Daerah

Tari Topeng Jadi Senjata 32 Pramuka Malang di Jambore Nasional

19
×

Tari Topeng Jadi Senjata 32 Pramuka Malang di Jambore Nasional

Share this article
Tari Topeng Jadi Senjata 32 Pramuka Malang di Jambore Nasional
Ginanjar Yoni Wardoyo, ketua Kwarcab Gerakan Pramuka Kota Malang, saat memberikan keterangan terkait persiapan 32 Pramuka Penggalang Kota Malang menuju Jambore Nasional (Jamnas) 2026 di Cibubur, Jakarta.(Foto:sudutkota.id/Andik Agus Demit)

Sudutkota.id – Bukan sekadar membawa nama Kota Malang, 32 Pramuka Penggalang yang diberangkatkan ke Jambore Nasional (Jamnas) 2026 juga membawa misi memperkenalkan kekayaan budaya daerah ke panggung nasional.

Tari topeng dipilih menjadi salah satu andalan kontingen Kota Malang dalam ajang yang berlangsung di Cibubur, Jakarta, 11 hingga 20 Agustus 2026. Kesenian tradisional tersebut dipersiapkan secara serius sebagai bagian dari penampilan kontingen yang dipercaya mewakili Jawa Timur.

Ketua Kwartir Cabang (Kwarcab) Gerakan Pramuka Kota Malang, Ginanjar Yoni Wardoyo, mengatakan, keberangkatan 32 peserta tersebut merupakan hasil seleksi panjang dan ketat. Peserta tidak hanya dinilai dari kemampuan kepramukaan, tetapi juga kreativitas, kemandirian, karakter hingga kesiapan mengikuti seluruh rangkaian kegiatan.

“Seleksinya cukup panjang dan ketat. Bukan hanya masalah kapasitas atau kualitas adik-adik, tetapi juga banyak faktor yang harus kita pertimbangkan, termasuk orang tua dan kesiapan unit pendidikan,” ujar Ginanjar, Senin (10/8/2026).

Menurutnya, 32 peserta tersebut terdiri dari dua kontingen putra dan dua kontingen putri. Mereka merupakan Pramuka golongan Penggalang yang dinilai memiliki kecakapan dan kesiapan untuk mengikuti kegiatan tingkat nasional.

Namun, tantangan yang dibawa kontingen Kota Malang tidak berhenti pada kemampuan kepramukaan. Mereka juga mendapat tugas menampilkan kesenian tradisional sebagai bagian dari materi khusus kontingen daerah.

Dari sejumlah pilihan budaya lokal, tari topeng dipilih karena dinilai memiliki karakter kuat dan mampu merepresentasikan identitas budaya Malang.

“Kita mengambil tema tari topeng. Sebetulnya ceritanya layak untuk menjadi ikon Jawa Timur dan Nusantara,” tegas Ginanjar.

Pemilihan tari topeng menjadi lebih dari sekadar pertunjukan seni. Bagi Kwarcab Kota Malang, kesempatan tersebut menjadi ruang untuk mengenalkan budaya lokal kepada peserta Jamnas yang datang dari berbagai daerah di Indonesia.

Karena itu, latihan kesenian berjalan beriringan dengan pembinaan keterampilan kepramukaan. Para peserta juga ditempa agar memiliki kemampuan mandiri selama menjalani kehidupan perkemahan.

Ginanjar menilai pengalaman selama Jamnas akan menjadi proses pembentukan karakter bagi para peserta. Selama sekitar sepuluh hari, mereka akan berhadapan dengan lingkungan baru, bertemu peserta dari berbagai daerah, mengikuti aktivitas bersama dan belajar mengelola kebutuhan secara mandiri.

“Selain kemampuan mereka untuk melatih kesenian, tentunya juga pelatihan kepramukaan dan bentuk kemandirian. Karena di sana cukup panjang, mereka disiapkan untuk mandiri. Pengalaman itu pasti akan membentuk pengetahuan baru yang mereka dapatkan,” jelasnya.

Ia menambahkan, peserta yang lolos seleksi memang tidak dipilih hanya karena memiliki keterampilan tertentu. Kecakapan, kreativitas, kemandirian, keterampilan kepramukaan, sikap, budi pekerti dan karakter menjadi satu kesatuan penilaian.

Dengan komposisi tersebut, Kwarcab Kota Malang berharap 32 Penggalang tidak hanya mampu tampil dalam agenda nasional, tetapi juga mampu menunjukkan bahwa Pramuka merupakan ruang pembentukan generasi muda yang memiliki keterampilan sekaligus kepedulian terhadap budaya daerah.


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *