Daerah

Dugaan Perundungan di SMPN 1 Blora, Korban Alami Luka hingga Orang Tua Siswa Disebut Anggota DPRD

11
×

Dugaan Perundungan di SMPN 1 Blora, Korban Alami Luka hingga Orang Tua Siswa Disebut Anggota DPRD

Share this article
Halaman Sekolah SMP 1 Blora. (Foto: Sudutkota.id/Farros).

BLORA, Sudutkota.id – Dugaan perundungan terhadap seorang siswa SMP Negeri 1 Blora menjadi perhatian. Korban disebut mengalami luka pada bagian bibir hingga memar di wajah setelah diduga dipukul dan ditendang oleh teman sekolahnya.

Tokoh masyarakat Blora, Danu Sukoco, mengatakan dirinya baru mengetahui lebih banyak mengenai kejadian tersebut setelah bertemu langsung dengan korban.

Dari pertemuan itu, Danu mengaku mendapatkan cerita dari korban maupun sejumlah pihak lain mengenai persoalan yang terjadi di lingkungan SMPN 1 Blora.

Menurut Danu, SMPN 1 Blora selama ini dikenal sebagai salah satu sekolah favorit di Kabupaten Blora. Ia menyebut banyak lulusan sekolah tersebut yang berhasil meraih kesuksesan.

“Memang di SMPN 1 Blora itu dianggap sekolah favorit. Faktanya memang lulusannya ada yang sukses, menjadi bintangnya bintang,” ujar Danu.

Namun, Danu menyoroti adanya kelompok-kelompok siswa berdasarkan lingkungan tempat tinggal. Ia menyebut terdapat siswa yang berasal dari wilayah Bangkle, Tempelan hingga Jenar dan kemudian berkelompok.

Danu menuturkan, persoalan yang dialami korban bermula dari kejadian yang disebut sebagai candaan antarsiswa. Korban disebut pernah merasa dijebak oleh teman-temannya.

Karena merasa mendapat perlakuan tersebut, korban kemudian ikut membuat jebakan dengan menaruh air menggunakan gayung di balik pintu. Namun, korban disebut tidak mengetahui siapa yang akhirnya terkena jebakan tersebut.

Persoalan itu kemudian berlanjut hingga korban diduga mengalami kekerasan. Danu mengatakan korban pada Jumat sempat dipukuli. Saat itu, korban disebut memilih diam karena tidak ingin persoalan tersebut berkembang menjadi keributan.

Sehari berikutnya, korban kembali mengalami kekerasan. Danu menuturkan, korban sebelumnya mendapat informasi dari seorang temannya bahwa ada seseorang yang ingin bertemu dengannya.

Korban kemudian menemui orang tersebut di lantai dua lingkungan sekolah. Namun, korban justru kembali dipukuli dan ditendang.

“Dia malah dipukuli lagi, ditendang lagi sampai, mohon maaf, seperti gambarnya bibirnya pecah, sobek, agak memar-memar juga wajahnya,” ungkap Danu.

Akibat kejadian tersebut, korban disebut telah mendapatkan pengobatan. Korban dibawa ke rumah sakit dan diberi obat, sementara biaya pengobatan ditanggung oleh orang tua.

Danu kemudian mempertanyakan pengawasan pihak sekolah terhadap aktivitas para siswa.

“Kalau anak sekolah bertengkar apakah kemudian dimaklumi? Sekolah seharusnya bisa mengawasi. Guru, keamanan, kepala sekolah maupun guru BK harus mengetahui gelagat dan kondisi anak-anak,” tegasnya.

Danu juga menyoroti respons salah satu orang tua siswa yang disebut merupakan anggota DPRD Blora. Menurutnya, orang tua tersebut sempat menganggap persoalan yang terjadi sebagai pertengkaran biasa antarsiswa.

Ia menilai persoalan tersebut perlu mendapat perhatian agar tidak berkembang menjadi kekerasan yang berulang.

Dinas Pendidikan Turun Tangan

Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Blora, Sunaryo, mengatakan pihaknya telah mendatangi SMPN 1 Blora setelah mendapat informasi adanya siswa yang diduga dirundung atau dipukul oleh teman sekolahnya.

“Kami juga sudah ke sekolah SMPN 1 Blora untuk tahu persoalannya seperti apa. Kami minta dilakukan pendekatan kedua belah pihak, baik orang tua korban maupun pelaku, untuk diselesaikan secara kekeluargaan,” ujar Sunaryo.

Sunaryo mengatakan pihaknya juga telah meminta guru mendatangi rumah korban dan bertemu dengan orang tua untuk menyampaikan kronologi kejadian secara utuh.

“Kemarin kami sudah meminta bapak ibu guru untuk hadir ke rumah korban dan bertemu orang tua untuk menyampaikan kronologi kasus yang sebenarnya, agar peristiwanya bisa ditimbang,” katanya.

Menurut Sunaryo, dirinya juga telah menerima bukti laporan terkait kasus tersebut yang dilaporkan ke Polres Blora. Dinas Pendidikan akan terus memantau perkembangan penanganannya.

“Kalau memang harus menghadirkan anak-anak itu nanti kita hadirkan. Sekolah akan menghadirkan dan kami minta untuk didampingi oleh sekolah karena beliau ini masih berusia anak. Penanganan anak juga harus hati-hati, jangan sampai menimbulkan trauma kepada anak sendiri,” jelasnya.

Sunaryo menyebut dugaan kekerasan tersebut terjadi sebanyak dua kali, yakni pada Jumat dan Sabtu pada awal Agustus 2026.

Pihaknya juga telah meminta sejumlah siswa yang diduga terlibat untuk memberikan keterangan. Menurut Sunaryo, beberapa siswa mengakui adanya tindakan pemukulan dan penendangan.

“Kemarin ada beberapa yang terkait itu pelaku kita hadirkan dan kita tanya agar tidak mengulangi perbuatan itu lagi. Ada salah satu anak yang kita minta untuk cerita, memang benar dalam hal itu ada yang menendang, ada yang mukul,” ungkapnya.

Meski demikian, Sunaryo mengatakan pihaknya masih perlu menelusuri secara menyeluruh mengenai penyebab dan kronologi kejadian.

“Kan ada sebab dan akibatnya. Karena sebab dan akibatnya di sana, nanti ditelusuri,” ujarnya.

Sunaryo menambahkan, pihaknya pada awalnya belum bertemu langsung dengan korban. Namun, pada siang harinya pihak sekolah datang ke rumah korban dengan didampingi Dinas Pendidikan dan Dinas Sosial untuk melakukan komunikasi dengan korban dan keluarganya.

Ia berharap persoalan tersebut tidak berlanjut apabila masih dapat diselesaikan secara kekeluargaan.

“Intinya kami berharap tidak sampai berlanjut. Kalau bisa diselesaikan secara kekeluargaan ya diselesaikan, apalagi ini anak-anak. Dunia anak-anak kan dinamikanya seperti itu,” katanya.

Menurut Sunaryo, sekolah di Kabupaten Blora sebenarnya telah dibekali program budaya sekolah aman dan nyaman melalui kelompok kerja (Pokja). Namun, praktiknya kasus perundungan masih menjadi tantangan di dunia pendidikan.

“Sebetulnya anak sekolah itu sudah dibekali itu, tetapi praktiknya masih ada perundungan di dalam pendidikan. Jadi ini memang tantangan kita di dunia pendidikan,” tegasnya.

Sunaryo meminta seluruh pihak, baik dinas, sekolah maupun guru, tidak lengah dalam melakukan pengawasan terhadap anak-anak dan remaja.

“Untuk dunia anak-anak atau remaja saat ini sebenarnya pemicunya banyak. Emosi anak-anak remaja ini kan mudah tersulut, pengaruh pergaulan dan lain-lain. Jadi ini pembelajaran bersama untuk kita agar ada pengawasan lebih,” jelasnya.

Terkait jumlah siswa yang diduga terlibat, Sunaryo mengaku belum mengetahui secara pasti. Namun, pihaknya akan terus memantau perkembangan kasus tersebut agar segera mendapatkan penyelesaian dan tidak mengganggu proses belajar mengajar.

“Kami akan memantau terus agar proses ini segera terselesaikan dan tidak mengganggu proses belajar mengajar anak itu,” pungkasnya.

Sebagai informasi, dugaan perundungan di lingkungan SMPN 1 Blora bukan kali pertama menjadi perhatian. Sebelumnya, juga pernah terjadi peristiwa perundungan terhadap siswa di sekolah tersebut.

Hal tersebut menjadi catatan bagi pihak sekolah untuk semakin memperkuat pengawasan serta menciptakan lingkungan belajar yang aman dan nyaman bagi seluruh siswa.


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *