Penjabat (Pj) Sekretaris Daerah Kota Malang, Dandung Djulharjanto, mengatakan gerakan penanaman cabai dilakukan melalui kolaborasi pemerintah dengan masyarakat, khususnya kelompok tani. Lahan yang disiapkan mencapai 6.000 meter persegi dengan memanfaatkan area sela di antara tanaman jeruk.

“Ini dalam rangka pengendalian inflasi melalui gerakan penanaman cabai. Selain bahan pokok lainnya, cabai juga sangat berpengaruh terhadap inflasi,” ujar Dandung.

Menurutnya, gejolak harga cabai berdampak langsung terhadap pengeluaran rumah tangga. Ketika pasokan berkurang, masyarakat harus menghadapi kenaikan harga untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Karena itu, Pemkot Malang berharap gerakan tersebut tidak berhenti pada penanaman bibit, tetapi berlanjut hingga menghasilkan panen yang dapat membantu menjaga pasokan dan menekan harga di pasaran.

“Harapannya, dua sampai tiga bulan ke depan, atau empat bulan ke depan, sudah menghasilkan. Paling tidak bisa menekan harga-harga di pasaran, yang otomatis juga akan menekan inflasi di Kota Malang,” tegasnya.

Dandung menjelaskan, lahan di Merjosari bukan lahan baru. Kelompok tani memanfaatkan ruang di antara tanaman jeruk melalui pola tumpangsari agar penggunaan lahan lebih optimal dan pemeliharaan tanaman lebih efisien.

“Lahan ini lahan lama. Jadi, dimanfaatkan di sela-sela kebun dan tanaman jeruk. Dengan demikian, pemeliharaannya bisa lebih efektif karena sekalian merawat jeruk, sekaligus cabainya,” jelasnya.

Bibit cabai yang ditanam berasal dari Dispangtan Kota Malang dan dikembangkan dari benih yang disiapkan melalui anggaran APBD 2025. Untuk menunjang pertumbuhan tanaman, lokasi tersebut juga memiliki tampungan air di kolam bagian bawah serta mesin pompa yang dapat digunakan untuk mengalirkan air ke lahan ketika diperlukan.

Dandung menyebut produktivitas normal cabai dapat mencapai sekitar satu ton per hektare. Namun, hasil tersebut tetap bergantung pada kondisi cuaca, kecukupan air, dan pemeliharaan tanaman.

Gerakan di Merjosari ini menjadi tahap awal yang rencananya akan diperluas secara bertahap ke lokasi lain di Kota Malang. Pemkot juga menggandeng kelompok tani, Bank Indonesia (BI), serta kalangan akademisi untuk mendukung keberhasilan program.

“Saya yakin gerakan menanam cabai yang kita mulai di Merjosari ini bisa bertumbuh dengan baik dan menghasilkan karena kita melibatkan petani yang profesional, dengan pendampingan dan pembinaan dari Dispangtan Pemerintah Kota Malang,” ungkapnya.

Ia menegaskan, perkembangan tanaman akan dipantau untuk mengevaluasi hasil awal program tersebut.

“Nanti kita lihat perkembangannya. Kita evaluasi lagi tiga bulan ke depan,” pungkas Dandung.

Sementara itu, Ketua Gapoktan Sumber Rejeki, Heni Mariana, mengungkapkan bahwa petani menghadapi tantangan serius akibat cuaca panas ekstrem dan keterbatasan air. Kondisi tersebut berpotensi mengganggu pertumbuhan tanaman hingga memangkas hasil panen secara signifikan.

“Kalau cuaca ekstrem, paling hanya 30 persen. Jadi, bisa sampai tidak bisa panen juga,” kata Heni.

Ia menjelaskan, kenaikan harga cabai saat ini juga berkaitan dengan terganggunya produksi di sejumlah daerah yang mengalami kondisi terlalu panas. Di tengah situasi tersebut, petani harus memastikan tanaman tetap memperoleh air yang cukup agar mampu bertahan hingga masa panen.

Heni mengapresiasi dukungan sembilan unit pompa air dari Bank Indonesia yang dinilai membantu kelompok tani mengatasi persoalan pengairan selama musim kemarau.

“Dengan kekurangan air seperti sekarang, bantuan sembilan pompa dari BI itu sangat membantu bagi kami,” ungkapnya.

Di sisi lain, pendampingan akademisi diharapkan mampu memperkuat budidaya cabai, terutama melalui perbaikan kualitas tanah dan penerapan teknologi pertanian.

Perwakilan Fakultas Teknologi Pertanian dan Kehutanan Universitas Brawijaya (UB), Setiono Yudo Tiasmoro, mengatakan pihaknya telah menjalin perjanjian kerja sama (PKS) dengan kelompok tani. Pendampingan akan terus dilakukan meskipun program Kuliah Kerja Nyata (KKN) mahasiswa telah berakhir.

“Kami sudah PKS dengan kelompok tani. Setelah KKN, kami akan melanjutkan program ini. Jadi, tidak hanya selesai KKN, tetapi tetap mendampingi petani di sini,” jelas Setiono.

Ia menerangkan, pendampingan mencakup pembuatan pupuk organik dan penerapan Plant Growth-Promoting Rhizobacteria (PGPR), yakni mikroorganisme menguntungkan yang membantu mendukung pertumbuhan tanaman serta memperbaiki kondisi tanah.

Menurut Setiono, penggunaan pupuk perlu diimbangi upaya menjaga bahan organik dan mikroorganisme tanah agar kesuburan lahan tetap terpelihara.

“Kami mendukung pembuatan pupuk organik dan penggunaan PGPR atau mikroba baik pada tanah. Itu akan membantu mengembalikan kesuburan tanah,” paparnya.

Meski optimistis, ia mengakui bahwa ketersediaan air menjadi salah satu faktor penentu keberhasilan penanaman, terlebih ketika petani menghadapi musim kemarau dan ancaman El Nino.

Setiono berharap tingkat keberhasilan penanaman dapat mencapai 100 persen. Namun, dengan mempertimbangkan risiko budidaya, ia menargetkan sedikitnya 80 persen tanaman mampu tumbuh dengan baik.

“Kami akan terus mendampingi dan mendukung petani supaya tingkat keberhasilannya minimal bisa 80 persen,” pungkasnya.


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *