Daerah

Musim Kemarau 2026 Berpotensi Ekstrem, Ribuan Hektare Sawah Jombang Terancam

10
×

Musim Kemarau 2026 Berpotensi Ekstrem, Ribuan Hektare Sawah Jombang Terancam

Share this article
Musim Kemarau 2026 Berpotensi Ekstrem, Ribuan Hektare Sawah Jombang Terancam
Tanaman padi di sawah milik petani Jombang.(foto:sudutkota.id/lok)

Sudutkota.id – Prediksi fenomena El Nino 2026 yang berpotensi menurunkan curah hujan secara signifikan mulai diwaspadai Pemerintah Kabupaten Jombang.

Melalui Dinas Pertanian (Disperta), langkah antisipasi disiapkan untuk mencegah kekeringan musim kemarau 2026 yang dapat berdampak pada produksi tanaman padi petani Jombang.

Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Jombang, M. Rony, menjelaskan bahwa berdasarkan prakiraan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), fenomena El Nino 2026 diperkirakan terjadi pada pertengahan tahun dengan intensitas lemah. Meski demikian, dampaknya tetap perlu diantisipasi sejak dini.

“Curah hujan diprediksi turun antara 20 hingga 40 persen. Puncak musim kemarau diperkirakan berlangsung pada Juli sampai September 2026, sehingga berpotensi mengganggu musim tanam kedua dan ketiga,” ujarnya, Sabtu (18/4/2026).

Di Kabupaten Jombang, pola tanam padi umumnya terbagi dalam tiga musim, yakni musim hujan (November–Maret), kemarau pertama (April–Juli), serta kemarau kedua (Agustus–Oktober).

“Dampak El Nino terhadap pertanian diprediksi paling terasa pada musim tanam kedua dan ketiga,” katanya.

Selain faktor iklim, potensi kekeringan di Jombang juga dipicu oleh proyek infrastruktur. Di antaranya rehabilitasi Dam Jatimlerek di Kecamatan Plandaan serta perbaikan saluran irigasi Mrican Kanan yang dijadwalkan berlangsung pada Agustus hingga September 2026.

“Untuk wilayah terdampak rehabilitasi irigasi, kami rekomendasikan petani tidak menanam padi pada musim tanam ketiga,” tegasnya.

Sejumlah wilayah yang berpotensi terdampak kekeringan antara lain Kecamatan Bandar Kedungmulyo, Megaluh, sebagian Tembelang, Peterongan, hingga Kesamben.

Selain itu, daerah irigasi Siman yang melayani ribuan hektare lahan di 12 kecamatan juga menjadi perhatian karena ketergantungan tinggi terhadap pasokan air.

Belajar dari pengalaman sebelumnya, kekeringan sempat melanda wilayah Sumobito, Peterongan, Perak, hingga Gudo pada musim kemarau. Bahkan, sebagian lahan mengalami puso atau gagal panen akibat minimnya pasokan air.

Untuk mengantisipasi dampak El Nino 2026 di Jombang, Disperta telah menyiapkan sejumlah langkah strategis. Di antaranya percepatan masa tanam selama masih tersedia hujan, optimalisasi tampungan air seperti embung dan waduk, serta penyediaan sarana pengairan seperti sumur dan pompa air.

Selain itu, petani juga didorong menyesuaikan pola tanam dengan menggunakan varietas padi tahan kekeringan, serta memaksimalkan penggunaan pupuk organik guna menjaga kelembaban tanah.

“Kami juga terus berkoordinasi dengan Kementerian Pertanian, pemerintah provinsi, hingga instansi teknis seperti PUPR dan BBWS. Sosialisasi kepada petani juga kami intensifkan melalui petugas lapangan,” paparnya.

Ia menegaskan, kesiapan petani menjadi kunci dalam menghadapi ancaman musim kemarau panjang akibat El Nino.

“Intinya, kami ingin memastikan petani siap menghadapi potensi kekeringan. Dengan langkah antisipasi yang tepat, dampak El Nino bisa ditekan semaksimal mungkin,” pungkasnya.


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *