KOTA MALANG, Sudutkota.id – Politeknik Negeri Malang (Polinema) memperkuat barisan akademiknya dengan mengukuhkan tujuh guru besar sekaligus dalam puncak Dies Natalis ke-44 di Graha Polinema, Kamis (10/9/2026).
Pengukuhan tersebut membuat jumlah profesor di Polinema bertambah dari sebelumnya 21 menjadi 28 orang. Kehadiran para guru besar ini diharapkan tidak hanya memperkuat reputasi akademik, tetapi juga mendorong lahirnya riset yang mampu menjawab persoalan nyata di masyarakat.
Salah satu yang menjadi sorotan adalah Prof. Ir. Ika Noer Syamsiana, S.T., M.T., Ph.D., IPU., ASEAN Eng., APEC Eng. dengan kepakaran Teknologi Rekayasa Otomasi.
Ika dikenal melalui pengembangan Knowledge Growing System (KGS), sebuah sistem kognitif berbasis Artificial Intelligence (AI) yang dirancang agar teknologi mampu terus menumbuhkan pengetahuan melalui interaksi dengan lingkungan.
Konsep tersebut membuat AI tidak hanya bekerja berdasarkan perintah atau data yang sudah tersedia. Sistem dikembangkan agar mampu mempelajari informasi baru, beradaptasi, serta menghasilkan pengetahuan yang dapat digunakan untuk membantu memecahkan persoalan.
“Seluruh otomasi dituntut untuk bisa menumbuhkan pengetahuan yang baru, baru, dan baru sehingga bisa adaptif, akurat dan bisa menyelesaikan masalah,” ujar Ika.
Menurutnya, KGS bekerja dengan memanfaatkan interaksi terhadap lingkungan. Informasi yang diperoleh kemudian dipelajari dan digunakan untuk membangun pengetahuan yang terus berkembang.
“KGS adalah Knowledge Growing System, jadi sistem yang terus menerus berpengetahuan tumbuh dengan interaksi terhadap lingkungan,” jelasnya.
Inovasi tersebut bukan sebatas konsep penelitian. Ika mengungkapkan KGS pernah diterapkan dalam penanganan pandemi COVID-19 pada 2020.
Ketika itu, dirinya terlibat dalam TFRIC-19 bentukan BPPT. Kepakarannya di bidang teknologi rekayasa dan otomasi digunakan untuk membantu melakukan prediksi COVID-19 berdasarkan gejala awal.
“Saya sendiri secara negara pernah berkontribusi dalam kepakaran saya di bidang Teknologi Rekayasa dan Otomasi dalam berkontribusi dalam TFRIC-19 bentukan BPPT. Kami melakukan prediksi COVID dari gejala awal menggunakan Knowledge Growing System,” ungkap Ika.
Pengalaman tersebut menjadi salah satu gambaran bagaimana AI dapat dimanfaatkan untuk menghadapi persoalan yang membutuhkan analisis cepat dan kemampuan membaca pola dari sejumlah informasi.
Namun, pengembangan KGS tidak berhenti pada persoalan pandemi.
Ika juga mengembangkan penerapan sistem tersebut untuk memprediksi umur transformator atau trafo. Sejumlah parameter kondisi trafo dianalisis dan dimasukkan ke dalam KGS untuk memperkirakan umur serta masa pakainya.
Teknologi itu diharapkan dapat membantu penyedia layanan melakukan mitigasi lebih dini. Dengan mengetahui kondisi dan perkiraan usia pakai trafo, langkah pemeliharaan, perbaikan, hingga penggantian dapat ditentukan dengan lebih terukur.
“Sangat banyak sekali, di dalam penelitian saya salah satunya dengan memprediksi umur trafo. Karena trafo itu pasti ada yang namanya susut umur. Sehingga dengan parameter tertentu kita bisa mendeteksi umur dari trafo tersebut,” kata Ika.
“Data tersebut kami masukkan ke KGS sehingga bisa menentukan umur dan masa pakainya seperti apa,” sambungnya.
Dengan demikian, sistem tersebut dapat menjadi salah satu instrumen pendukung bagi provider agar tidak hanya bertindak setelah kerusakan terjadi.
“Sehingga pihak provider bisa menentukan kapan waktunya memperbaiki atau mengganti trafo dengan sistem KGS,” tegas Ika.
Selain Prof. Ika, enam guru besar lainnya yang dikukuhkan Polinema memiliki bidang kepakaran yang beragam.
Mereka yakni Prof. Ir. Mohammad Noor Hidayat, S.T., M.Sc., Ph.D. di bidang Teknologi Rekayasa Energi Terbarukan; Prof. Dr. Ir. Nawir Rasidi, S.T., M.T. di bidang Struktur Beton dan Jembatan; serta Prof. Dr. Dra. Fullchis Nurtjahjani, M.M. dengan kepakaran Kepemimpinan.
Selanjutnya Prof. Dr. Ir. Prayitno, M.T. di bidang Pengolahan Air Limbah; Prof. Dr. Asrori, S.T., M.T. dengan kepakaran Konversi Energi Mekanik Berbasis Rekayasa Teknologi Tenaga Surya; serta Prof. Ir. Yan Watequlis Syaifudin, S.T., M.MT., Ph.D. di bidang Sistem dan Teknologi Pendukung Pembelajaran.
Direktur Polinema, Ir. Supriatna Adhisuwignjo, berharap para profesor tersebut dapat menjadi motor penggerak peningkatan kualitas pendidikan sekaligus menjadi panutan bagi akademisi yang lebih muda.
“Kita harapkan ada peran-peran yang bisa kita harapkan oleh para guru besar ke depan semakin bisa mengangkat mutu pendidikan di kampus. Para Guru Besar ini kepakarannya tidak perlu diragukan lagi dan diharapkan dapat menjadi leader untuk yang lebih muda jadi semakin berkualitas,” ujarnya.
Bagi Ika, pengukuhan sebagai profesor bukanlah garis akhir perjalanan akademik. Sebaliknya, gelar tersebut menjadi tanggung jawab untuk semakin memperluas kontribusi teknologi bagi kepentingan bangsa.
Ia menegaskan, kepakaran seorang dosen harus diwujudkan melalui pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat.
“Dengan gelar ini, kami ingin terus ikut andil dalam perkembangan ketahanan teknologi bangsa. Kami ingin terus berkontribusi kepada negara, karena dosen memiliki Tri Dharma perguruan tinggi,” pungkasnya.





















