Ekonomi Bisnis

Zulhas di Jombang Soroti Mahalnya Biaya Produksi Beras dan Gula di Indonesia

7
×

Zulhas di Jombang Soroti Mahalnya Biaya Produksi Beras dan Gula di Indonesia

Share this article
Zulhas di Jombang Soroti Mahalnya Biaya Produksi Beras dan Gula di Indonesia
Zulhas saat menghadiri Halaqah Kebangsaan Ekonomi Bisnis Pesantren 2026 di Aula Universitas Darul Ulum (Undar).(Foto:sudutkot.id/Elok Apriyanto)

JOMBANG, Sudutkota.idMenteri Koordinator (Menko) Bidang Pangan, Zulkifli Hasan (Zulhas) menekankan pentingnya pemanfaatan teknologi dalam sektor pertanian dan peternakan. Menurutnya, penerapan teknologi dapat menekan biaya produksi sekaligus meningkatkan produktivitas.

Hal tersebut disampaikan Zulhas saat menghadiri Halaqah Kebangsaan Ekonomi Bisnis Pesantren 2026 di Aula Universitas Darul Ulum (Undar) Jombang, Kamis (27/8/2026).

Dalam kesempatan tersebut, Zulhas membandingkan biaya produksi sejumlah komoditas pangan di Indonesia dengan beberapa negara lain. Ia menyebut biaya produksi untuk menghasilkan 1 kilogram beras di Indonesia mencapai sekitar Rp12.000.

Sementara itu, biaya produksi beras di Tiongkok, India, Thailand, dan Vietnam disebut hanya sekitar Rp3.800 per kilogram. Untuk gula pasir, biaya produksinya di Indonesia disebut mencapai Rp14.000 per kilogram, sedangkan di sejumlah negara tersebut sekitar Rp3.700-Rp3.800 per kilogram.

“Orang lebih kaya mengeluarkan lebih sedikit (biaya produksi), kita lebih susah mengeluarkan lebih banyak. Zalim sebetulnya kita ini. Ini hukuman kalau kita enggak bersyukur, hukuman karena kita enggak belajar. Itu ada ilmunya semua yang harus kita pelajari,” jelas Zulhas.

Zulhas kemudian mencontohkan penggunaan teknologi dalam proses penanaman padi. Ia membandingkan metode tradisional yang membutuhkan banyak tenaga kerja dengan penggunaan mesin pertanian modern.

Menurut Zulhas, semasa kecilnya dibutuhkan sekitar 24 orang untuk menanam padi di lahan seluas 1 hektare. Sementara dengan menggunakan mesin tanam padi, satu mesin disebut mampu menanam hingga 24 hektare dalam sehari.

“Jadi memang kita harus belajar. Big business-nya, teknologinya harus. Kampus harus mau belajar, pondok juga harus mau belajar. Kalau kita tidak belajar ini, kita akan tertinggal terus,” ujarnya.

Tidak hanya sektor pertanian, Zulhas juga menyoroti pentingnya teknologi dalam meningkatkan produktivitas peternakan, khususnya ayam petelur.

Ia menyebut produktivitas ayam kampung dalam menghasilkan telur masih jauh dibandingkan ayam hasil rekayasa genetika yang dikembangkan untuk menghasilkan telur dalam jumlah lebih banyak.

Menurut Zulhas, ayam kampung hanya menghasilkan sekitar 1 kilogram telur per tahun karena masa bertelurnya terbatas. Sementara ayam hasil rekayasa genetika dapat bertelur hingga sekitar 320 hari.

“Ayam broiler 30 hari sudah bisa 1,5 Kg, 38 hari 2 Kg ayam itu. Kita setahun sekilo belum tentu, kurus. Jadi ini memang ada ilmunya, sunatullahnya istilahnya yang harus kita pelajari,” terangnya.

“Untuk urusan dunia, Allah SWT Maha Pengasih, Maha Penyayang, siapa pun diberi. Yang tidak percaya Tuhan pun diberi, asal punya hukumnya, punya ilmunya. Termasuk Tiongkok, termasuk Vietnam. Urusan dunia ya, surga, neraka soal lain lagi. Tapi urusan dunia semua diberi,” imbuhnya.

Zulhas juga menilai sektor pendidikan di Indonesia perlu terus menyesuaikan diri dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.

Menurutnya, saat ini sudah banyak pondok pesantren dan kampus yang mampu berkembang dengan mengadopsi sistem pendidikan modern tanpa meninggalkan pendidikan agama.

“Kurikulum Cambridge, tapi malam belajar belajar fiqih, belajar hadis, belajar dan lain-lain. Kampusnya disesuaikan dengan perkembangan ilmu pengetahuan yang ada,” tandasnya.


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *