Sudutkota.id – Memasuki pertengahan tahun 2026, para petani tembakau di wilayah utara Sungai Brantas, Kabupaten Jombang, Jawa Timur, mulai aktif mempersiapkan musim tanam tembakau 2026.
Persiapan dilakukan dengan pengolahan lahan dan pembibitan, menyusul prediksi cuaca normal dari BMKG yang dinilai mendukung pertumbuhan tanaman tembakau.
Dinas Pertanian Kabupaten Jombang menargetkan luas tanam tembakau tahun ini mencapai 6.000 hingga 6.500 hektare. Angka tersebut meningkat dibanding tahun 2025 yang mengalami penurunan akibat fenomena kemarau basah.
Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Jombang, Moch Rony, mengatakan pada musim tanam tahun lalu sekitar 1.000 hektare lahan tembakau beralih fungsi menjadi lahan padi dan palawija karena faktor cuaca.
“Pada tahun 2025 lalu terjadi kemarau basah sehingga banyak petani mengalihkan lahan ke tanaman padi dan palawija. Mudah-mudahan tahun 2026 ini sesuai prediksi BMKG cuacanya normal sehingga sangat mendukung pertumbuhan tembakau,” ujar Rony, Minggu (10/5/2026).
Menurutnya, kondisi cuaca menjadi faktor utama keberhasilan budidaya tembakau di Kabupaten Jombang. Jika musim berjalan normal, luas lahan tembakau diperkirakan kembali stabil.
“Kami berharap musim tanam tembakau 2026 berjalan baik dan luasan lahan bisa kembali normal di kisaran 6.000 sampai 6.500 hektare,” katanya.
Rony menegaskan, Pemerintah Kabupaten Jombang melalui Dinas Pertanian terus melakukan pendampingan kepada petani tembakau.
Pendampingan dilakukan bersama Asosiasi Petani Tembakau Indonesia (APTI) Jombang guna meningkatkan produktivitas dan kualitas hasil panen.
Kabupaten Jombang sendiri memiliki dua varietas tembakau unggulan yang telah dilepas, yakni Jinten Pakpie 1 dan tembakau jenis Manilo.
“Kami berharap tembakau Jombang bisa menjadi tuan rumah di daerah sendiri dan mampu meningkatkan produksi petani,” tegasnya.
Selain pendampingan teknis, petani juga mendapat dukungan melalui Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau (DBHCHT). Bantuan tersebut berupa pupuk non subsidi, alat perajang tembakau, hingga rumah jamuran untuk proses pengeringan tembakau.
“Ada bantuan pupuk NPK non subsidi, alat perajang tembakau, dan rumah jamuran untuk mendukung peningkatan produksi tembakau petani,” tambah Rony.
Sementara itu, Wakil Ketua APTI Jombang, Tek Diwanto, mengatakan saat ini para petani di lima kecamatan sentra tembakau wilayah utara Brantas masih fokus pada tahap persiapan lahan dan pembibitan.
“Sekarang masih tahap persiapan. Lima kecamatan di utara Brantas seperti Ploso, Kabuh, Kudu, Ngusikan, dan Plandaan sedang menyiapkan lahan sekaligus pembibitan,” ujarnya.
Lima kecamatan tersebut selama ini dikenal sebagai sentra produksi tembakau di Kabupaten Jombang. Para petani optimistis target luas tanam tembakau tahun 2026 dapat melampaui capaian tahun sebelumnya seiring prediksi cuaca yang lebih bersahabat.




















