Sudutkota.id – Wali Kota Malang, Wahyu Hidayat menegaskan tradisi Selamatan Bersih Dusun Badut di RW 05, Kelurahan Karangbesuki, Kecamatan Sukun, bukan sekadar ritual tahunan.
Menurutnya, kegiatan tersebut menjadi bukti bahwa pelestarian budaya mampu berjalan beriringan dengan penguatan ekonomi masyarakat melalui UMKM, sekaligus memperkokoh nilai gotong royong dan solidaritas warga.
Hal itu disampaikan Wahyu Hidayat saat menghadiri rangkaian Selamatan Bersih Dusun Badut, Minggu (5/7/2026).
Dalam sambutannya, Wahyu menyampaikan apresiasi kepada seluruh warga RW 05 yang secara swadaya mampu menyelenggarakan rangkaian kegiatan budaya selama empat hari, mulai dari Kampung Obor, kirab budaya, bazar UMKM, pertunjukan seni tradisional hingga pengajian sebagai penutup acara.
“Saya atas nama pribadi dan Pemerintah Kota Malang menyampaikan apresiasi setinggi-tingginya kepada seluruh masyarakat Karangbesuki. Kegiatan ini menunjukkan bahwa tradisi leluhur masih dijaga dengan baik sekaligus mampu menghadirkan manfaat nyata bagi masyarakat,” ujarnya.

Menurut Wahyu, keberhasilan puluhan pelaku UMKM menghabiskan dagangannya selama kegiatan berlangsung menjadi bukti bahwa pelestarian budaya mampu menciptakan perputaran ekonomi di tingkat masyarakat.
Ia menyebut keberhasilan tersebut sejalan dengan program prioritas Pemerintah Kota Malang, yakni Ngalam Asyik dan Ngalam Laris, yang mendorong penguatan sektor ekonomi kerakyatan melalui berbagai kegiatan berbasis masyarakat.
“Tadi disampaikan panitia bahwa UMKM yang ikut berjualan dagangannya habis. Artinya kegiatan budaya seperti ini memberikan dampak ekonomi yang langsung dirasakan masyarakat. Ini menjadi implementasi nyata program Ngalam Laris yang terus kami dorong,” katanya.
Wahyu menjelaskan, tradisi Bersih Dusun merupakan wujud rasa syukur masyarakat atas kesehatan, keselamatan, kesejahteraan, dan berbagai nikmat yang diberikan Tuhan Yang Maha Esa. Nilai tersebut, menurutnya, harus terus dipertahankan karena menjadi warisan yang telah dijaga secara turun-temurun.
“Rasa syukur tidak cukup hanya diucapkan, tetapi diwujudkan melalui kebersamaan dan pelestarian tradisi. Orang yang bersyukur akan mendapatkan keberkahan, sehingga kegiatan seperti ini harus terus dipertahankan,” tuturnya.
Lebih jauh, ia menilai tradisi tersebut memiliki nilai edukasi yang sangat penting bagi generasi muda. Melalui kegiatan budaya, anak-anak diajak memahami sejarah, asal-usul kampung, hingga filosofi yang terkandung dalam setiap rangkaian ritual.
Menurutnya, generasi muda perlu mengetahui bahwa kehidupan masyarakat saat ini tidak terbentuk secara instan, melainkan melalui perjalanan sejarah panjang yang diwariskan oleh para leluhur.
“Kalau kegiatan seperti ini berhenti, maka anak-anak akan kehilangan cerita tentang kampungnya sendiri. Karena itu, Bersih Dusun harus menjadi media pembelajaran agar generasi muda memahami sejarah, budaya, dan identitas daerahnya,” katanya.
Wahyu juga menyoroti sejumlah simbol budaya yang masih dipertahankan dalam rangkaian kegiatan, seperti Kampung Obor dan kirab gunungan. Menurutnya, obor bukan sekadar hiasan, melainkan memiliki makna sebagai cahaya yang menerangi kehidupan masyarakat dan menjadi simbol harapan.
Sementara kirab gunungan, lanjutnya, mengandung filosofi kebersamaan, rasa syukur, serta semangat berbagi kepada masyarakat. Nilai-nilai tersebut dinilai penting untuk terus dikenalkan kepada generasi penerus agar tidak hilang ditelan perkembangan zaman.
Selain melestarikan budaya, Wali Kota menilai keberhasilan penyelenggaraan acara ini juga mencerminkan kuatnya semangat gotong royong masyarakat. Seluruh rangkaian kegiatan terlaksana melalui swadaya warga dengan melibatkan berbagai unsur masyarakat, mulai dari tokoh kampung, pemuda, hingga pelaku UMKM.
“Yang paling penting bukan hanya acaranya, tetapi semangat kebersamaan yang dibangun. Ada gotong royong, ada kepedulian, ada silaturahmi, dan ada rasa memiliki terhadap kampungnya. Nilai-nilai seperti inilah yang harus terus dijaga,” tegasnya.
Pemerintah Kota Malang, lanjut Wahyu, akan terus mendorong pelestarian budaya lokal agar berjalan seiring dengan pembangunan kota. Menurutnya, kemajuan daerah tidak hanya diukur dari pembangunan fisik, tetapi juga dari kuatnya kehidupan sosial, budaya, dan karakter masyarakat.
“Kami ingin pembangunan Kota Malang berjalan berdampingan dengan penguatan budaya, karakter masyarakat, dan ekonomi kerakyatan. Identitas daerah harus tetap terjaga agar Kota Malang memiliki kekuatan sosial yang kokoh,” ujarnya.
Di akhir sambutannya, Wahyu mengajak seluruh masyarakat untuk terus menjaga kerukunan, memperkuat gotong royong, serta menjadikan setiap kegiatan budaya sebagai ruang kolaborasi demi mewujudkan Kota Malang yang semakin nyaman, maju, dan berkelas.
“Dengan kebersamaan yang terus terjaga, saya optimistis Kota Malang akan semakin maju tanpa kehilangan identitas budaya yang menjadi kebanggaan masyarakat,” pungkasnya.




















