Daerah

Wali Kota Malang Desak Kampus Perkuat Screening Psikologis Bagi Mahasiswa

17
×

Wali Kota Malang Desak Kampus Perkuat Screening Psikologis Bagi Mahasiswa

Share this article
Wali Kota Malang Desak Kampus Perkuat Screening Psikologis Bagi Mahasiswa
Wali Kota Malang, Wahyu Hidayat saat memberikan keterangan kepada awak media terkait upaya pencegahan percobaan bunuh diri mahasiswa di Kota Malang.(Sudutkota.id/Andik Agus Demit)

KOTA MALANG, Sudutkota.id – Dugaan percobaan bunuh diri yang melibatkan mahasiswa Universitas Brawijaya (UB) dari lantai enam menjadi perhatian Pemerintah Kota (Pemkot) Malang.

Wali Kota Malang, Wahyu Hidayat meminta perguruan tinggi memperkuat deteksi dini dan pendampingan psikologis mahasiswa, bukan hanya mengandalkan pengamanan fisik.

Hal tersebut disampaikan Wahyu saat dikonfirmasi awak media, Selasa (15/9/2026), menyikapi sejumlah kasus percobaan bunuh diri yang melibatkan mahasiswa di Kota Malang.

Wahyu mengatakan, Pemkot Malang telah berkomunikasi dengan sejumlah rektor perguruan tinggi untuk membahas langkah antisipasi. Dari komunikasi tersebut, beberapa perguruan tinggi disebut telah menjalankan kegiatan pencegahan.

“Kami sudah bertemu dengan para rektor. Ada beberapa perguruan tinggi yang sudah melaksanakan beberapa kegiatannya terkait dengan antisipasi. Itu juga merupakan salah satu diskusi dengan kami,” ujar Wahyu.

Menurutnya, pencegahan tidak cukup hanya dilakukan dengan memperkuat pengamanan pada lokasi yang berpotensi digunakan untuk percobaan bunuh diri. Persoalan tersebut harus dilihat dari akar masalah yang dialami mahasiswa.

“Bukan salah satu solusi apabila kita akhirnya jembatan-jembatan ini yang menjadi korban akhirnya kita buat tinggi-tinggi,” tegasnya.

Wahyu menyebut tekanan yang dialami mahasiswa bisa muncul dari berbagai persoalan. Mulai dari masalah pribadi, keluarga, hingga persoalan pendidikan dan perkuliahan.

Karena itu, ia meminta perguruan tinggi lebih aktif melakukan deteksi dini. Menurut Wahyu, kampus memiliki sumber daya dan tenaga profesional yang dapat dilibatkan untuk membantu mahasiswa yang sedang menghadapi persoalan.

“Kami berharap perguruan tinggi ini merespons dengan baik terkait dengan bunuh diri ini karena kami yakin perguruan tinggi ini lebih tahu untuk menjadikan solusi. Mereka punya tenaga-tenaga ahli, psikolog, dan lain-lain, agar permasalahan-permasalahan ini bisa terselesaikan secara internal,” katanya.

Wahyu secara khusus mendorong agar screening psikologis mahasiswa dilakukan secara berkala. Menurutnya, pemeriksaan kondisi psikologis tidak seharusnya hanya dilakukan saat mahasiswa pertama kali masuk perguruan tinggi.

Fase pertengahan masa studi hingga menjelang kelulusan, termasuk saat mahasiswa menghadapi tekanan akademik seperti penyelesaian skripsi, juga harus menjadi perhatian.

“Kami berharap screening itu tidak hanya di awal, tetapi di saat-saat mereka akan berakhir, di saat-saat tengah-tengah. Karena permasalahannya banyak yang menjadi latar belakang kenapa akhirnya bunuh diri itu terjadi,” ungkapnya.

Namun, Wahyu menegaskan screening tidak boleh berhenti sebagai formalitas administratif. Ketika terdapat mahasiswa yang menunjukkan perubahan perilaku atau tanda membutuhkan bantuan, kampus harus melakukan pendekatan secara aktif.

“Kadang kala mereka tertutup, tidak mau terbuka. Kami berharap ini ada hal-hal yang menjadi satu kepedulian dari perguruan tinggi ini untuk bisa mendekati mahasiswa-mahasiswanya yang mencurigakan,” jelas Wahyu.

Menurutnya, perguruan tinggi memiliki posisi strategis karena berinteraksi langsung dengan mahasiswa dalam aktivitas akademik sehari-hari. Kondisi tersebut seharusnya dapat dimanfaatkan untuk mendeteksi lebih cepat ketika ada mahasiswa yang mengalami tekanan.

Di sisi lain, Wahyu memastikan Pemkot Malang juga menyediakan akses layanan bagi masyarakat yang mengalami tekanan psikologis melalui puskesmas.

“Di puskesmas sudah terbuka, ada layanan yang mereka bisa dapatkan terkait dengan tekanan-tekanan jiwa. Kita ada, tiap puskesmas ada,” ujarnya.

Ia menjelaskan, penanganan dilakukan sesuai kondisi masing-masing orang. Jika persoalan yang dihadapi membutuhkan penanganan lebih lanjut, pasien akan diarahkan mendapatkan layanan sesuai kebutuhannya.

Untuk lingkungan sekolah, Pemkot Malang juga telah menggandeng psikiater. Selain melibatkan tenaga profesional, pihak sekolah turut diberikan peran untuk memberikan perhatian terhadap siswa yang mengalami tekanan.

Sementara untuk perguruan tinggi, Wahyu menyebut penanganan mahasiswa pada dasarnya merupakan bagian dari tanggung jawab internal masing-masing kampus. Meski demikian, Pemkot Malang tetap membuka komunikasi dan memberikan masukan kepada para rektor.

“Kami juga sudah mengingatkan rektor pada saat kerja sama kemarin antara perguruan tinggi dengan Pemkot. Salah satunya kami mengingatkan. Tapi saya rasa itu sudah internalnya perguruan tinggi. Kami hanya mengingatkan agar tidak terjadi bunuh diri lagi,” pungkas Wahyu.


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *