Daerah

Hasil Lab Ungkap Bakteri Bacillus Cereus pada Sop dan Ayam Woku SPPG Sukorejo 2

9
×

Hasil Lab Ungkap Bakteri Bacillus Cereus pada Sop dan Ayam Woku SPPG Sukorejo 2

Share this article
Hasil Lab Ungkap Bakteri Bacillus Cereus pada Sop dan Ayam Woku SPPG Sukorejo 2
Menu MBG SPPG Sukorejo 2 yang diduga kuat penyebab keracunan.(Sudutkota.id/Farros)

BLORA, Sudutkota.id – Hasil pemeriksaan laboratorium terkait kejadian dugaan keracunan Makan Bergizi Gratis (MBG) yang diproduksi Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Sukorejo 2, Kecamatan Tunjungan, Kabupaten Blora, akhirnya terungkap.

Dinas Kesehatan Kabupaten Blora menemukan bakteri Bacillus cereus pada dua sampel makanan yang disajikan kepada penerima manfaat MBG, pada Senin (7/9/2026).

Sekretaris Dinas Kesehatan Kabupaten Blora, Nur Betsia Bertawati, mengatakan pemeriksaan dilakukan setelah tim surveilans bersama sejumlah tim terkait melakukan pemeriksaan ke lokasi SPPG.

Pemeriksaan laboratorium dilakukan di dua tempat, yakni Laboratorium Kesehatan Daerah (Labkesda) Kabupaten Blora dan Laboratorium Kesehatan Provinsi Jawa Tengah.

“Hasil pemeriksaan di Labkesda menunjukkan air sumur mengandung bakteri E. coli melebihi ambang batas yang diperbolehkan. Sementara sampel air minum yang diperiksa dinyatakan normal dan tidak ditemukan bakteri tersebut,” ujar Betsia.

Sementara itu, pemeriksaan sampel makanan yang dilakukan Laboratorium Kesehatan Provinsi Jawa Tengah menemukan bakteri Bacillus cereus pada dua menu, yakni kuah sop dan ayam woku kemangi.

“Di dua makanan tersebut ditemukan bakteri Bacillus cereus yang bisa menyebabkan keracunan makanan dengan gejala yang hampir sama dengan yang dialami anak-anak, seperti muntah, diare dan mual,” jelasnya.

Sedangkan sejumlah sampel makanan lainnya dinyatakan normal. Sampel tersebut meliputi nasi putih, tempe, apel, rebusan brokoli, dan jagung manis.

Betsia menyebut keberadaan bakteri pada makanan dapat dipengaruhi sejumlah faktor, mulai dari pengelolaan makanan yang tidak sempurna, penyimpanan bahan makanan yang tidak sesuai standar, hingga proses pengolahan dan pendistribusian.

“Pengelolaan, penyimpanan, pengepakan, kemudian pendistribusian itu sangat berpengaruh,” katanya.

Dari kejadian tersebut, Dinas Kesehatan mencatat sebanyak 334 kasus. Rinciannya, 198 orang menjalani rawat jalan, 10 orang menjalani rawat inap, sedangkan 126 orang mengalami gejala namun tidak memeriksakan diri.

Kasus tersebut juga tidak hanya dilaporkan dari satu satuan pendidikan. Sejumlah penerima manfaat dari beberapa sekolah turut mengalami gejala, di antaranya SMA Tunjungan, SDIT Permata Mulia, dan SMP Permata Banjari.

Hasil pemeriksaan laboratorium tersebut selanjutnya telah disampaikan kepada Satgas Kabupaten bersama pihak SPPG untuk menjadi bahan tindak lanjut.

Dinas Kesehatan menegaskan hasil laboratorium tersebut menjadi salah satu dasar dalam penanganan dan evaluasi terhadap pelaksanaan MBG di SPPG Sukorejo 2 Tunjungan.


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *