Sudutkota.id – Jawa Timur semakin memantapkan langkah sebagai pusat manufaktur nasional sekaligus kawasan industri strategis di Asia Tenggara.
Komitmen tersebut ditegaskan Pemerintah Provinsi Jawa Timur melalui penyelenggaraan Manufacturing Surabaya 2026, pameran industri yang menjadi ajang bertemunya pelaku usaha, investor, penyedia teknologi, dan mitra bisnis dari berbagai negara.
Wakil Gubernur Jawa Timur, Emil Elestianto Dardak mengatakan, transformasi industri menjadi kunci agar sektor manufaktur tetap mampu bersaing di tengah perubahan lanskap ekonomi global yang dipicu percepatan digitalisasi dan Revolusi Industri 4.0.
“Jawa Timur merupakan provinsi basis manufaktur, bukan hanya untuk Indonesia tetapi juga untuk Asia Tenggara. Posisi ini harus terus diperkuat melalui inovasi, pemanfaatan teknologi, dan peningkatan efisiensi industri,” kata Emil saat membuka Manufacturing Surabaya 2026 di Grand City Convex Surabaya, Kamis (16/7/2026).
Memasuki penyelenggaraan ke-20, Manufacturing Surabaya mengusung tema “The New Industrial Hub in Eastern Indonesia”. Pameran tersebut menghadirkan lebih dari 300 teknologi industri yang mengintegrasikan sektor manufaktur, energi, dan pertanian, serta diikuti lebih dari 200 perusahaan dari 15 negara dan wilayah.
Menurut Emil, daya saing industri saat ini tidak lagi hanya ditentukan oleh besarnya kapasitas produksi. Kemampuan menghadirkan inovasi, mempercepat digitalisasi, meningkatkan efisiensi energi, dan menerapkan prinsip industri berkelanjutan menjadi faktor utama dalam memenangkan persaingan global.
Karena itu, Pemerintah Provinsi Jawa Timur mendorong pelaku industri mempercepat transformasi menuju proses produksi yang lebih modern sekaligus rendah emisi. Salah satu strategi yang didorong ialah pemanfaatan energi baru terbarukan dan peningkatan efisiensi konsumsi energi di sektor industri.
Ia mencontohkan sejumlah langkah cepat yang dapat dilakukan, mulai dari penggunaan lampu jalan berbasis tenaga surya, pemasangan rooftop solar panel, hingga pengembangan pembangkit listrik tenaga surya untuk mendukung aktivitas industri yang lebih efisien.
Lebih jauh, Emil menilai Manufacturing Surabaya memiliki peran strategis sebagai katalis investasi karena mempertemukan berbagai pemangku kepentingan dalam satu ekosistem. Kehadiran perusahaan teknologi, investor, pelaku manufaktur, akademisi, hingga lembaga riset dinilai mampu mempercepat transfer teknologi sekaligus membuka peluang kerja sama bisnis baru.
“Nilai utama dari pameran ini bukan hanya teknologi yang dipamerkan, tetapi bagaimana seluruh pelaku industri dapat membangun kolaborasi untuk memperkuat ekosistem manufaktur yang mampu menjawab tantangan masa depan,” ujarnya.
Pemerintah Provinsi Jawa Timur optimistis kolaborasi yang terbangun melalui Manufacturing Surabaya 2026 akan memperkuat daya tarik investasi sekaligus meningkatkan daya saing industri manufaktur daerah.




















