Daerah

Diduga Demensia, Jamaah Haji Asal Jombang Tak Jadi Diberangkatkan

3
×

Diduga Demensia, Jamaah Haji Asal Jombang Tak Jadi Diberangkatkan

Share this article
Diduga Demensia, Jamaah Haji Asal Jombang Tak Jadi Diberangkatkan
Calon jamaah haji asal Jombang yang kini ada di asrama haji Surabaya.(foto:sudutkota.id/Kemenhaj Jombang)

Sudutkota.id – Ribuan pengantar calon jamaah haji memadati pintu masuk Pendopo Kabupaten Jombang untuk melepas keberangkatan sanak keluarga menuju Tanah Suci.

Suasana haru mewarnai pemberangkatan jamaah haji asal Jombang yang tergabung dalam Kloter 60 dan 61 Embarkasi Surabaya.

Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Jombang, H Ilham Rohim mengatakan, sebanyak 528 jamaah haji diberangkatkan pada gelombang pertama, sementara sisanya dijadwalkan berangkat pada, Kamis (7/5/2026).

“Untuk pemberangkatan hari ini Kloter 60 dan 61 dengan jumlah 528 jamaah dari total keseluruhan 1.263 jamaah,” ujarnya, Sabtu (9/5/2026).

Namun, keberangkatan haji tahun ini diwarnai sejumlah jamaah yang terpaksa menunda keberangkatan karena faktor kesehatan.

Ilham menjelaskan, dua calon jamaah haji (CJH) dipastikan menunda keberangkatan lantaran tidak memenuhi syarat istitha’ah atau kemampuan kesehatan untuk berhaji.

“Ada dua jamaah yang tunda. Satu jamaah dinyatakan tidak istitha’ah oleh tim kesehatan sehingga keberangkatannya ditunda tahun depan,” katanya.

Tak hanya itu, enam CJH lainnya yang sedianya berangkat pada kloter berikutnya juga tertunda. Sebagian besar terkendala kondisi kesehatan, sementara satu pasangan suami istri memilih menunda keberangkatan karena salah satunya sakit.

Sementara itu, seorang calon jamaah haji asal Jombang bernama Mualiful Karim (59) dipastikan gagal berangkat ke Tanah Suci setelah mengalami gangguan kesehatan berupa demensia.

CJH yang tergabung dalam Kloter 62 Embarkasi Surabaya itu sempat mengamuk di Asrama Haji Surabaya pada Kamis (7/5/2026) malam.

Ia disebut berusaha meninggalkan asrama karena tidak menerima aturan pemisahan kamar laki-laki dan perempuan.

Mualiful Karim dikabarkan ingin tetap satu kamar dengan istrinya. Padahal, aturan asrama haji mengharuskan jamaah laki-laki dan perempuan menempati kamar terpisah demi ketertiban bersama.

Kondisi tersebut memicu reaksi emosional dari jamaah bersangkutan hingga akhirnya mendapat penanganan petugas.

Ketua PPIH Embarkasi Surabaya, Mohammad As’adul Anam mengatakan, hasil pemeriksaan medis menunjukkan jamaah mengalami gangguan kognitif serius.

“Yang bersangkutan sudah lupa dengan dirinya sendiri. Karena itu dirujuk ke Rumah Sakit Menur untuk observasi,” ujar Anam, Sabtu (9/5/2026).

Dari hasil observasi dokter, Mualiful Karim dinyatakan tidak memenuhi syarat istitha’ah sehingga tidak diperkenankan melanjutkan perjalanan ibadah haji tahun ini.

Lebih lanjut ia mengatakan PPIH Embarkasi Surabaya menyebut, Mualiful Karim berangkat bersama anaknya, Sofia Aimatil Afifah (33). Sementara istrinya diketahui telah meninggal dunia.

Kondisi tersebut diduga turut memengaruhi kondisi psikologis jamaah hingga mengalami gangguan emosional saat berada di asrama haji.

“Pihak keluarga akhirnya menerima keputusan pembatalan keberangkatan demi keselamatan jamaah,” paparnya.

Menurut Anam, demensia menjadi salah satu gangguan kesehatan yang sulit dikenali sejak awal pemeriksaan. Salah satu indikator medis yang digunakan yakni kemampuan jamaah dalam melakukan perhitungan sederhana.

“Ketidakmampuan menjumlahkan atau mengurangkan angka sederhana bisa menjadi salah satu tanda gangguan kognitif,” jelasnya.

Ia menegaskan pentingnya ketelitian pemeriksaan kesehatan calon jamaah haji di daerah agar kasus serupa tidak kembali terjadi di embarkasi.

Hingga saat ini, sebanyak 23.519 jamaah atau sekitar 53 persen jamaah Embarkasi Surabaya telah diberangkatkan ke Tanah Suci.

Sementara jumlah jamaah yang gagal berangkat karena alasan kesehatan tercatat empat orang yang berasal dari Pasuruan, Kabupaten Malang, Lamongan, dan Jombang.


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *