Pendidikan

Pendidikan Khas keJogjaan Diharap Jadi Benteng Karakter Pelajar dan Mahasiswa

17
×

Pendidikan Khas keJogjaan Diharap Jadi Benteng Karakter Pelajar dan Mahasiswa

Share this article
Pendidikan Khas keJogjaan Diharap Jadi Benteng Karakter Pelajar dan Mahasiswa
Anggota DPD RI asal Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), Hilmy Muhammad menyampaikan dukungannya terhadap penerapan Pendidikan Khas keJogjaan (PKJ) dalam kurikulum pendidikan di Yogyakarta.(Foto:sudutkota.id/dok. DPD RI)

JAKARTA, Sudutkota.id – Yogyakarta tidak hanya ingin menjadi tempat menimba ilmu bagi pelajar dan mahasiswa dari berbagai daerah. Identitas, sejarah, tradisi, bahasa, hingga nilai kehidupan masyarakat setempat dinilai perlu ikut dikenalkan agar para pendatang memahami karakter daerah yang menjadi tempat mereka belajar.

Gagasan tersebut mendapat dukungan Anggota DPD RI asal Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), Hilmy Muhammad. Ia mengapresiasi langkah Gubernur DIY, Sri Sultan Hamengku Buwono X yang meluncurkan Pendidikan Khas keJogjaan (PKJ) dan mengintegrasikannya ke dalam kurikulum pendidikan, termasuk perguruan tinggi.

Menurut Gus Hilmy, pengenalan budaya secara resmi di lingkungan pendidikan memiliki fungsi yang lebih luas daripada sekadar menambah pengetahuan tentang Yogyakarta. Pendidikan tersebut dapat menjadi sarana membangun rasa hormat sekaligus memperkuat karakter pelajar dan mahasiswa yang datang dari luar daerah.

“Ini yang sudah lama kita harap-harapkan, sudah kita dorong-dorong dari dulu. Kita menyambut baik inisiatif Ngarso Dalem tentang Pendidikan Khas keJogjaan,” ujar Gus Hilmy di Yogyakarta melalui keterangan tertulis, Sabtu (22/8/2026).

Ia menilai mahasiswa perantau perlu mendapat pemahaman yang utuh mengenai lingkungan sosial dan budaya tempat mereka menempuh pendidikan. Dengan begitu, hubungan antara masyarakat lokal dan pendatang tidak hanya terbentuk melalui pergaulan sehari-hari, tetapi juga melalui pemahaman terhadap nilai dan sejarah Yogyakarta.

“Mereka datang dari luar Jogja, itu artinya mereka menaruh hormat pada budaya kita. Maka sudah sepantasnya kita berikan pengenalan yang benar. Kita ingin mereka menjadi ‘Duta Jogja’ yang mampu bercerita dan mempromosikan citra positif Yogyakarta saat mereka kembali ke daerah asalnya masing-masing,” katanya.

Gus Hilmy mengakui selama ini mahasiswa dapat mengenal Yogyakarta melalui interaksi sehari-hari, termasuk dari ruang publik seperti angkringan. Namun, cara tersebut dinilai belum cukup untuk memberikan pemahaman yang menyeluruh mengenai karakter dan peradaban Yogyakarta.

“Memang, mengenal Jogja bisa dari mana saja. Dari angkringan, dari pergaulan sehari-hari, tapi jauh akan lebih baik jika pengenalan dilakukan secara komprehensif. Tidak semua kota bisa melakukan ini,” tegasnya.

Lebih jauh, Gus Hilmy berharap PKJ tidak berhenti sebagai materi pembelajaran formal. Nilai budaya yang ditanamkan sejak bangku pendidikan diharapkan dapat membentuk perilaku generasi muda sekaligus menjadi bagian dari upaya mencegah berbagai persoalan sosial.

Ia secara khusus mengaitkan penguatan karakter tersebut dengan upaya menekan kenakalan remaja, termasuk klitih dan penyalahgunaan narkoba. Menurutnya, pemahaman terhadap nilai kemanusiaan dan keberadaban dapat menjadi salah satu fondasi untuk membangun kontrol sosial dari dalam diri generasi muda.

“Kami optimistis, dengan pemahaman budaya yang kuat dan tertanam sejak dini di bangku pendidikan, nilai-nilai kemanusiaan dan keberadaban akan menjadi rem alami bagi generasi muda kita untuk menghindari tindakan-tindakan negatif,” pungkasnya.


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *