Daerah

Sidak Pasar Gadang, Wahyu Hidayat Ultimatum Relokasi: Maret Tak Boleh Molor

14
×

Sidak Pasar Gadang, Wahyu Hidayat Ultimatum Relokasi: Maret Tak Boleh Molor

Share this article
Sidak Pasar Gadang, Wahyu Hidayat Ultimatum Relokasi: Maret Tak Boleh Molor
Wali Kota Malang, Wahyu Hidayat saat sidak di kawasan pembangunan Pasar Induk Gadang, Senin (23/2/2026).(foto:sudutkota.id/mit)

Sudutkota.idWali Kota Malang, Wahyu Hidayat turun langsung melakukan inspeksi mendadak (sidak) ke kawasan pembangunan Pasar Induk Gadang, Senin (23/2/2026). Sidak ini bukan sekadar kunjungan rutin, melainkan sinyal tegas agar proses relokasi pedagang dan penataan kawasan tidak kembali tersendat.

Dalam keterangannya, Wahyu mengaku semula ingin memantau harga kebutuhan pokok seperti cabai, daging ayam, dan daging sapi menjelang Ramadan. Namun di lapangan, ia sekaligus memastikan kesiapan pemindahan pedagang dari kawasan tepi jalan utama yang selama ini dinilai memicu kemacetan dan kesemrawutan.

“Hari ini saya ingin mengecek kesiapan pemindahan lokasi Pasar Gadang yang berada di tepi jalan utama. Ini harus saya pastikan,” tegas Wahyu.

Wahyu menekankan bahwa proyek penataan Pasar Gadang sejatinya tinggal menunggu satu faktor krusial: lahan harus benar-benar bersih. Dana Alokasi Khusus (DAK) dari pemerintah pusat disebut sudah tersedia, namun proses lelang belum bisa dimulai sebelum lokasi dinyatakan clear.

Ia bahkan sempat mencari Kepala Dinas PUPR di lokasi untuk memastikan kesiapan teknis percepatan.

“Dana sudah ditetapkan. Ini hanya menunggu kesiapan lahan. Kalau lokasi sudah clear, baru proses lelang bisa berjalan,” ujarnya.

Pernyataan ini sekaligus menjadi peringatan bagi jajaran teknis agar tidak ada lagi alasan keterlambatan administratif.

Pemkot Malang menyiapkan penataan menyeluruh di kawasan Pasar Gadang. Tidak hanya relokasi pedagang, tetapi juga perbaikan infrastruktur pendukung.

Rencana tersebut meliputi: perbaikan jalan kembar (dua lajur), penataan median jalan, penyambungan dengan dua jembatan eksisting dan pemasangan pagar tembok di sisi jalan.

Menariknya, usulan pagar tembok muncul dari aspirasi pedagang sendiri. Mereka berharap ada pembatas permanen agar pembeli tidak lagi berhenti mendadak di pinggir jalan.

“Inginnya ada pagar tembok supaya tidak ada yang loncat dan tidak ada pembeli langsung berhenti di pinggir jalan,” jelas Wahyu menirukan masukan pedagang.

Skema yang disiapkan, lanjutnya, akan mengatur alur: pagar terlebih dahulu, kemudian jalur pejalan sekitar 1,5 meter, baru area berjualan. Dengan pola ini, praktik jual beli di bahu jalan diharapkan benar-benar hilang.

Wahyu menyebut komunikasi dengan pedagang terus berjalan. Bahkan sebagian pedagang disebut siap swadaya untuk menempati lokasi baru di sisi selatan.

Di sisi timur, proses penataan disebut sudah relatif selesai. Tinggal bagian barat yang kini dikebut agar rampung sebelum Lebaran.

“Yang sebelah timur sudah selesai, tinggal yang barat. Insyaallah sebelum hari raya juga selesai,” ujarnya.

Nada Wahyu terdengar paling tegas saat menyinggung target waktu. Ia mematok seluruh proses relokasi pedagang harus rampung paling lambat Maret 2026.

Selama Ramadan, proses pembongkaran dan penyiapan lokasi ditargetkan tuntas. Setelah Lebaran, pedagang mulai pindah bertahap hingga kawasan benar-benar bersih.

“Setelah hari raya mereka mulai pindah. Maret harus selesai. Harus sudah pindah semua,” tandasnya.

Ia menegaskan tidak boleh ada lagi pedagang yang berjualan di tepi jalan setelah penataan diberlakukan.



Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *