KOTA MALANG, Sudutkota.id – Harga cabai di Kota Malang mulai merangkak naik dalam sepekan terakhir. Berdasarkan pantauan Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (Dispangtan) Kota Malang, harga cabai kini berada di kisaran Rp60 ribu hingga Rp80 ribu per kilogram.
Kenaikan tersebut terjadi ketika sebagian petani masih menghadapi kondisi musim kemarau. Situasi ini berpengaruh terhadap waktu tanam cabai, terutama pada lahan yang bergantung pada air hujan.
Kepala Dispangtan Kota Malang Drs. Slamet Husnan Hariyadi mengatakan, kenaikan harga cabai saat ini berkaitan dengan kondisi musim yang masih berlangsung.
“Sekarang harga cabai mulai merangkak naik, ini dikarenakan masih masuk di musim kemarau,” ujar Slamet saat dikonfirmasi, Jumat (2/10/2026).
Menurut Slamet, kondisi kemarau membuat tanaman cabai yang tidak ditanam di lahan sawah belum seluruhnya bisa memasuki masa tanam. Petani masih menunggu awal musim hujan untuk memulai penanaman.
“Untuk tanaman cabai yang tidak ditanam di lahan sawah itu menunggu awal musim hujan baru melaksanakan penanaman. Saat ini masih persiapan lahan,” jelasnya.
Persiapan tersebut, lanjut Slamet, sebenarnya sudah dilakukan petani. Bahkan, sejumlah lahan telah diolah dan tinggal menunggu kondisi cuaca memungkinkan untuk segera ditanami.
Slamet mencontohkan, terdapat lahan cabai seluas sekitar 2 hektare di Kota Malang yang saat ini telah dipersiapkan. Lahan tersebut sudah dibuat guludan, tanahnya telah diolah, serta diberikan pupuk kandang.
“Salah satu contoh di Kota Malang ini ada lahan seluas 2 hektare sudah disiapkan berupa guludan-guludan. Tanah sudah diolah, sudah dikasih pupuk kandang, tinggal menunggu awal musim hujan maka akan langsung dilakukan penanaman,” katanya.
Tidak hanya lahan, Slamet memastikan kebutuhan bibit juga telah disiapkan. Artinya, ketika hujan mulai datang dan kondisi lahan memungkinkan, proses penanaman dapat segera dilakukan.
“Bahkan bibitnya pun juga sudah siap,” tegasnya.
Berbeda dengan cabai yang ditanam di lahan non-sawah, tanaman cabai yang berada di lahan persawahan saat ini sudah mulai ditanam.
Namun, masyarakat masih harus menunggu beberapa bulan sebelum hasilnya masuk ke pasar. Slamet memperkirakan tanaman tersebut baru dapat dipanen sekitar 3 hingga 3,5 bulan setelah penanaman.
“Sementara tanaman cabai yang ada di lahan persawahan itu sudah mulai tanam, kemungkinan 3 atau 3 setengah bulan lagi mulai bisa panen,” ungkapnya.
Ia mengingatkan, panen awal belum tentu langsung menghasilkan produksi dalam jumlah besar. Produksi justru diperkirakan meningkat setelah tanaman memasuki beberapa kali masa panen.
“Panen pertama pun tidak banyak, mungkin panen ke-8, ke-10 baru meningkat hasil,” lanjut Slamet.
Menurutnya, kondisi tersebut merupakan bagian dari siklus budidaya cabai yang juga dipengaruhi faktor cuaca dan musim.
“Itu memang faktor cuaca, musim, dan kebanyakan khususnya di Kota Malang lahan untuk tanaman cabai ini lahan tadah hujan, sehingga menunggu musim hujan,” jelasnya.
Terkait perkembangan harga di tingkat pasar, Slamet menyebut hasil pemantauan Dispangtan menunjukkan harga cabai telah berada pada rentang Rp60 ribu hingga Rp80 ribu.
“Kalau dari pantauan harga sekitar Rp60.000 sampai Rp80.000,” ujarnya.
Kenaikan tersebut, kata Slamet, bukan baru terjadi hari ini. Pergerakan harga sudah dirasakan dalam sekitar satu pekan terakhir.
“Sudah seminggu ini,” katanya.
Meski demikian, pemerintah daerah telah menyiapkan langkah apabila kenaikan harga terus berlanjut. Slamet menyebut intervensi akan dilakukan melalui mekanisme pengendalian inflasi apabila harga mencapai level tertentu.
“Biasanya nanti dari tim TPID kalau memang kenaikannya di atas Rp100.000 akan ada intervensi melalui toko, ya, warung tekan inflasi yang akan dijalankan oleh Diskopindag,” paparnya.
Di sisi produksi, Dispangtan tidak hanya menunggu perubahan musim, tetapi juga melakukan persiapan penanaman di sejumlah wilayah.
Salah satu lokasi yang disebut Slamet berada di kawasan Mbaran, Buring, Kedungkandang.
“Persiapan tanaman di daerah Mbaran Buring Kedungkandang,” ujarnya.
Langkah tersebut menjadi bagian dari persiapan pemerintah menghadapi potensi berkurangnya pasokan cabai akibat faktor musim.
Selain cabai, pemerintah juga mencermati komoditas hortikultura lain yang biasa mengalami pergerakan harga, khususnya bawang merah dan bawang putih.
“Kalau biasanya selain cabai besar, cabai kecil, biasanya bawang merah, bawang putih,” kata Slamet.
Dengan kondisi tersebut, perkembangan harga cabai di Kota Malang masih akan bergantung pada keseimbangan antara pasokan dari petani, kondisi cuaca, serta masuknya musim hujan yang memungkinkan penanaman lebih luas.
Dispangtan sendiri kini menyiapkan lahan dan bibit, sementara tanaman cabai di lahan persawahan yang sudah ditanam masih membutuhkan waktu sekitar tiga hingga tiga setengah bulan sebelum mulai menghasilkan panen.




















