Nasional

64 Juta Pemuda Jadi Modal Indonesia Emas, Kesenjangan Kesempatan Masih Membayangi

4
×

64 Juta Pemuda Jadi Modal Indonesia Emas, Kesenjangan Kesempatan Masih Membayangi

Share this article
64 Juta Pemuda Jadi Modal Indonesia Emas, Kesenjangan Kesempatan Masih Membayangi
Wakil Ketua Komisi X DPR RI, Kurniasih Mufidayati menyoroti kesenjangan kesempatan pendidikan dan kerja yang berdampak pada masa depan pemuda Indonesia.(Sudutkota.id/Staff)

JAKARTA, Sudutkota.id – Besarnya jumlah pemuda Indonesia belum sepenuhnya diikuti pemerataan kesempatan untuk berkembang.

Data 2025 menunjukkan 19,44 persen pemuda masuk kategori NEET, yakni tidak sedang bersekolah, bekerja, atau mengikuti pelatihan. Kondisi ini menjadi tantangan menuju Indonesia Emas 2045.

Wakil Ketua Komisi X DPR RI Fraksi PKS, Kurniasih Mufidayati, menilai peringatan Sumpah Pemuda pada 28 Oktober harus menjadi momentum memperkuat karakter sekaligus membuka lebih banyak peluang bagi generasi muda. Menurutnya, semangat persatuan perlu diwujudkan melalui kontribusi nyata, bukan sekadar peringatan seremonial.

“Sumpah Pemuda merupakan tonggak sejarah yang menunjukkan betapa besarnya kekuatan anak muda ketika memiliki cita-cita dan semangat persatuan. Menjelang satu abad Sumpah Pemuda, semangat itu harus diterjemahkan menjadi karakter yang kuat, kemampuan menghadapi perubahan, serta keberanian memberikan kontribusi nyata bagi kemajuan Indonesia.” ujar Kurniasih dalam keterangannya, Rabu (28/10/2026).

Indonesia memiliki sekitar 64 juta pemuda atau 23,8 persen dari total penduduk. Namun, data Indeks Pembangunan Pemuda (IPP) 2024 tercatat sebesar 62,88, dengan kesenjangan antardaerah mencapai 21,5 poin. Angka tersebut menunjukkan pembangunan kualitas pemuda masih menghadapi tantangan pemerataan.

“Angka-angka ini perlu menjadi perhatian bersama. Kita memiliki jumlah pemuda yang sangat besar, tetapi masih menghadapi kesenjangan kualitas dan akses pengembangan diri. Masih banyak anak muda yang belum memperoleh kesempatan optimal untuk melanjutkan pendidikan, meningkatkan keterampilan, atau memasuki dunia kerja.” jelasnya.

Kurniasih menekankan tiga karakter penting bagi generasi muda, yakni patriotik, gigih, dan berempati. Ketiganya perlu dibentuk melalui pengalaman nyata, keteladanan, serta keterlibatan pemuda dalam menyelesaikan persoalan masyarakat, bukan hanya melalui materi atau kegiatan seremonial.

“Generasi muda membutuhkan karakter yang utuh. Patriotik agar memiliki kecintaan dan tanggung jawab terhadap bangsanya, gigih agar tidak mudah menyerah menghadapi tantangan, dan berempati agar kemajuan yang diraih tetap disertai kepedulian terhadap sesama.” ungkapnya.

Kurniasih juga mendukung pengembangan Desain Besar Karakter Pemuda Indonesia 2026–2045 melalui pelatihan kepemimpinan, magang, pertukaran pemuda, serta kegiatan berbasis proyek.

Tantangannya adalah memastikan program tersebut memperluas akses secara merata, sehingga pemuda di berbagai daerah memiliki kesempatan mengembangkan keterampilan, memperoleh pekerjaan, dan berkontribusi bagi Indonesia.


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *