Daerah

Sampah Menumpuk di Sungai Kadalpank, DLH Kota Malang Soroti Kebiasaan Buang Sampah ke Aliran Sungai

12
×

Sampah Menumpuk di Sungai Kadalpank, DLH Kota Malang Soroti Kebiasaan Buang Sampah ke Aliran Sungai

Share this article
Sampah Menumpuk di Sungai Kadalpank, DLH Kota Malang Soroti Kebiasaan Buang Sampah ke Aliran Sungai
Plt Kepala DLH Kota Malang, Drs. Gamaliel Raymond Hatigoran M. MAP, saat memberikan keterangan terkait penumpukan sampah di aliran Sungai Kadalpank, Kelurahan Oro-Oro Dowo, Kamis (1/10/2026).(Sudutkota.id/Andik Agus Demit)

KOTA MALANG, Sudutkota.id – Tumpukan sampah kembali menjadi persoalan di sejumlah aliran sungai di Kota Malang. Salah satunya terlihat di aliran Sungai Kadalpank, Kelurahan Oro-Oro Dowo, Kecamatan Klojen, yang ditemukan dipenuhi sampah.

Kondisi tersebut menjadi perhatian Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Malang. DLH memastikan pembersihan akan dilakukan, namun membutuhkan persiapan lantaran lokasi berada di dalam aliran sungai dan menyangkut keselamatan petugas.

Hal ini disampaikan Plt. Kepala DLH Kota Malang, Drs. Gamaliel Raymond Hatigoran M. MAP, saat dikonfirmasi, Kamis (1/10/2026).

Raymond mengatakan, persoalan sampah di sungai tidak serta-merta dapat disimpulkan berasal dari warga yang membuang sampah secara langsung di lokasi. Sampah juga sangat mungkin terbawa arus dari wilayah hulu.

“Memang beberapa sungai di Kota Malang masih terdapat sampah. Apakah sampah yang dibuang langsung oleh masyarakat di situ, bisa jadi juga sampah yang dibuang di hulu sungai,” ujar Raymond.

Menurutnya, kondisi tersebut menjadi tantangan tersendiri karena sejumlah sungai yang melintas Kota Malang memiliki wilayah hulu di luar daerah. Artinya, sampah yang terlihat menumpuk di satu titik belum tentu seluruhnya berasal dari lokasi tersebut.

DLH pun tengah menyusun jadwal pembersihan di sejumlah titik sungai yang ditemukan memiliki persoalan serupa. Pembersihan tidak dapat dilakukan secara sembarangan karena membutuhkan peralatan serta personel yang memiliki kemampuan bekerja di dalam aliran air.

“Untuk pembersihan di lokasi tersebut akan kita jadwalkan. Rencananya antara Sabtu atau Minggu kita lakukan yang di Merjosari. Setelah itu harapannya kita geser ke sana,” jelasnya.

Raymond menegaskan, faktor keselamatan petugas menjadi pertimbangan utama. Terlebih, pembersihan sampah di sungai membutuhkan personel yang terbiasa berada di dalam air sekaligus perlengkapan yang memadai.

Di sisi lain, DLH mengakui persoalan sampah sungai tidak hanya terjadi di Kadalpank. Sejumlah aliran sungai, termasuk bagian dari DAS Brantas, Sungai Sukun hingga Sungai Metro, juga masih ditemukan sampah.

“Kita selalu memberikan sosialisasi untuk larangan membuang sampah di sungai. Tetapi memang masih terdapat sampah-sampah di aliran sungai,” katanya.

DLH sebelumnya juga melakukan penanganan di sejumlah lokasi. Di Bumiayu, misalnya, titik pembuangan sampah liar telah ditertibkan dan akses pembuangan sementara maupun pembuangan liar ditutup.

Sementara di kawasan Kedawung, DLH juga menemukan persoalan sampah pada percabangan aliran Sungai Brantas yang mengarah ke Sungai Sukun. Lokasi lain yang menjadi perhatian adalah kawasan Merjosari.

Raymond mengatakan, selain mengandalkan pembersihan manual, pihaknya juga membuka kemungkinan penggunaan sarana tertentu untuk menahan maupun mengangkat sampah dari sungai. Termasuk melihat peluang dukungan melalui program tanggung jawab sosial perusahaan (CSR) maupun kerja sama dengan perguruan tinggi.

“Kita rencanakan. Nanti kita lihat kondisi beberapa lokasi supaya sampahnya bisa diambil. Tetapi kita cek lokasi dulu kondisinya,” ungkapnya.

Persoalan sampah sungai menjadi semakin penting menjelang musim penghujan. DLH Kota Malang mulai memetakan titik-titik yang berpotensi mengalami penyumbatan, khususnya pada sungai kecil, saluran irigasi lama maupun drainase.

Raymond menjelaskan, sungai besar seperti aliran DAS Brantas relatif tidak menjadi perhatian utama dalam konteks genangan karena karakteristik alirannya yang lebih dalam. Namun, persoalan berbeda terjadi pada sungai kecil dan saluran yang kapasitasnya lebih terbatas.

“Kalau sungai aliran DAS Brantas mungkin tidak menyebabkan kebanjiran karena posisi sungai dalam. Tetapi sungai-sungai kecil, apakah dulu bekas irigasi atau drainase, kita lakukan monitoring,” tegasnya.

Ia mencontohkan kawasan Soekarno-Hatta (Suhat). Meski sejumlah drainase telah dibangun, keberadaan sampah yang menyumbat akses menuju saluran tetap dapat menghambat aliran air.

“Walaupun sudah dibuat drainase tetapi kalau masih ada sampah yang menghambat menuju ke saluran itu, tentunya nanti akan menghambat atau menyebabkan banjir,” katanya.

Karena itu, DLH akan memprioritaskan pembersihan titik-titik yang berpotensi mengalami penyumbatan sebelum intensitas hujan meningkat.

Persoalan sampah di sungai pun kini bukan sekadar masalah estetika lingkungan. Ketika sampah terus masuk dan menumpuk di saluran air, ancaman penyumbatan hingga genangan menjadi konsekuensi yang harus diantisipasi sejak dini.

Raymond menegaskan, pembersihan akan dilakukan secara bertahap, bersamaan dengan pengawasan dan sosialisasi agar masyarakat tidak menjadikan sungai sebagai tempat pembuangan sampah.


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *