Daerah

Padang mBulan Mengguncang Alun-Alun Malang, Arif Bidik Wisatawan Menginap Lebih Lama

6
×

Padang mBulan Mengguncang Alun-Alun Malang, Arif Bidik Wisatawan Menginap Lebih Lama

Share this article
Padang mBulan Mengguncang Alun-Alun Malang, Arif Bidik Wisatawan Menginap Lebih Lama
Wali Kota Malang, Kapolresta Malang Kota, Komandan Kodim 0833, Plt Sekda Kota Malang, dan Kadisporapar Kota Malang tampil bersama di atas satu panggung dan ikut bernyanyi dalam gelaran Padang mBulan dan Bazar Usaha Pariwisata 2026 di Alun-Alun Merdeka Kota Malang.(Sudutkota.id/Agus Demit)

KOTA MALANG, Sudutkota.id – Alun-Alun Merdeka Kota Malang mendadak berubah menjadi panggung pesta rakyat, Minggu (4/10/2026) malam.

Ratusan penonton bersama jajaran organisasi perangkat daerah (OPD), Wali Kota Malang, Kapolresta Malang Kota, Komandan Kodim 0833, Plt Sekda hingga Kepala Disporapar Kota Malang larut dalam kemeriahan.

Mereka bahkan ikut bernyanyi dan berjoget bersama saat artis bintang tamu Yeni Inka membawakan lagu pamungkas “Bojo Anyar”.

Suasana tanpa sekat antara pejabat dan masyarakat itu menjadi salah satu daya tarik gelaran Padang mBulan dan Bazar Usaha Pariwisata 2026. Namun, di balik kemeriahan panggung hiburan tersebut, Pemerintah Kota Malang membawa misi yang lebih besar, menjadikan hiburan malam sebagai magnet wisatawan agar datang, menikmati suasana kota, dan tinggal lebih lama sehingga perputaran ekonomi ikut bergerak.

Kepala Dinas Kepemudaan, Olahraga dan Pariwisata (Disporapar) Kota Malang, Arif Tri Sastyawan, S.STP., M.Si, mengatakan gelaran tersebut merupakan salah satu terobosan untuk menghadirkan hiburan malam yang tidak hanya dinikmati warga Malang Raya, tetapi juga mampu menarik wisatawan dari luar daerah hingga mancanegara.

“Ini salah satu terobosan dari Disporapar Kota Malang. Kami menginginkan ada hiburan malam yang kami sediakan bukan hanya untuk warga Kota Malang dan Malang Raya, tetapi juga untuk wisatawan,” ujar Arif.

Menurutnya, Kota Malang membutuhkan ruang hiburan yang mampu menghidupkan suasana malam sekaligus memperkuat daya tarik pariwisata. Konsep yang diusung tidak sebatas pertunjukan musik, tetapi juga memadukan tari-tarian, budaya lokal dan kuliner khas Malang.

“Wisatawan yang hadir, baik wisatawan nusantara maupun asing, ketika malam Minggu, malam Jumat, atau malam Sabtu ada tempat untuk nongkrong menikmati hiburan musik, tari-tarian, budaya Malang, dan tentunya kuliner Malang,” jelasnya.

Arif mengungkapkan, respons masyarakat terhadap gelaran perdana tersebut cukup besar. Pengunjung yang datang tidak hanya berasal dari Malang Raya, tetapi juga dari luar daerah, termasuk Kediri.

“Alhamdulillah hari ini luar biasa banyak yang hadir, bukan hanya dari Malang Raya, tapi tadi juga ada yang dari Kediri dan luar kota,” katanya.

Meski demikian, bagi Arif, ramainya penonton bukan satu-satunya ukuran keberhasilan. Target yang ingin dicapai adalah membuat wisatawan memperpanjang masa tinggal di Kota Malang.

“Tujuannya, dengan mendatangkan wisatawan, mereka bisa menginap lebih lama di Kota Malang. Ketika wisatawan menginap lebih lama, ada multiplier effect. Mereka pasti belanja kuliner, UMKM jalan, hotel jalan, resto dan kafe juga jalan,” ungkapnya.

Menurut Arif, aktivitas ekonomi yang tumbuh dari kunjungan wisatawan tersebut berpotensi menjadi salah satu penyumbang Pendapatan Asli Daerah (PAD) Kota Malang.

“Ini yang nanti akan menjadi salah satu penyumbang PAD Kota Malang,” tegasnya.

Arif menilai pengembangan pariwisata tidak cukup hanya menggelar acara yang ramai dikunjungi. Pemerintah harus mampu mengubah potensi keramaian menjadi aktivitas ekonomi yang memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.

Karena itu, ia mendorong penerapan konsep entrepreneurship government atau pemerintahan wirausaha dalam pengelolaan program pariwisata Kota Malang.

“Makanya saya sampaikan, konsep pemerintahan wirausaha atau entrepreneurship government itu harus dijalankan di Kota Malang, mengingat sektor pariwisata adalah salah satu penyumbang PAD saat ini,” ujarnya.

Ke depan, Disporapar berencana menghadirkan agenda hiburan dengan genre musik yang lebih beragam. Musik ambyar yang menjadi daya tarik pada gelaran perdana tidak akan menjadi satu-satunya sajian.

“Ke depan, event-event ini akan sering kita gelar. Bukan hanya musik ambyar, tapi kita akan tampilkan genre yang beragam seperti rock, pop, keroncong, dan jazz agar mengakomodasi selera semua orang,” paparnya.

Namun, rencana tersebut masih akan dikomunikasikan dengan Wali Kota Malang. Arif menegaskan, setiap kegiatan harus memiliki konsep dan lokasi yang jelas sebelum ditindaklanjuti.

“Konsep dan tempatnya harus jelas, dan ini akan kami laporkan ke Pak Wali Kota. Kalau beliau mengizinkan, akan segera kita tindak lanjuti untuk memajukan pariwisata Kota Malang,” katanya.

Di tengah upaya menarik wisatawan, Arif juga ingin membangun citra Kota Malang sebagai kota yang terbuka dan ramah. Salah satu caranya melalui konsep panggung hiburan yang tidak memisahkan pejabat dengan masyarakat.

“Konsep seperti ini tidak ada batasan antara pemerintah, Pak Wali, perangkat daerah, dengan masyarakat. Kita di satu tempat dan tidak ada panggung khusus atau area terpisah untuk tamu VIP sementara masyarakat di bawah,” tegasnya.

Menurut Arif, konsep tersebut perlu diubah agar kegiatan pemerintah benar-benar menjadi ruang bersama yang dapat dinikmati seluruh lapisan masyarakat.

“Konsep itu harus diubah. Malang ini benar-benar ramah untuk semua wisatawan,” ujarnya.

Ia juga menekankan bahwa pengembangan pariwisata tidak bisa hanya dibebankan kepada Disporapar. Kolaborasi lintas OPD, pelaku usaha, stakeholder pariwisata hingga unsur Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) menjadi bagian penting dalam menciptakan destinasi yang nyaman.

“Makanya Disporapar tidak bisa berjalan sendiri. Kami harus menggandeng semua perangkat daerah, stakeholder pariwisata, dan tentunya dukungan Forkopimda,” katanya.

Arif menyebut keamanan sebagai salah satu modal utama Kota Malang dalam menarik wisatawan, terutama mereka yang ingin menikmati suasana kota hingga malam hari.

“Contohnya, kenapa orang nyaman di Kota Malang? Karena keamanan. Malang punya hospitality yang bagus. Orang merasa aman dan nyaman jalan keliling jam 10 atau 11 malam di sini karena keamanannya terjamin,” jelasnya.

Sebaliknya, tanpa jaminan keamanan, wisatawan akan merasa khawatir untuk beraktivitas pada malam hari.

“Kalau tidak aman, orang pasti takut. Makanya dukungan semua elemen sangat penting untuk menciptakan suasana kondusif,” tegasnya.

Di balik kemeriahan acara, Arif mengakui masih ada sejumlah aspek yang perlu dibenahi. Salah satunya adalah menjaga kebersihan dan kelestarian taman Alun-Alun Merdeka yang menjadi lokasi kegiatan.

Ia mengaku telah berkoordinasi dengan Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Malang untuk memastikan kawasan tersebut kembali bersih setelah acara.

“Tadi saya sudah sampaikan ke Kadis DLH. Kami dan tim akan sama-sama menjaga agar taman dan alun-alun yang awalnya bersih, kita kembalikan bersih,” ungkapnya.

Arif juga berencana memasang pembatas di area taman untuk mengantisipasi dampak kegiatan terhadap fasilitas publik. Ia tidak menampik bahwa persiapan event perdana tersebut berlangsung dalam waktu yang sangat singkat.

“Ke depannya ini juga jadi koreksi kami. Nanti untuk area taman akan kita beri pembatas. Event pertama kali ini terus terang persiapannya sangat singkat, hanya satu minggu,” katanya.

Persiapan dilakukan secara cepat setelah manajemen penyanyi Yeni Inka memastikan kesediaannya tampil pada 4 Oktober.

“Kami kebut semuanya sejak manajemen Mbak Yeni Inka mengonfirmasi bisa hadir tanggal 4,” lanjutnya.

Meski dengan waktu persiapan terbatas, Arif menilai pelaksanaan acara berlangsung aman dan mendapat sambutan positif dari masyarakat.

“Alhamdulillah gebrakan perdana ini luar biasa dan diterima masyarakat. Datang aman, pulang aman. Tidak ada anak hilang, dan tidak ada laporan motor tertukar karena teman-teman Dishub dan Satpol PP juga standby membantu kami,” ujarnya.

Arif menegaskan, keberhasilan Padang mBulan tidak boleh hanya dilihat dari padatnya penonton atau meriahnya suasana panggung. Disporapar akan melakukan pemetaan untuk mengetahui sejauh mana kegiatan tersebut menghasilkan perputaran ekonomi.

“Setelah ini kami akan memetakan dan mendata perputaran ekonomi yang dihasilkan, mulai dari parkir, hotel, kafe, hingga UMKM,” jelasnya.

Hasil pendataan tersebut akan dilaporkan kepada Wali Kota Malang sebagai bahan evaluasi sekaligus dasar untuk mengukur efektivitas penggunaan anggaran pemerintah.

“Data ini akan saya laporkan ke Pak Wali Kota untuk mengukur efektivitas anggaran,” katanya.

Menurut Arif, penggunaan APBD untuk menyelenggarakan kegiatan pariwisata harus disertai ukuran dampak yang jelas. Pemerintah perlu mengetahui manfaat ekonomi yang dihasilkan dibandingkan dengan dana yang dikeluarkan.

“Kalau kita mengeluarkan dana APBD sekian ratus juta misalnya, kita harus ukur berapa kembaliannya, impact atau outcome untuk Kota Malang,” tegasnya.

Ia berharap pengukuran tersebut menjadi acuan dalam menentukan arah penyelenggaraan event pariwisata berikutnya, sehingga anggaran yang dibelanjakan benar-benar memberikan hasil bagi daerah.

“Ini akan jadi barometer ke depan tentang bagaimana Pemkot membelanjakan anggarannya agar mendapatkan hasil yang lebih terukur,” pungkas Arif.


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *