Sudutkota.id – Ambisi Kota Malang untuk mengakhiri kotren hanya menjadi peringkat kedua dalam ajang Lomba Desa dan Kelurahan (Lomdeskel) Jawa Timur kini bertumpu pada Kelurahan Tasikmadu, Kecamatan Lowokwaru.
Setelah melewati serangkaian seleksi berlapis, Tasikmadu resmi menjadi wakil Kota Malang dan dinilai memiliki modal kuat untuk bersaing di tingkat provinsi berkat inovasi ketahanan pangan dan pemberdayaan ekonomi masyarakat.
Proses penilaian lapangan tahap akhir yang berlangsung pada, Selasa (23/6/2026), menjadi penentu penting dalam perjalanan Tasikmadu. Berbeda dari tahun-tahun sebelumnya, verifikasi dilakukan secara daring dengan sejumlah titik lokasi menjadi objek evaluasi tim juri.
Kepala Bagian Tata Pemerintahan Setda Kota Malang, Yuyun Nanik Ekowati, menjelaskan bahwa penentuan juara tidak dilakukan secara instan, melainkan melalui tahapan administrasi, paparan program, hingga penilaian lapangan oleh tim juri lintas organisasi perangkat daerah yang juga melibatkan unsur akademisi dan praktisi.
“Dari seluruh proses tersebut, Kelurahan Tasikmadu menjadi juara pertama, disusul Kelurahan Mulyorejo sebagai juara kedua dan Kelurahan Rampal Celaket di posisi ketiga,” ujarnya, Rabu (24/6/2026).
Menurut Yuyun, penunjukan Tasikmadu bukan sekadar representasi administratif, tetapi didasarkan pada kesesuaian dengan tema besar penilaian Provinsi Jawa Timur tahun ini, yakni ketahanan pangan dan pemberdayaan ekonomi masyarakat berbasis potensi lokal.
Salah satu inovasi yang menjadi perhatian adalah “Green Haven”, kawasan urban farming seluas sekitar 700 meter persegi yang memanfaatkan lahan makam tidak terawat menjadi sentra produksi pangan warga.
Alih fungsi ruang yang sebelumnya kurang produktif itu kini dimanfaatkan untuk menanam berbagai komoditas sayuran yang menopang kebutuhan masyarakat, termasuk mendukung kegiatan posyandu dan program penanganan stunting.
“Lahan yang sebelumnya tidak termanfaatkan kini menjadi lumbung pangan warga. Hasilnya dimanfaatkan untuk kebutuhan urban farming, termasuk mendukung pelayanan masyarakat,” jelas Yuyun.
Tidak hanya mengandalkan sektor pertanian perkotaan, Tasikmadu juga dinilai berhasil menggerakkan pelaku UMKM melalui kolaborasi dengan program ketahanan pangan. Keberadaan Warung Tandon dan berbagai usaha mikro binaan kelurahan disebut menjadi contoh bagaimana pemberdayaan ekonomi dijalankan secara berkelanjutan dengan dukungan pemerintah setempat.
Selain itu, simulasi Kelurahan Tangguh Bencana yang melibatkan berbagai unsur masyarakat turut menjadi nilai tambah dalam penilaian. Kombinasi inovasi lingkungan, ekonomi kerakyatan, dan kesiapsiagaan bencana dinilai memberikan karakter berbeda dibanding peserta dari daerah lain.
Meski pelaksanaan penilaian daring sempat menemui kendala teknis akibat sebagian peserta belum terbiasa menggunakan platform konferensi video, proses tersebut akhirnya dapat diselesaikan tanpa mengurangi substansi evaluasi.
Optimisme Pemerintah Kota Malang pun menguat. Dalam dua tahun terakhir, wakil Kota Malang hanya mampu finis sebagai runner-up, yakni Kelurahan Gadang pada 2024 dan Kelurahan Bunulrejo pada 2025. Kini, Tasikmadu diharapkan mampu memutus tren tersebut.
“Harapannya tentu bukan hanya mempertahankan prestasi, tetapi menjadi yang terbaik di Jawa Timur sehingga dapat menjadi contoh bagi kelurahan lain,” tegas Yuyun.
Jika berhasil meraih gelar juara tingkat provinsi, Tasikmadu akan melangkah lebih jauh sebagai wakil Jawa Timur pada kompetisi regional Jawa–Bali. Capaian itu sekaligus menjadi pembuktian bahwa inovasi berbasis kebutuhan warga dan pemanfaatan aset yang selama ini terbengkalai dapat menjadi kekuatan utama dalam pembangunan di tingkat kelurahan.




















