Nasional

Netty Soroti Program GENTING: Jangan Berhenti di Seremoni, Harus Terbukti Turunkan Stunting

13
×

Netty Soroti Program GENTING: Jangan Berhenti di Seremoni, Harus Terbukti Turunkan Stunting

Share this article
Netty Soroti Program GENTING: Jangan Berhenti di Seremoni, Harus Terbukti Turunkan Stunting
Anggota Komisi IX DPR RI, Netty Prasetiyani saat Rapat Kerja bersama Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/Kepala BKKBN di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Rabu (24/6/2026).(foto:sudutkota.id/istimewa)

Sudutkota.id – Program Gerakan Orang Tua Asuh Stunting (GENTING) yang digagas pemerintah mendapat sorotan dari Anggota Komisi IX DPR RI, Netty Prasetiyani.

Ia mengingatkan agar program tersebut tidak terjebak menjadi kegiatan seremonial yang ramai di atas panggung, tetapi minim dampak bagi keluarga yang menghadapi risiko stunting.

Peringatan itu disampaikan Netty dalam Rapat Kerja Komisi IX DPR RI bersama Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/Kepala BKKBN di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Rabu (24/6/2026).

Menurut Netty, keberhasilan program penanganan stunting tidak bisa hanya diukur dari banyaknya tokoh, pejabat, perusahaan, atau komunitas yang terdaftar sebagai orang tua asuh. Yang lebih penting adalah sejauh mana pendampingan yang diberikan mampu mengubah kondisi keluarga sasaran dan menurunkan angka stunting secara nyata.

“Saya masih menyimpan pertanyaan apakah kemudian program ini masih didominasi oleh selebrasi yang berlebihan ketimbang kemudian program pendampingannya,” kata Netty dalam rapat.

Politikus PKS itu menilai pemerintah perlu membuka secara rinci praktik-praktik terbaik atau best practice pelaksanaan GENTING di berbagai daerah. Tanpa ukuran yang jelas, program berisiko menjadi sekadar ajang pencitraan sosial yang sulit dievaluasi dampaknya.

Netty mencontohkan pengalaman program Kawasan Tanpa Rokok (KTR). Meski banyak daerah telah memiliki regulasi pendukung, implementasi di lapangan dinilai belum sepenuhnya menghasilkan perubahan signifikan. Ia tidak ingin program GENTING mengalami nasib serupa, yaitu ramai secara administrasi, tetapi lemah dalam hasil.

“Jadi ini menurut saya perlu juga disampaikan seperti apa pola-pola best practice dari orang tua asuh stunting,” ujarnya.

Ia mempertanyakan bentuk konkret pendampingan yang diberikan para orang tua asuh kepada keluarga berisiko stunting. Menurutnya, publik perlu mengetahui apakah bantuan yang diberikan hanya bersifat sesaat atau benar-benar dilakukan secara rutin dan berkelanjutan.

“Apakah kemudian orang tua asuh stunting ini secara rutin memberikan asupan bergizi buat keluarga berisiko stunting atau kemudian sebagiannya memang memelihara secara khusus, merawat secara khusus seperti itu. Nah ini penting untuk diperjelas gerakan orang tua asuh stunting,” tegas Netty.

Kritik Netty mengarah pada persoalan mendasar yang selama ini kerap muncul dalam berbagai program sosial pemerintah, yakni tingginya angka partisipasi belum tentu sejalan dengan capaian substansial.

Dalam konteks GENTING, ia menilai ukuran keberhasilan seharusnya bukan jumlah orang tua asuh yang direkrut, melainkan jumlah anak yang berhasil keluar dari risiko stunting.

Karena itu, ia meminta BKKBN tidak terjebak dalam euforia statistik partisipasi. Program yang menyentuh isu gizi dan masa depan generasi bangsa, kata dia, harus mampu menunjukkan hasil yang terukur di lapangan.

“Jangan sampai kita euforia bahwa ada sekian orang tua asuh stunting tapi kemudian tidak berbanding lurus dengan penyelesaian stunting itu sendiri,” pungkasnya.


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *