Daerah

Perang Melawan Stunting Dimulai dari Dapur, Dudung Jadikan Prokids Malang Contoh Nasional

18
×

Perang Melawan Stunting Dimulai dari Dapur, Dudung Jadikan Prokids Malang Contoh Nasional

Share this article
Perang Melawan Stunting Dimulai dari Dapur, Dudung Jadikan Prokids Malang Contoh Nasional
Kepala Staf Presiden RI, Dudung Abdurachman, memberikan keterangan kepada awak media usai meninjau Dapur Yayasan Prokids Anak Indonesia di Sawojajar, Kota Malang, Jumat (12/6/2026).(foto:sudutkota.id/mit)

Sudutkota.id – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) bukan sekadar membagikan makanan kepada anak-anak sekolah.

Di balik program unggulan Presiden RI tersebut, pemerintah tengah menjalankan misi besar: memutus rantai stunting dan menyiapkan generasi emas Indonesia di masa depan.

Pesan itu ditegaskan Kepala Staf Presiden (KSP), Dudung Abdurachman saat meninjau Dapur Yayasan Prokids Anak Indonesia di kawasan Sawojajar, Kota Malang, Jumat (12/6).

Dalam kunjungan tersebut, Dudung bahkan menyebut dapur MBG yang dikelola Yayasan Prokids layak menjadi percontohan nasional karena dinilai mampu menghadirkan makanan bergizi dengan standar yang baik, inovatif, dan berorientasi pada kualitas sumber daya manusia.

“Kita jangan terjebak hanya membicarakan banyaknya dapur yang dibangun. Yang lebih penting adalah kualitas makanan yang diterima anak-anak dan dampaknya terhadap penurunan stunting,” tegas Dudung.

Menurut mantan Panglima Kostrad itu, evaluasi Program MBG kini memasuki fase yang lebih serius. Dalam rapat koordinasi tingkat nasional yang dipimpin Menteri Koordinator Bidang Pangan dan dihadiri sejumlah menteri terkait, pemerintah menyoroti kualitas pelaksanaan program, mulai dari standar dapur hingga mutu makanan yang disajikan.

Dudung mengungkapkan bahwa Presiden menginginkan Program MBG benar-benar menjadi instrumen pembangunan manusia, bukan sekadar proyek penyediaan makanan.

“Jangan sampai orientasinya hanya kuantitas. Dapur bertambah banyak, tetapi kualitasnya tidak terjaga. Yang diinginkan Presiden adalah lahirnya generasi sehat, cerdas, dan kuat melalui asupan gizi yang baik,” ujarnya.

Saat berkeliling melihat proses produksi makanan, Dudung mengaku terkesan dengan berbagai inovasi yang dilakukan dapur Prokids. Salah satunya adalah pengolahan bahan pangan alternatif melalui proses fermentasi yang dipadukan dengan buah-buahan sehingga menghasilkan tekstur menyerupai daging.

Menurutnya, inovasi tersebut menjadi bukti bahwa pemenuhan kebutuhan protein tidak harus selalu bergantung pada bahan pangan konvensional yang mahal.

“Ini sangat bagus. Tidak harus setiap hari berpikir memotong sapi. Yang penting nilai gizinya terpenuhi dan anak-anak mendapatkan asupan yang dibutuhkan untuk tumbuh kembang mereka,” katanya.

Dudung menegaskan bahwa tujuan utama Program MBG adalah menekan angka stunting nasional yang hingga kini masih menjadi tantangan besar bagi Indonesia.

Berdasarkan data pemerintah, prevalensi stunting nasional masih berada di kisaran 21 persen. Karena itu, keberhasilan program akan diukur dari dampaknya terhadap peningkatan kualitas kesehatan dan pertumbuhan anak, terutama pada usia emas perkembangan.

“Yang sedang kita bangun adalah manusia Indonesia masa depan. Anak-anak yang hari ini mendapatkan makanan bergizi akan menjadi generasi produktif 10, 20 bahkan 30 tahun mendatang. Di situlah letak keberhasilan program ini,” jelasnya.

Ia menambahkan, fokus pembangunan sumber daya manusia harus dimulai sejak usia dini. Karena itu, kualitas makanan yang diberikan melalui program MBG harus benar-benar memenuhi kebutuhan gizi anak.

Dalam kesempatan itu, Dudung secara terbuka memberikan apresiasi terhadap pengelolaan Dapur Yayasan Prokids Anak Indonesia.

Ia mengaku menemukan sejumlah dapur MBG di daerah lain yang masih membutuhkan banyak pembenahan. Karena itu, model pengelolaan yang diterapkan di Prokids dinilai dapat menjadi referensi bagi dapur-dapur MBG di berbagai wilayah Indonesia.

“Saya melihat dapur di Malang ini sangat baik. Bahkan bisa menjadi contoh bagi dapur-dapur lain. Standar seperti inilah yang harus terus dikembangkan,” ungkapnya.

Selain memuji kualitas dapur, Dudung juga mengingatkan pentingnya keterlibatan pemerintah daerah dalam mengawal pelaksanaan Program MBG.

Menurutnya, keberhasilan program tidak bisa hanya dibebankan kepada Badan Gizi Nasional (BGN) atau pengelola dapur semata. Dinas kesehatan, dinas pekerjaan umum, hingga perangkat daerah lainnya harus ikut mengawasi dan memastikan seluruh standar terpenuhi.

“Pemerintah daerah harus aktif memantau dan mengawasi. Ini bukan sekadar urusan dapur, tetapi investasi besar untuk masa depan bangsa,” tegasnya.

Sebagai Kepala Staf Presiden, Dudung memastikan pihaknya akan terus melakukan pemantauan langsung terhadap perkembangan Program Makan Bergizi Gratis di berbagai daerah.

“Kita sedang berperang melawan stunting. Perang itu dimulai dari dapur-dapur yang mampu menyediakan makanan berkualitas bagi anak-anak Indonesia. Karena yang kita bangun hari ini bukan hanya dapur, tetapi masa depan bangsa,” pungkasnya.


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *