Sudutkota.id – Kelangkaan semen di Aceh menjadi sorotan Anggota DPD RI, Azhari Cage. Persoalannya, kondisi tersebut terjadi ketika produksi PT Solusi Bangun Andalas (SBA) disebut justru meningkat hingga 35 persen dibandingkan tahun sebelumnya.
Kondisi itu membuat Azhari mempertanyakan jalur distribusi semen dari pabrik hingga ke pasar. Ia pun melakukan inspeksi mendadak ke pabrik PT SBA di Lhoknga, Aceh Besar, Sabtu (8/8/2026), menyusul keluhan masyarakat mengenai sulitnya mendapatkan semen dan melonjaknya harga di pasaran.
Dari hasil kunjungannya, Azhari mendapat penjelasan bahwa produksi PT SBA mengalami peningkatan. Bahkan, operasional pabrik disebut tetap berjalan pada akhir pekan dan berlangsung selama 24 jam.
“Kita melihat di pabrik tadi dan menurut keterangan dari General Manager PT Solusi Bangun Andalas, produksi semen meningkat 35 persen dari tahun lalu. Sekarang pun Sabtu-Minggu tetap produksi, bahkan operasional produksi mencapai 24 jam,” kata Azhari.
Menurutnya, kondisi tersebut semestinya berbanding lurus dengan ketersediaan semen di pasar. Jika produksi meningkat tetapi masyarakat masih kesulitan memperoleh semen dengan harga wajar, maka persoalan distribusi perlu ditelusuri.
“Dari keterangan tersebut, seharusnya semen tidak langka di pasaran. Maka kita minta kepada PT Solusi Bangun Andalas agar memanggil para distributor dan mengevaluasi jalur distribusinya,” ujarnya.
Azhari menyebut harga semen di tingkat konsumen bahkan mencapai sekitar Rp120 ribu per sak. Karena itu, ia meminta PT SBA mengumpulkan para distributor untuk mengevaluasi rantai distribusi sekaligus memastikan tidak ada pihak yang mengambil keuntungan secara tidak wajar.
“Kita minta untuk dipanggil para distributor, mengingat kondisi hari ini, di mana semen tak hanya langka, tapi harganya cukup melambung,” katanya.
Ia menilai evaluasi tidak cukup dilakukan di tingkat pabrik. Jalur distribusi dari distributor hingga pengecer juga harus diperiksa agar dapat diketahui titik yang menyebabkan pasokan tersendat atau harga melonjak.
“Dipanggil untuk dikumpulkan secara resmi. Nanti kan bisa tahu siapa kalau ada distributor yang nakal,” tegas Azhari.
Persoalan harga juga menjadi perhatian lain. Azhari menilai ironis apabila masyarakat Aceh harus membeli semen dengan harga tinggi, sementara daerah tersebut memiliki pabrik semen sendiri. Bahkan, ia menyebut harga semen di Medan justru lebih murah dibandingkan di Aceh.
“Kita punya pabrik semen, tapi harga lebih murah di Medan. Ini juga harus menjadi perhatian pabrik semen Andalas, pemerintah daerah, serta PT Semen Indonesia Group,” ujarnya.
Menurut Azhari, kondisi tersebut perlu menjadi bahan evaluasi bersama. Jangan sampai peningkatan produksi di tingkat pabrik tidak memberikan dampak langsung terhadap ketersediaan dan keterjangkauan harga bagi masyarakat Aceh.
Ia berharap PT SBA bersama distributor dan pemerintah daerah segera melakukan pembenahan terhadap jalur distribusi. Langkah tersebut dinilai penting agar pasokan semen kembali normal dan masyarakat tidak terus terbebani oleh kenaikan harga.
“Kita berharap dengan evaluasi jalur distribusi ini, tidak terjadi lagi kelangkaan semen di pasar dan harga tetap stabil, sehingga masyarakat tidak terbebani dengan kenaikan harga,” pungkasnya.




















