Sudutkota.id – Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kabupaten Jombang mencatat ribuan Anak Tidak Sekolah (ATS) di Kabupaten Jombang, Jawa Timur.
Mayoritas anak yang masuk kategori ATS diketahui memilih bekerja dan enggan melanjutkan pendidikan formal.
Kepala Bidang Pembinaan PAUD dan Pendidikan Non Formal (PNF) Disdikbud Jombang, Maria Ulfah mengatakan, data ATS di Kota Santri mencapai 7.281 anak.
“Data yang kami peroleh dari pusat jumlahnya 7.281 anak tidak sekolah,” kata Maria Ulfah, Jumat (29/5/2026).
Ribuan ATS tersebut berasal dari berbagai kategori dan jenjang pendidikan. Rinciannya, sebanyak 1.646 anak merupakan lulusan SMP yang tidak melanjutkan ke jenjang SMA/SMK.
“Kemudian, 353 siswa lulusan SD tidak melanjutkan ke SMP,” ucapnya.
Selain itu, terdapat 2.037 anak yang belum pernah bersekolah sama sekali dan 3.245 anak tercatat putus sekolah atau drop out.
“Data belum pernah sekolah itu diambil mulai usia 7 sampai 24 tahun,” terangnya.
Data ATS tersebut mencakup seluruh jenjang pendidikan mulai SD sederajat, SMP sederajat hingga SMA/SMK sederajat.
Dan berdasarkan hasil verifikasi lapangan, sebagian besar anak yang masuk kategori ATS diketahui telah bekerja dan tidak ingin kembali bersekolah.
“Dari hasil verifikasi, sebagian besar mereka bekerja dan memang sudah tidak mau bersekolah,” jelasnya.
Maria menjelaskan, proses pendataan ATS dilakukan melalui sistem dari Kemendikdasmen dan diverifikasi langsung oleh sekolah maupun pemerintah desa.
“Pendataan difasilitasi Kemendikdasmen, kemudian diverifikasi oleh sekolah atau madrasah asal bersama pemerintah desa,” ujarnya.
Verifikasi dilakukan untuk memastikan kondisi riil anak dalam data ATS. Mulai dari memastikan anak benar-benar putus sekolah, sudah bekerja, hingga berpindah domisili.
Untuk menekan angka ATS, Disdikbud Jombang terus mendorong program pendidikan nonformal dan pendidikan kesetaraan bagi anak-anak yang masih berpeluang kembali belajar.
“Kami memberikan solusi melalui program kesetaraan melalui SKB (Sanggar Kegiatan Belajar) atau PKBM (Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat),” pungkasnya.




















