Daerah

Kota Malang Hanya Andalkan 71,25 Hektare Cabai, Produksi 71 Ton Belum Mampu Penuhi Kebutuhan Warga

13
×

Kota Malang Hanya Andalkan 71,25 Hektare Cabai, Produksi 71 Ton Belum Mampu Penuhi Kebutuhan Warga

Share this article
Kota Malang Hanya Andalkan 71,25 Hektare Cabai, Produksi 71 Ton Belum Mampu Penuhi Kebutuhan Warga
Kepala Dispangtan Kota Malang, Slamet Husnan, bersama Plt Sekda Kota Malang, Dandung Djuarianto, saat mengikuti penanaman cabai (lombok) di lahan Poktan Sumber Rejeki, Kelurahan Merjosari, Kota Malang.(Sudutkota.id/Agus Demit)

KOTA MALANG, Sudutkota.id – Upaya menjaga pasokan cabai di Kota Malang menjelang musim hujan masih menghadapi keterbatasan serius.

Dengan luas lahan produksi sekitar 71,25 hektare yang terkonsentrasi di dua wilayah, yakni Kelurahan Merjosari dan kawasan Baran, Buring, Kecamatan Kedungkandang, produksi cabai lokal diperkirakan mencapai 71 ton dalam satu masa tanam apabila seluruh lahan berhasil berproduksi optimal.

Angka tersebut menjadi gambaran bahwa kemampuan produksi cabai Kota Malang masih terbatas. Pemerintah daerah belum bisa sepenuhnya mengandalkan hasil pertanian lokal untuk memenuhi kebutuhan masyarakat, sehingga pasokan dari sejumlah daerah penghasil di Jawa Timur tetap dibutuhkan.

Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (Dispangtan) Kota Malang, Slamet Husnan, menjelaskan bahwa sebagian besar lahan cabai dan tomat di wilayahnya merupakan lahan tadah hujan. Kondisi tersebut membuat waktu tanam petani sangat bergantung pada ketersediaan air.

Hal itu disampaikan Slamet saat menjelaskan potensi produksi cabai di Kota Malang, Rabu (21/10/2026).

“Di Kelurahan Merjosari potensinya sekitar 30 hektare, sementara di Kedungkandang, kawasan Baran Buring, kurang lebih 41,25 hektare. Mayoritas lahan merupakan lahan tadah hujan sehingga biasanya petani baru mulai menanam ketika awal musim hujan,” jelasnya.

Menurut Slamet, keberadaan tandon air menjadi faktor penting yang memungkinkan petani memulai penanaman lebih awal, bahkan ketika musim kemarau belum sepenuhnya berakhir. Tanpa ketersediaan air yang memadai, petani harus menunggu hujan untuk memulai masa tanam.

Keterbatasan sumber air tersebut sekaligus memperlihatkan bahwa peningkatan produksi cabai tidak cukup hanya mengandalkan luas lahan. Ketersediaan air dan ketepatan waktu tanam juga menentukan keberhasilan panen.

Dispangtan memperkirakan, setiap hektare lahan cabai dapat menghasilkan sekitar satu ton dalam satu masa tanam. Dengan luas lahan mencapai 71,25 hektare, potensi produksi secara keseluruhan diperkirakan sekitar 71,25 ton.

Namun, angka tersebut merupakan proyeksi apabila seluruh lahan berhasil berproduksi sesuai perkiraan, bukan jaminan hasil panen yang pasti tercapai.

“Kalau totalnya 71,25 hektare dikalikan 1.000 kilogram per hektare, berarti sekitar 71.000 kilogram atau 71 ton. Itu kalau sukses semua,” terang Slamet.

Dalam satu masa tanam, tanaman cabai dapat dipanen sekitar 10 hingga 12 kali. Jarak antara panen pertama dan berikutnya berkisar satu sampai dua minggu, bergantung pada kondisi tanaman dan proses produksi.

Dengan pola panen bertahap tersebut, petani memiliki kesempatan memperoleh hasil berulang selama tanaman masih produktif. Meski demikian, keberhasilan mempertahankan produksi tetap dipengaruhi kondisi cuaca, ketersediaan air, serta risiko serangan penyakit tanaman.

Salah satu persoalan yang menjadi perhatian adalah terbatasnya persebaran lahan cabai produktif di Kota Malang. Slamet menyebut, potensi lahan cabai dalam skema yang dijelaskan tersebut terkonsentrasi di Merjosari dan Kedungkandang.

Sementara itu, lahan sawah dengan irigasi teknis yang ditanami cabai hanya sekitar 1.700 meter persegi.

Menurutnya, penanaman cabai di lahan irigasi teknis juga memiliki risiko tersendiri, terutama ketika curah hujan meningkat dan air menggenangi area perakaran.

“Kalau di lahan irigasi teknis, begitu musim hujan air berlebih, tanaman bisa mengalami busuk akar. Muncul jamur di akar yang dapat mematikan pohon cabai, kemudian jamur juga bisa menyerang daun maupun buahnya,” paparnya.

Risiko tersebut membuat pengelolaan lahan harus disesuaikan dengan karakteristik lingkungan. Petani tidak bisa sekadar memperluas penanaman tanpa memperhitungkan drainase, kelembapan, dan potensi penyakit tanaman.

Kota Malang Masih Bergantung pada Pasokan Daerah Lain

Keterbatasan produksi lokal membuat Kota Malang belum mampu memenuhi seluruh kebutuhan cabai masyarakat secara mandiri.

Slamet menegaskan, Kota Malang bukan daerah produsen utama komoditas cabai. Karena itu, distribusi dari wilayah lain tetap menjadi bagian penting dalam menjaga ketersediaan pasokan di pasar.

“Kalau total, belum bisa mencukupi karena memang Kota Malang bukan kota produsen. Sehingga perlu aktivitas barang masuk dan keluar dari wilayah lain,” ujarnya.

Ia menyebut sejumlah daerah yang selama ini menjadi sumber pasokan cabai ke Kota Malang, di antaranya Besuki, Probolinggo, Jember, Lumajang, dan Banyuwangi.

Ketergantungan tersebut membuat ketersediaan cabai di pasar tidak hanya ditentukan oleh hasil panen petani lokal. Kelancaran distribusi dan kondisi produksi di daerah pemasok juga berpengaruh terhadap pasokan yang diterima pedagang.

Di sisi lain, harga cabai di pasar saat ini disebut berada pada kisaran Rp50.000 hingga Rp60.000 per kilogram. Harga tersebut menjadi salah satu indikator penting yang perlu dicermati, terutama ketika memasuki periode perubahan cuaca yang berpotensi memengaruhi produksi dan distribusi.

Meski demikian, data kebutuhan cabai Kota Malang secara keseluruhan masih perlu merujuk pada neraca pangan untuk mengetahui seberapa besar selisih antara kebutuhan masyarakat dan kemampuan produksi lokal.

Di tengah keterbatasan produksi, peran Pemerintah Kota Malang melalui Dispangtan diarahkan pada pendampingan teknis, monitoring, dan evaluasi kegiatan pertanian.

Slamet menjelaskan, penyuluh pertanian melakukan pendampingan kepada petani, termasuk pembahasan kebutuhan pupuk untuk tahun berikutnya serta antisipasi penyakit yang berpotensi menyerang tanaman.

“Peranan Pemkot melalui penyuluh pertanian dan bidang pertanian lebih kepada pelaksanaan pendampingan, monitoring, dan evaluasi. Biasanya pada pertengahan tahun kami mulai merencanakan kebutuhan pupuk untuk tahun berikutnya, sekaligus membahas kemungkinan penyakit tanaman dan bagaimana solusinya,” katanya.

Pendampingan tersebut diharapkan membantu petani mengantisipasi kendala produksi, terutama menjelang musim hujan ketika kelembapan meningkat dan risiko penyakit tanaman semakin besar.

Namun, dengan luas lahan cabai yang masih terkonsentrasi di dua wilayah dan produksi yang belum mampu mencukupi kebutuhan kota, penguatan sektor pertanian tetap menjadi pekerjaan penting.

Potensi produksi sekitar 71 ton menunjukkan adanya kontribusi nyata dari petani lokal. Akan tetapi, tanpa peningkatan produktivitas, pengelolaan air yang lebih baik, dan perluasan kapasitas produksi yang sesuai dengan kondisi lahan, Kota Malang masih akan bergantung pada pasokan dari luar daerah untuk menjaga ketersediaan cabai bagi masyarakat.


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *