Daerah

Waspada Hantavirus, Dinkes Kota Malang Ingatkan Bahaya Penularan dari Tikus

3
×

Waspada Hantavirus, Dinkes Kota Malang Ingatkan Bahaya Penularan dari Tikus

Share this article
Waspada Hantavirus, Dinkes Kota Malang Ingatkan Bahaya Penularan dari Tikus
Kepala Dinas Kesehatan Kota Malang, Husnul Muarif, saat menghadiri kegiatan kesehatan di Kota Malang.(foto:sudutkota.id/mit)

Sudutkota.id – Ancaman penyebaran Hantavirus mulai menjadi perhatian serius pemerintah pusat.

Kementerian Kesehatan RI bahkan telah mengeluarkan peringatan dini setelah ditemukan puluhan kasus di sejumlah wilayah Indonesia hingga Mei 2026.

Menyikapi hal tersebut, Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Malang mulai mengintensifkan edukasi kepada masyarakat agar lebih waspada terhadap penularan virus yang berasal dari tikus dan hewan pengerat tersebut.

Kepala Dinas Kesehatan Kota Malang, Husnul Muarif, mengatakan hingga saat ini pihaknya masih menunggu penjelasan detail dari Kementerian Kesehatan terkait status kasus yang ditemukan di Indonesia, apakah sudah terkonfirmasi penuh atau masih kategori suspek.

“Yang ditemukan secara resmi dari Kementerian Kesehatan itu belum dijelaskan secara detail apakah suspek atau sudah terkonfirmasi. Tapi yang jelas, ini menjadi warning bagi seluruh daerah untuk meningkatkan kewaspadaan,” ujar Husnul saat dikonfirmasi wartawan Sudutkota.id melalui sambungan telepon, Sabtu (9/5/2026).

Berdasarkan data Kemenkes, hingga Mei 2026 tercatat ada 23 kasus Hantavirus di Indonesia dengan tingkat fatalitas mencapai 13 persen. Angka itu dinilai cukup tinggi dan perlu menjadi perhatian masyarakat.

Menurut Husnul, Hantavirus berbeda dengan virus menular biasa karena sumber penularannya berasal dari tikus dan hewan pengerat. Virus dapat menyebar melalui air kencing, ludah, maupun kotoran tikus yang terhirup manusia atau masuk melalui kontak langsung.

“Penularannya bisa lewat air kencing tikus, ludah, atau kotorannya. Bahkan air kencing yang sudah mengering bisa bercampur udara lalu terhirup manusia. Itu yang berbahaya,” jelasnya.

Selain melalui udara, penularan juga dapat terjadi akibat kebiasaan buruk masyarakat yang tidak menjaga kebersihan tangan setelah beraktivitas di lingkungan yang terkontaminasi.

“Kadang orang belum cuci tangan sudah memegang mata, hidung, atau mulut. Itu bisa menjadi pintu masuk virus. Bisa juga masuk melalui luka di kulit,” katanya.

Husnul menjelaskan, gejala awal Hantavirus sekilas mirip infeksi virus pada umumnya. Penderita biasanya mengalami demam tinggi, nyeri otot, badan lemas, sakit tenggorokan hingga rasa sakit di seluruh tubuh. Namun, yang membedakan, Hantavirus memiliki target organ utama pada ginjal.

“Keluhan berat biasanya mengarah ke gangguan ginjal. Air kencing mulai tidak normal, jumlah urine sedikit, hingga mengarah pada gagal ginjal. Itu yang menyebabkan tingkat fatalitasnya cukup tinggi,” tegasnya.

Ia bahkan menyebut tingkat fatalitas Hantavirus dalam sejumlah literatur medis disebut lebih tinggi dibanding Covid-19.

Karena itu, Dinkes Kota Malang kembali mengingatkan masyarakat untuk menerapkan pola hidup bersih dan sehat, termasuk mengaktifkan kembali kebiasaan protokol kesehatan yang sempat diterapkan saat pandemi Covid-19.

“Yang paling penting memakai masker, terutama saat membersihkan tempat yang berpotensi menjadi sarang tikus seperti gorong-gorong, saluran irigasi, gudang, atau tempat lembap lainnya,” katanya.

Selain masker, masyarakat juga diminta menggunakan alas kaki dan perlindungan tubuh saat membersihkan area rawan tikus agar tidak terjadi kontak langsung dengan kotoran maupun air kencing hewan pengerat.

Menurut Husnul, perubahan cuaca dan musim kemarau diduga turut mempengaruhi peningkatan risiko penyebaran virus tersebut. Kondisi udara panas dinilai dapat mempercepat penguapan partikel dari kotoran atau air kencing tikus yang kemudian beterbangan di udara.

“Musim panas atau kemarau bisa memicu penguapan partikel itu. Makanya masyarakat harus lebih hati-hati,” imbuhnya.

Meski demikian, hingga saat ini Dinkes Kota Malang memastikan belum ditemukan kasus Hantavirus di wilayah Kota Malang.

“Untuk Kota Malang mudah-mudahan tidak ditemukan. Tapi masyarakat tetap harus waspada dan menjaga kebersihan lingkungan,” pungkasnya.


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *