Daerah

QRISMA Festival 2026, Langkah Kota Malang Wujudkan Wisata Modern Berbasis Digital

3
×

QRISMA Festival 2026, Langkah Kota Malang Wujudkan Wisata Modern Berbasis Digital

Share this article
QRISMA Festival 2026, Langkah Kota Malang Wujudkan Wisata Modern Berbasis Digital
Kadis Porapar Kota Malang, Baihaqi, saat menghadiri acara QRISMA Festival 2026 di kawasan Kajoetangan Heritage, Kecamatan Klojen.(foto:sudutkota.id/mit)

Sudutkota.id – Transformasi pariwisata Kota Malang menuju era digital kian nyata. Hal itu tergambar dalam gelaran QRISMA Festival 2026 yang berlangsung di kawasan Kajoetangan Heritage Gang 2, Kecamatan Klojen, Senin (4/5/2026).

Festival yang diinisiasi Bank Indonesia Perwakilan Malang ini menjadi momentum penting dalam mendorong penggunaan transaksi non-tunai di sektor wisata, khususnya pada destinasi berbasis masyarakat yang kini tengah berkembang pesat.

Kepala Dinas Kepemudaan, Olahraga, dan Pariwisata (Disporapar) Kota Malang, Baihaqi, menegaskan bahwa digitalisasi transaksi bukan sekadar tren, melainkan kebutuhan mendesak untuk memperkuat tata kelola wisata yang transparan dan akuntabel.

“QRISMA Festival ini menjadi langkah nyata dalam memberikan edukasi kepada masyarakat, terutama pelaku usaha dan pengelola wisata, agar beralih ke sistem transaksi non-tunai,” ujarnya.

Menurut Baihaqi, kawasan Kayutangan di Kecamatan Klojen saat ini menjadi salah satu ikon wisata unggulan Kota Malang. Tingginya kunjungan wisatawan menuntut sistem pengelolaan yang lebih profesional, termasuk dalam hal keuangan.

Berbeda dengan destinasi wisata pada umumnya, Kayutangan mengusung konsep kampung tematik berbasis masyarakat. Seluruh pengelolaan, mulai dari tiket masuk hingga kontribusi wisata, dilakukan secara mandiri oleh warga setempat.

“Karena dikelola langsung oleh masyarakat, maka sistem transaksinya harus bisa dipertanggungjawabkan. Di sinilah pentingnya penggunaan QRIS,” tegasnya.

Dengan sistem pembayaran digital, setiap transaksi tercatat secara otomatis dan memiliki jejak digital yang jelas. Hal ini dinilai mampu meningkatkan transparansi sekaligus meminimalisir potensi kebocoran dalam pengelolaan keuangan.

“Non-tunai memberikan kemudahan sekaligus jaminan akuntabilitas. Semua pemasukan bisa dipantau dengan baik, sehingga kepercayaan wisatawan juga meningkat,” imbuhnya.

Lebih lanjut, Baihaqi menyebut bahwa digitalisasi transaksi menjadi bagian dari upaya reformasi tata kelola pariwisata di Kota Malang. Pemkot berkomitmen untuk mendorong penerapan sistem serupa di berbagai destinasi wisata lainnya.

“Kami ingin seluruh kampung wisata di Kota Malang bisa mengadopsi sistem ini. Ini bukan hanya soal teknologi, tapi juga tentang membangun kepercayaan dan profesionalitas dalam pengelolaan wisata,” jelasnya.

Selain edukasi transaksi digital, QRISMA Festival 2026 juga diramaikan dengan berbagai kegiatan, mulai dari promosi UMKM lokal, pertunjukan seni, hingga sosialisasi literasi keuangan kepada masyarakat.

Kolaborasi antara pemerintah daerah, Bank Indonesia, dan masyarakat ini diharapkan mampu memperkuat ekosistem ekonomi digital yang inklusif.


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *