Daerah

Putri Aidillah Sentil Pembinaan UMKM Setengah Hati: Jangan Cuma Dilatih, Produk Mereka Harus Dibeli!

5
×

Putri Aidillah Sentil Pembinaan UMKM Setengah Hati: Jangan Cuma Dilatih, Produk Mereka Harus Dibeli!

Share this article
Putri Aidillah Sentil Pembinaan UMKM Setengah Hati: Jangan Cuma Dilatih, Produk Mereka Harus Dibeli!
Anggota DPRD Kota Malang, Putri Aidillah Nurfitriyah Kriswanto, S.H., saat berdialog dan menyerap aspirasi ibu-ibu pelaku UMKM se-Kecamatan Lowokwaru dalam kegiatan reses.(Sudutkota.id/Istimewa)

KOTA MALANG, Sudutkota.id – Pembinaan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) di Kota Malang tidak boleh berhenti sebatas pelatihan, bantuan permodalan, maupun pendampingan usaha.

Tanpa kepastian pasar dan keberpihakan untuk membeli produk lokal, berbagai program pemberdayaan berpotensi hanya menjadi kegiatan seremonial tanpa memberikan dampak ekonomi yang nyata bagi masyarakat.

Persoalan tersebut menjadi sorotan Anggota DPRD Kota Malang dari Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), Putri Aidillah Nurfitriyah Kriswanto, S.H., saat menggelar reses bersama ibu-ibu pelaku UMKM se-Kecamatan Lowokwaru, Rabu (4/11/2026).

Dalam forum penjaringan aspirasi itu, Putri secara terbuka mempertanyakan sejauh mana pemerintah di tingkat kelurahan dan kecamatan telah memberikan ruang pemasaran bagi produk UMKM di wilayahnya sendiri.

Menurutnya, jangan sampai pemerintah begitu gencar mendorong masyarakat mengembangkan usaha, tetapi justru belum menunjukkan keberpihakan ketika pelaku UMKM membutuhkan pasar untuk menjual produknya.

“Coba saya ingin bertanya kepada ibu-ibu, selama ini kalau ada kegiatan di kelurahan atau kecamatan, apakah produk-produk UMKM panjenengan sudah pernah dipesan? Apakah konsumsi atau kebutuhan kegiatan sudah melibatkan pelaku UMKM di sekitar kita?” ujar Putri.

Ia menilai, persoalan UMKM bukan semata-mata terletak pada kemampuan memproduksi barang. Tantangan yang jauh lebih besar justru bagaimana produk yang sudah dibuat dapat terserap pasar dan menghasilkan pendapatan secara berkelanjutan.

Selama ini, pelaku UMKM didorong mengikuti pelatihan, meningkatkan kualitas produk, memperbaiki kemasan, hingga mengembangkan kapasitas usaha. Namun, ketika seluruh proses produksi telah dilakukan, mereka masih harus berjuang sendiri mencari pembeli.

“Jangan hanya ibu-ibu diminta ikut pelatihan, membuat produk yang bagus, memperbaiki kemasan, bahkan didorong untuk naik kelas. Tetapi setelah produknya jadi, mereka harus berjuang sendiri mencari pembeli. Kita harus hadir membantu membuka pasarnya,” tegasnya.

Putri mendorong kelurahan dan kecamatan menjadi salah satu penggerak pemasaran produk UMKM di wilayah masing-masing. Berbagai kebutuhan kegiatan pemerintahan, seperti konsumsi, suvenir, maupun produk lainnya, diharapkan dapat melibatkan pelaku usaha lokal sepanjang memenuhi persyaratan dan ketentuan pengadaan yang berlaku.

Untuk mewujudkan hal tersebut, ia menilai perlu adanya pendataan dan pemetaan produk UMKM di setiap kelurahan. Dengan begitu, pemerintah memiliki informasi mengenai jenis produk, kapasitas produksi, serta pelaku usaha yang dapat dilibatkan ketika terdapat kebutuhan dalam kegiatan pemerintahan.

Menurut Putri, keberpihakan terhadap UMKM tidak cukup hanya diukur dari banyaknya program pelatihan atau bantuan yang diberikan. Ukuran keberhasilannya juga harus terlihat dari terbukanya akses pasar dan meningkatnya penyerapan produk masyarakat.

Selain pemasaran, Putri turut membuka ruang bagi pelaku UMKM untuk menyampaikan berbagai kendala yang dihadapi, mulai dari akses permodalan, legalitas usaha, sertifikasi halal, perizinan BPOM sesuai jenis produk, kualitas kemasan, hingga pemasaran digital.

Ia berharap persoalan tersebut mendapatkan perhatian melalui pendampingan yang berkelanjutan. Sebab, pelaku UMKM membutuhkan ekosistem usaha yang mendukung, bukan sekadar dorongan agar terus meningkatkan kualitas produknya.

“Harapan saya, ibu-ibu UMKM Lowokwaru tidak hanya semakin banyak, tetapi juga semakin berdaya dan memiliki pasar yang jelas. Pemerintah harus hadir bukan hanya membina, tetapi juga membantu menciptakan peluang usaha,” ungkapnya.

Putri menegaskan, dukungan terhadap UMKM harus diwujudkan melalui tindakan nyata. Salah satunya dengan membangun kebiasaan membeli dan menggunakan produk lokal, sehingga perputaran ekonomi dapat dirasakan langsung oleh masyarakat.

“Kalau kita ingin UMKM naik kelas, mari mulai dari lingkungan kita sendiri. Jangan hanya bangga dengan produk lokal, tetapi juga harus mau membeli dan menggunakannya. Dukung usaha tetangga, kuatkan ekonomi keluarga, dan tumbuhkan ekonomi Kota Malang bersama-sama,” pungkas Putri.


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *